Hati-hati di Eropa Ada Gelombang Kedua Corona, Jokowi: Kita Jangan Teledor

| 02 Nov 2020 19:20
Hati-hati di Eropa Ada Gelombang Kedua Corona, Jokowi: Kita Jangan Teledor
Presiden Joko Widodo (Dok. BPMI)

ERA.id - Presiden Joko Widodo mewanti-wanti agar jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju jangan sampai teledor menghadapi pandemi COVID-19. Sebabnya, saat ini beberapa negara di Eropa sudah mulai mengalami gelombang kedua wabah virus korona.

Hal itu dia sampaikan saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/11/2020).

"Saya ingin menekankan sekali lagi karena di Eropa sudah muncul gelombang kedua (pandemi COVID-19) yang naiknya sangat drastis sekali. Jadi jangan sampai kita teledor, jangan kita kehilangan kewaspadaan sehingga kejadian itu terjadi di negara kita," tegas Jokowi.

Dia menyebutkan angka kasus di negara-negara Eropa seperti Prancis, Italia, Inggris, Jerman, dan Spanyol mengalami peningkatkan yang cukup drastis.

"Ini agar menjadi perhatian kita semuanya dan kehati-hatian kita semuanya," kata Jokowi.

Lebih lanjut, mantan Wali Kota Solo ini mengatakan bahwa kasus COVID-19 di Indonesia mengalami perbaikan. Dia memaparkan, per 1 November 2020, jumlah kasus aktif COVID-19 tercatat 13,78 persen lebih rendah dari rata-rata dunia yaitu 25,22 persen.

Dia berharap ke depannya, penambahan kasus COVID-19 bisa lebih ditekan. "Ini yang terus harus ditekan sehingga angka 13,78 persen ini bs kita perkecil lagi," ujar Jokowi.

Kasus sembuh, kata Jokowi, juga mengalami peningkatakan. Saat ini persentase-nya 82,84 persen, sementara rata-rata dunia 72 persen. Sedangkan tingkat kematian akibat COVID-19 masih di angka 3,38 persen atau lebih tinggi dari rata-rata dunia yaitu 2,5 persen.

Berkaca dari hasil tersebut, Jokowi menambahkan, agar para menterinya juga tetap fokus menyeimbangkan antara kesehatan dan ekonomi. Dia menekankan, perlu kehati-hatian dalam menentukan skala prioritas di tengah pandemi COVID-19.

"Kita harus tetap fokus untum mengatur menjaga keseimbangan titik keseimbangan antara penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi. Ini yang saya kira sudah berpuluh-puluh kali saya sampaikan, tapi perlu sekali lagi ini saya tekankan," tegasnya.

"Sekali lagi hati-hati harus menjadi perhatian kita semuanya dan kehati-hatian kita semuanya," pungkasnya. 

Rekomendasi