Evakuasi Korban Bencana Sulteng Ditambah Satu Hari

Tim Editor

Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. (Diah/era.id)

Jakarta, era.id - Badan Nasional Penanggulanangan Bencana (BNPB) menyatakan masa pencarian, evakuasi, dan penyelamatan korban gempa dan tsunami yang melanda sejumlah daerah Sulawesi Tengah, diperpanjang satu hari. Hal tersebut merupakan hasil rapat koordinasi bersama Gubernur Sulteng Longki Djanggola.

"Hari ini adalah periode terakhir evakuasi secara resmi. Namun, ada beberpa permintaan keluarga sehingga diperpanjang. Maka, poses evakuasi korban dihentikan besok sore tanggal 12 Oktober akan diakhiri secara resmi,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018).

Sutopo mengimbau kepada warga Sulteng untuk tidak melakukan pencarian korban secara sendiri. Karena, melakukan evakuasi sendirian adalah tindakan yang tidak benar dan malah merugikan.

"Jika masih ada warga yang mencari korban dan sebagainya kita imbau untuk tidak melakukan karena kondisi jenazah sudah rusak dan berpotensi menimbulkan penyakit," ungkap Sutopo.

Sutopo bilang, meski evakuasi dihentikan besok, masa tanggap darurat diperpanjang 14 hari ke depan, mulai dari tanggal 13 sampai 26 Oktober 2018.

Setelah tiga belas hari atau pada Kamis (11/10), sejak terjadinya gempa pada Jumat (28/9), jumlah korban jiwa bertambah mencapai 2.073 orang yang ditemukan.

"Data yang berhasil dihimpun 2.073 orang meninggal sudah teridentifikasi. Sebarannya, di Palu sebanyak 1663 orang, Donggala 171 orang, Parigi Mutong 15, Pasangkayu Sulawesi Barat 1 orang, dan Sigi 223 orang," ucap Sutopo.

Lanjut Sutopo, seluruh korban sudah dimakamkan baik dengan 994 korban dimakamkan di pemakaman massal dan 1079 dimakamkan oleh keluarganya.

Sementara itu, saat ini 10.679 orang alami luka dan dirawat di rumah sakit. orang yang hilang diketahui sebanyak 680 orang. Pengungsi ada 87.725, tersebar di 112 titik pengungsian, serta 67.310 rumah rusak.

Sutopo melanjutkan, gempa susulan yang tercatat 552 kali, namun yang dirasakan oleh masyarakat hanya sebanyak 17 kali.

“Kalau kita lihat trennya semakin menurun menuju kestabilan. Kita berharap tidak ada gempa-gempa besar yang menyusul,” tuturnya.

Tag: prayforpalu prayfordonggala prayforsulteng

Bagikan: