Berbagai Sumber Polusi Udara Jakarta, Apa Tindakan yang Dibutuhkan?

| 18 Aug 2023 20:05
Berbagai Sumber Polusi Udara Jakarta, Apa Tindakan yang Dibutuhkan?
Ilustrasi polusi udara Jakarta (Antaranews)

ERA.id - Akhir-akhir ini tingkat polusi udara di Jakarta jadi sorotan. Yang selanjutnya jadi soal adalah apa saja sumber polusi udara Jakarta dan bagaimana cara mengatasinya?

Sejumlah pihak belum sepaham terkait penyebab utama polusi udara di Jakarta. Ketidaksepahaman terkait penyebab utama berdampak pada solusi. Keputusan atau kebijakan solusi penanganan berisiko tidak tepat sasaran jika penyebab utama polusi tidak diketahui secara jelas.

Dikutip Era.id dari berbagai sumber, ada beberapa hal yang dinilai menjadi sumber polusi udara di Jakarta. Berikut ini adalah riciannya.

Berbagai Sumber Polusi Udara Jakarta

·         Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, mengatakan bahwa pembangkit listrik merupakan salah satu penyebab polusi udara di Jakarta.

"Lihat polusi udara di Jakarta karena tiga hal. Satu kendaraan, kedua pabrik, ketiga pembangkit tenaga listrik," terang Erick dalam seminar yang digelar di Auditorium Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta Selatan, Selasa (15/8/2023).

Dilansir CNN Indonesia, pemetaan Walhi bersama Greenpeace pada 2017 menunjukkan bahwa 10 PLTU berbahan bakar batu bara yang berlokasi di Banten menjadi penyumpang polusi di Jakarta. PLTU tersebut adalah PLTU Lestari Banten Energi, PLTU Suralaya unit 1-7, PLTU Suralaya unit 8, PLTU Labuan unit 1-2, PLTU Merak Power Station unit 1-2, PLTU Lontar unit 1-3, PLTU Lontar Exp, PLTU Babelan unit 1-2, PLTU Pindo Deli dan Paper Mill II, serta PLTU Pelabuhan Ratu unit 1-3.

·         Transportasi

Data Public Expose: Strategi Pengendalian Pencemaran Udara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta 2022 menunjukkan bahwa kendaraan bermotor jadi sumber polusi udara di Jakarta yang paling signifikan. Ada empat sektor yang diperhitungkan terkait sumber polusi, yaitu transportasi, industri energi, manufaktur, serta residensial dan komersial.

"Dari inventarisasi emisi tersebut, sektor transportasi menjadi kontributor terbesar terutama untuk polutan NOx, CO, PM10, PM2.5. SO2 didominasi oleh sektor industri."

Ilustrasi kendaraan di jalanan Jakarta (antaranews)

Penelitian ditujukan terhadap tujuh jenis polutan, yaitu karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida (SO2), partikulat udara 10 mikrometer (PM10), partikulat udara 2,5 mikrometer (PM2,5), karbon hitam (BC), dan non-methane volatile organic compounds (NMVOC).

Kendaraan bermotor menyumbang CO sebanyak 28.317 ton atau 96,36 persen dari total CO yang bersumber dari beberapa sektor.

Sementara, penelitian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta bersama Vital Strategies tahun 2020 menunjukkan bahwa sumber terbesar polusi di Jakarta adalah sektor transportasi untuk polutan PM2.5, NOx, dan CO. Kontributor kedua adalah industri pengolahan terutama polutan SO2.

Temuan ini berbanding lurus dengan sejumlah kajian yang sebelumnya dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Puji Lestari dari Insitut Teknologi Bandung (ITB) pada 2019. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa sektor transportasi menjadi kontributor terbesar polutan CO (93%), NOx (57%), dan PM2.5 (46%). Sementara, industri pengolahan merupakan kontributor utama polutan SO2 (43%) dan kontributor terbesar kedua untuk transportasi (43%).

·         Pengaruh El Nino

Polusi udara menjadi semakin parah karena efek fenomena iklim El Nino karena membuat hujan semakin jarang terjadi. Hal tersebut dijelaskan oleh Profesor Meteorologi dan Klimatologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edvin Aldrian.

"Betul (ada hubungan dengan El Nino). Jadi biasanya karena berhubungan dengan kebakaran hutan," terang Edvin, Selasa (8/8).

Dia menerangkan, jika saat musim kemarau di Jakarta banyak ladang yang dibakar maka banyak asap yang mengambang. Saat hujan makin jarang, lanjut Edvin, wet deposition untuk menghilangkan gas dan partikel dari atmosfer jadi hilang.

"Karena tidak hujan, jadi dia banyak sekali polutan yang beredar di atmosfer," terangnya.

Rekomendasi