Sapardi, AriReda, dan Musikalisasi Puisi

Tim Editor

    Penampilan AriReda di Lokananta (Foto: Dokumentasi pribadi/Yose Riandi)

    Jakarta, era.id - "Pak Sapardi, puisinya memanggil untuk dinyanyikan," tulis Reda Gaudiamo menggambarkan ajaibnya karya-karya Sapardi Djoko Darmono. Bagi Reda, puisi Sapardi sangat liris. Unsur musik dalam setiap puisi Sapardi sangat asyik untuk dilagukan.

    Lebih dari itu. Sebagai puisi, karya-karya Sapardi sangat luar biasa. Segala unsur dalam puisi Sapardi, mulai dari pemilihan dan penyusunan kata hingga cerita yang disampaikan Sapardi dalam puisi-puisinya selalu luar biasa untuk Reda.

    Reda sejatinya bukan terlahir sebagai penikmat puisi. Ia pernah jadi orang yang cukup anti terhadap puisi. Pada masa itu, Reda melihat puisi sebagai bentuk tulisan yang intimidatif. Jauh dari bentuk karya yang dapat dinikmati semua orang.

    Awal keterikatan dengan puisi pun diakui Reda berawal dari ketidaksengajaan. Reda bilang, dia kena 'jebakan batman'. Dan jika harus menunjuk seorang pelaku yang menjebaknya, Reda akan menunjuk Ags. Arya Dipayana, seorang penyair dan seniman teater yang juga sahabatnya.

    Dipayana lah yang memperkenalkan Reda dengan musikalisasi puisi, Hujan Bulan Juni, bahkan dengan sang penciptanya, Sapardi. Dipayana, diceritakan Reda adalah sosok yang sangat dekat dengan Sapardi. Pertalian antar anak manusia itulah yang kemudian 'menjebak' Reda di dalam nikmatnya melagukan puisi.

    Saat itu adalah tahun 1987. Ketika Dipayana mengajaknya bergabung dalam proyek musikalisasi puisi yang diprakarsai oleh Sapardi dan Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu. Saat itu, semangat mewariskan puisi mulai dibangun oleh Sapardi dan Fuad.

    "Ceritanya, dua bapak jagoan ini mau membuat puisi lebih dikenal. Caranya, dengan dinyanyikan. Jadi lagu," tutur Reda kepada era.id, Rabu (21/3/2018).

    Mewariskan puisi

    Semua sepakat, segala hal baik harus diwariskan, termasuk puisi. Musikalisasi adalah salah satu jalan untuk mewariskan puisi. Reda yang telah melagukan lusinan puisi sejak 1987 melihat geliat ini mulai tumbuh. Frau adalah salah satu nama yang tumbuh di antara geliat itu. Sebagai penikmat Frau, saya sepakat.

    "Menurut saya, sangat baik. Ada banyak grup dan musisi yang mulai memakai puisi untuk lirik. Buat saya itu harus diteruskan. Frau, melakukan itu," kata Reda.

    Reda telah menjawab kecurigaan bahwa musikalisasi puisi adalah ciptaan yang sengaja dibuat untuk mengantarkan puisi menempuh perjalanan zaman. Reda pun mengakui dirinya adalah salah satu yang larut dalam gerakan pelestarian puisi lewat musik ini.

    "Musikalisasi puisi adalah upaya memperkenalkan puisi kepada siapa pun. Saya termasuk sebagai orang yang terkena dampak gerakan ini. Awalnya enggak suka, sekarang termehek-mehek sama puisi," tutur Reda.

    Musikalisasi puisi adalah Sapardi. Meski sejatinya menjadikan puisi sebagai lirik telah dilakukan sejak zaman Ismail Marzuki dan zaman Dante. Tapi, sejauh ingatan Reda, Sapardi lah yang mencetuskan istilah ini di tahun 1987.

    Buat Sapardi, musikalisasi puisi adalah adaptasi bentuk. Sapardi juga sering menyebut musikalisasi puisi sebagai alih wahana, dari karya tulis menjadi musik. Dan semua diyakini Reda dilakukan Sapardi untuk memperkenalkan puisi kepada semua.

    "Ketika saya mulai dulu, musikalisasi puisi adalah satu upaya mengenalkan puisi kepada angkatan muda," Reda bercerita.

    Jalan panjang memperkenalkan puisi pada semua dilalui Reda sejak tahun 1987, bersama Ari Malibu yang bergabung dalam perjuangan itu sejak tahun 1988. Sebelum internet, semua sangat sulit.


    AriReda dalam penampilan di Folk Music Festival 2017 (Foto: Koleksi Pribadi/Astronautz)

    Reda bersyukur, kemajuan teknologi internet membawa perjuangan memperkenalkan puisi melesat maju. Kini, milenial pun tahu AriReda, puisi dan Sapardi.

    "Teknologi membuat lagu-lagu dan upaya kami dikenal dengan luas sekarang ini. Tanpa itu semua, saya tak yakin kegiatan kami bakal seseru ini. Kegilaan puisi belum tentu sedahsyat sekarang," ujar Reda.

    Di akhir perbincangan kami dengan Reda, perempuan yang mengaku tengah menikmati judul Pada Suatu Hari Nanti, Hatiku Selembar Daun, dan Dalam Bis ini mengungkapkan hal menarik tentang AriReda dan upaya mewariskan puisi.

    Bagi AriReda, bintang di setiap yang mereka lantunkan adalah puisi. Lagu hanyalah pengantar, yang membuat puisi lebih mudah dipahami. Dan soal Sapardi, izinkan kami menggambarkan sosok Sapardi di mata seorang Reda, lewat kutipan penuh yang Reda sampaikan pada kami.

    "Tentang Pak Sapardi, berkat karya beliau, AriReda menemukan jalannya sekarang ini. Kami jadi menemukan lagu kami. Berkat terlibat dalam proyek beliau, kami jadi aktif membawakan puisi. Ini sungguh penting dalam hidup kami sebagai grup. Tanpa Aku Ingin, Hujan Bulan Juni mungkin kami sudah lama bubar. Dia 'bapak' kami. Dia membuat kami terus berjalan sampai sejauh ini. Untuk itu, terima kasih kami tak pernah putus."

    Tag: puisi sapardi djoko darmono arireda

    Bagikan :