Mengenal Pencipta "Pembebasan" atau "Buruh Tani", Lagu Khas Demonstran Indonesia

Tim Editor

Ilustrasi demonstrasi mahasiswa menolak Omnibus Law di Jakarta (Era.id)

ERA.id - Ada lagu khas demonstran Indonesia pada masa kini, yakni "Buruh Tani". Begitu orang biasanya menyebut judulnya. Ternyata, judul aslinya bukan itu, melainkan "Pembebasan". Hal itu disampaikan oleh Safi’i Kemamang, pencipta lagu legend demonstran 1998 yang menumbangkan Orde Baru era Soeharto.

Safi'i Kemamang lahir di Lamongan, Jawa Timur, 5 Juni 1976. Dilansir dari Berdikarionline, Safi’i mengatakan bahwa judul lagu tersebut sebenarnya bukan “Buruh Tani”, melainkan “Pembebasan”. Lagu Pembebasan dibuat saat Safi’i bergabung dengan PRD (Partai Rakyat Demokratik) di wilayah Jawa Timur, yang waktu itu masih bergerak di bawah tanah.

Di tengah gelombang represi aparat, Safi’i dan kawannya merasa bahwa butuh penyemangat. Safi’i menyadari, perjuangan politik tanpa musik akan terasa garing (kering).

Musik dimaknai sebagai alat pemersatu yang baik dan untuk menghadapi Soeharto kala itu, butuh persatuan yang besar. Akhirnya, tercipta bayangan bahwa buruh, tani, mahasiswa, dan kaum miskin perkotaan bisa berkumpul jadi satu. Alasannya, golongan itulah yang paling terdampak dari segala kebijakan yang diambil oleh Sang Rezim.

“Intinya, harus membuat garis penghubung yang jelas antara semangat, persatuan dan aksi yang mampu menjaga konsistensi perjuangan. Dan salah satu instrumen untuk menjaga garis konsistensi tersebut adalah syair dan musik,” imbuhnya.

Ilustrasi demonstrasi mahasiswa menolak Omnibus Law di Jakarta (Era.id)

 

Safi’i lahir dan besar dari keluarga petani yang sangat menderita pada saat itu. Tidak jelasnya masa depan pertanian, membuat orang tua Safi'i pergi meninggalkan sawah dan kebun mereka dan merantau ke kota.

“Saya baru mulai mengenal bermain gitar ketika duduk di bangku STM. Musik-musik perjuangan dari negeri lain, saya tidak tahu. Baik karena susahnya akses, juga karena faktor penguasaan bahasa asing-ku yang buruk. Satu-satunya referensi hanya lagu perjuangan dalam negeri, seperti Halo-Halo Bandung, Garuda Pancasila, dan sebagainya,” tambahnya.

Nah, bebricara soal lirik, lagu Pembebasan punya arti yang sangat dalam. Kata-katanya sederhana dan mudah dimaknai. Itu makanya, lagu ini relevan dipakai sampai sekarang.

Safi'i Kemamang (Berdikari Online)

 

Begini lirik lagunya (yang jamak diketahui diciptakan Marjinal, namun ternyata bukan):

 

Buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota

Bersatu padu rebut demokrasi

Gegap gempita dalam satu suara

Demi tugas suci yang mulia

 

Hari-hari esok adalah milik kita

Terciptanya masyarakat sejahtra

Terbentuknya tatanan masyarakat

Indonesia baru tanpa Orba

 

Marilah kawan mari kita kabarkan

Di tangan kita tergenggam arah bangsa

Marilah kawan mari kita nyanyikan

Sebuah lagu tentang pembebasan

 

Di bawah kuasa tirani

Kususuri garis jalan ini

Berjuta kali turun aksi

Bagiku satu langkah pasti

 

Dan ini lirik aslinya:

 

Buruh, tani, mahasiswa, kaum miskin kota

Bersatu padu rebut demokrasi

Gegap gempita dalam satu suara

Demi tugas suci yang mulia

 

Hari-hari esok adalah milik kita

Terbebasnya massa rakyat pekerja

Terciptanya tatanan masyarakat

Demokrasi sepenuhnya

 

Marilah kawan mari kita kabarkan

Di tangan kita tergenggam arah bangsa

Marilah kawan mari kita nyanyikan

Sebuah lagu tentang pembebasan

 

“Lagu ini saya ciptakan di Surabaya pada akhir tahun 1996, dan mulai kuajarkan kepada kawan-kawan: ke Riski, Dominggus, dan lain-lain, sejak awal 1997,” ungkapnya.

Kini, setelah reformasi dan Indonesia memasuki tahun di mana masyarakat belajar tentang demokrasi, Safi’i memilih menjauh dari hiruk-pikuk aksi di Indonesia.

Kini, ia tinggal bersama istri dan anak-anaknya di Negara Timor Leste sejak Provinsi Timor Timur itu dinyatakan merdeka dari Indonesia. Selain bekerja sebagai staf ahli di kementerian, aktivitasnya sehari-hari tetap seperti dulu saat berjuang bersama PRD, yaitu mengorganisir dan membangun organisasi massa perlawanan rakyat Timor Leste.

“Saat ini yang menjadi fokus pengorganisiran adalah mahasiswa dan kaum miskin perkotaan dengan menggunakan strategi Gerilya Kota (Guerilha Urbana),” terangnya.

Tag: sejarah demo tolak omnibus law

Bagikan: