Pekerja Seks dengan HIV Perlu Makan Agar Bisa Rutin Berobat

Tim Editor

Tulisan dukungan kemanusiaan bagi pekerja seks (Wikimedia Commons)

Rwanda, era.id - Situasi pandemi COVID-19 menyusahkan banyak orang, termasuk para pekerja seks yang beberapa di antaranya mengidap penyakit HIV. Sedikitnya klien membuat pemasukan menurun, bahkan terlalu kecil untuk membeli makan sebagai pendamping minum obat.

Mignonne, seorang pekerja seks berumur 25 tahun dan pengidap HIV, hanya punya sedikit uang untuk membeli makan sehari-hari, seperti diberitakan Associated Press (AP). Makan secara rutin adalah hal yang penting karena jika tanpa didahului makan, obat antivirus HIV yang ia konsumsi bakal membuat badannya sakit, lesu, dan mual. Ia pun bisa pingsan dalam kondisi seperti itu.

"Ya, jadi tidak minum obat itu sama berbahayanya dengan [penyakit HIV]," kata Mignonne dalam wawancara dengan AP. "Kamu bisa mati."

Di tempat lain di Afrika, tempat dengan prevalensi HIV yang tinggi, tantangannya pun serupa.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketidakmampuan untuk membeli makan menjadi penghambat seseorang untuk minum obat dengan rutin tiap hari, dan yang menyebabkan efek obat tersebut berkurang.

Di ibukota Zimbabwe, Harare, "mereka yang hidup hanya sekadar untuk makan telah mengeluhkan [pandemi] yang membuat mereka melaksanakan pengobatan secara teratur," kata Talent Jumo, direktur dari Katswe Sistahood, sebuah organisasi yang bergerak di bidang kesehatan seks dan reproduksi.

Ini suatu kondisi yang memprihatinkan karena banyak pekerja seks di seluruh dunia tidak tercakup dalam program asuransi pemerintah selama pandemi COVID-19. Hal ini telah ditulis oleh sejumlah peneliti dari London School of Hygiene & Tropical Medicine di jurnal kedokteran The Lancet.

<blockquote class="twitter-tweet"><p lang="en" dir="ltr">&quot;What we desperately need is a different politics to guarantee the right to health of everyone, everywhere,&quot; says <a href="https://twitter.com/Winnie_Byanyima?ref_src=twsrc%5Etfw">@Winnie_Byanyima</a>.<br><br>&quot;Closing the prevention gaps means dismantling the injustices &amp; inequalities that put people at risk of being infected with HIV.&quot;<a href="https://twitter.com/hashtag/AIDS2020Virtual?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#AIDS2020Virtual</a> <a href="https://t.co/aMdUKrXkb9">pic.twitter.com/aMdUKrXkb9</a></p>&mdash; UNAIDS (@UNAIDS) <a href="https://twitter.com/UNAIDS/status/1280068486182600704?ref_src=twsrc%5Etfw">July 6, 2020</a></blockquote> <script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>

"Pekerja seks termasuk kelompok yang paling terpinggirkan," kata para peneliti tersebut, seraya mengharapkan bahwa hantaman terhadap sistem kesehatan "tidak mengurangi akses terhadap pengobatan HIV."

Rwanda sendiri menawarkan pengobatan antivirus HIV gratis bagi semua orang. Negara tersebut pun mampu menekan prevalensi HIV pada angka 3% selama sepuluh tahun terakhir, sementara jumlah infeksi baru pun makin berkurang.

Namun, kondisi ini bisa berubah.

Setidaknya 45% dari 12.000 pekerja seks yang berada di negara Afrika Timur ini mengidap HIV. Tidak mengonsumsi obat secara teratur bisa berakibat makin luasnya persebaran penyakit tersebut, kata Aflodis Kagaba, seorang doktor dan direktur dari Health Development Initiative, organisasi lokal yang mengkampanyekan akses yang lebih luas ke layanan kesehatan.

Organisasi Kagaba telah memberikan makanan, hand sanitizer, dan alat kebersihan bagi para pekerja seks dan berdiskusi dengan pemerintah setempat mengenai anggaran bantuan bagi para pekerja seks.

"Pekerja seks adalah bagian dari masyarakat, dan mereka berhak memiliki hidup yang sahat," kata Kagaba.

Virus korona telah tersebar cepat di negara-negara Afrika dan memaksa otoritas pemerintah untuk menerapkan jam malam. Per Sabtu, (4/7/2020), Rwanda memiliki 1.000 kasus infeksi virus korona.


Poster imbauan atas bahaya AIDS di Rwanda (Wikimedia Commons)

"Kami melihat bahwa pekerja seks tidak diberi bantuan yang diterima orang lain, contohnya makanan," kata kepala UNAIDS Winnie Byanyima awal bulan Juli ini. "Beberapa dari mereka dipermalukan, diusir dari rumah mereka, dan dianggap sumber penyebaran korona." Organisasinya bekerja bersama Global Network of Sex Work Projects untuk mendorong agar para pekerja seks diikutkan ke dalam program pemerintah Rwanda dalam penanggulangan dampak COVID=19.

UNAIDS sendiri mewanti-wanti kemungkinan kelangkaan obat bagi jutaan orang yang mengidap HIV pada dua bulan yang akan datang, terutama di negara-negara berkembang. Hal ini dikarenakan masih terdapat pembatasan batas negara yang memperlambat proses produksi dan distribusi obat antivirus HIV.

Tag: kekerasan seksual pekerja seks

Bagikan: