ERA.id - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan lewat Kesbangpol berkasus lewat seleksi tiga besar calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) menuju tingkat Nasional.
Adalah Caitlyn Yvaine Lesmana, siswi SMA Cerdas Bangsa milik Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa Jl. Masjid Raya, Kota Makassar. Dia gugur dalam seleksi tersebut. Tak jelas apa sebabnya.
Pemprov Sulsel yang dikomandoi adik Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Gubernur Sudirman Sulaiman, lalu dinilai diskriminatif kepada siswi keturunan Thionghoa dan berasal dari sekolah swasta tersebut.
Tak lolosnya Caitlyn membuat dua siswi dari Kabupaten Jeneponto masuk jadi pengganti. Anehnya, mereka tak pernah diumumkan dalam urutan 10 besar calon Paskibraka Nasional. Apa ukuran agar bisa masuk mengganti Caitlyn juga tak jelas.
Meresposn itu, Kepala Badan Kesbangpol Sulsel, Bustanul mengaku tak menganulir Caitlyn. "Tidak ada proses anulir ataupun penggantian apalagi menyangkut etnis Tionghoa," singkat Bustanul kepada ERA beberapa waktu lalu.
"Kalau ada proses anulir, logikanya ada pengumuman awal, kemudian dikeluarkan lagi pengumuman baru untuk menganulir atau menggantikan, sementara proses ini kan tidak ada. Memang tidak terpilih saja ke pusat (Istana Negara)," tambahnya.
Berdasarkan video yang diunggah akun TikTok @orangdalam.update, Caitlyn tak terpilih lantaran tak mahir berbahasa daerah (Bugis-Makassar) serta bukan putri asli daerah dan berasal dari sekolah swasta (yayasan).
Sebab masalah ini, DPRD Sulsel pun menyorot dan segera membahasnya dalam rapat dengar pendapat (RDP). Ketua DPRD Sulsel, Rachmatika Dewi membenarkan. "Ada suratnya untuk RDP ini," kata Cicu sapaan akrabnya.
Sementara pendamping Catlyn yang menjadi Ketua Paskibraka Indonesia Kota Makassar, Muhammad Fahri, mengeluhkan adanya oknum panitia seleksi yang sengaja memilih perwakilan dari daerah lain.
"Ada oknum tidak setuju kalau Makassar banyak yang masuk 3 besar dengan alasan 'berikan kesempatan daerah lain'," sebut Fahmi.
Katanya panitia tidak mengedepankan aturan yang semestinya seperti mengutamakan nilai yang diraih oleh peserta yang lolos dalam beberapa tahap seleksi. Ia menggarisbawahi bahwa setiap daerah boleh mengirimkan utusan dari daerah yang sama (Makassar). Tapi pihak penyelenggara seleksi Paskibraka mengabaikan nilai yang sudah ditentukan sebelumnya.
"Tim penilai kan banyak unsur (terlibat), teman-teman tidak bisa masuk dalam ruangan (diusir) penilaian," ungkapnya.
Fahri melanjutkan, lokasi pelaksanaan seleksi calon Paskibraka dilaksakan di Gor Sudiang secara terbuka.
"Pengumuman penilaian ini kenapa tertutup dan dilaksanakan dua kali? Satu kali dulu, baru dikeluarkan pendamping. Penilaian selanjutnya baru diumumkan," tutur Fahri.
Munafri kasihan
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin meminta agar seleksi lebih transparan dan adil. "Peserta dari Makassar ada, ini delegasi dari Kota Makassar yang dikirim seleksi. Masa tidak ada? Kita berharap hasil seleksi semuanya adil," ujar Munafri yang akrab disapa Appi, Rabu kemarin.
Munafri prihatin atas situasi yang dialami Caitlyn. Walau tidak mengetahui secara detail proses penilaian di tingkat Pemprov Sulsel, Appi memerhatikan info soal reposisi peserta.
"Saya tidak tahu persis apa kendala, tapi kan kami Pemerintah Kota punya perhatian, apalagi dengar-dengar ada reposisi. Padahal nilai siswa kabarnya cukup," sambung Munafri.
"Kasihan anak-anak yang sudah berproses. Mereka sudah latihan, sudah mempersiapkan diri dengan baik. Yang dikhawatirkan itu mentalnya," lanjutnya.
Appi menegaskan bahwa Pemkot Makassar telah menjalankan proses pembinaan dan pengiriman delegasi sesuai prosedur. Setelahnya seluruh kewenangan penilaian berada di panitia seleksi tingkat Provinsi.