3 Top Weekend News, Pekan Kedua November

Tim Editor

Ilustrasi (era.id)

Jakarta, era.id - Selamat hari Sabtu. Buat kamu yang baru bangun tidur, ayo mengingat kembali sejumlah peristiwa dan isu penting yang mungkin saja belum kamu dapatkan perkembangannya. Dalam 3 Top Weekend News minggu ini, kami sajikan sejumlah gambaran lengkap dan terkini dari tiga isu terbesar minggu ini, mulai dari dugaan penyebab jatuhnya Lion Air hingga kabar rupiah yang belum stabil.

1. Dugaan Penyebab Jatuhnya Lion Air

Produsen pesawat terbang Amerika Serikat, Boeing mengeluarkan petunjuk manual operasi terkait kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX 8. Rekomendasi ini dikeluarkan setelah Komite Nasional Keselamatan Transportasi Indonesia (KNKT) mensinyalir penyebab jatuhnya Lion Air PK LQP di perairan Tanjung Karawang pada Senin (29/10) adalah permasalahan pada input sensor angle of attack (AOA).

AOA adalah bagian dari sistem penunjuk kecepatan atau airspeed indicator. AOA berfungsi sebagai indikator penunjuk sikap atau attitude pesawat terhadap arah aliran udara. Nah, dalam keterangan yang kami terima, Rabu (7/11), KNKT dalam penyelidikannya menemukan bahwa AOA Lion Air PK LQP telah bermasalah dalam empat penerbangan pesawat PK LQP, termasuk dalam rute Denpasar-Jakarta.

Sebelum penerbangan itu, pihak maskapai sejatinya telah mengganti AOA yang bermasalah. Namun, masalah tak begitu saja selesai. Kenyataannya, pilot dalam penerbangan Denpasar-Jakarta tetap mengalami masalah navigasi hingga harus melakukan sejumlah prosedur hingga akhirnya mampu menangani kendala tersebut dan mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta.

Baca Juga : Boeing Terbitkan Manual Terkait Kecelakaan Lion Air


(Infografis/era.id)

Dalam penerbangan itu, indikator AOA di sebelah kanan dan kiri sistem navigasi pesawat tak sesuai. Dalam posisi lurus, AOA kanan menunjukkan nol derajat, sementara AOA kiri menunjukkan 20 derajat.

Lewat rilisnya, KNKT menjelaskan, peristiwa yang dialami para pilot Lion Air rute Denpasar-Jakarta sama dengan apa yang dialami dua pilot dalam penerbangan nahas Jakarta-Pangkal Pinang, Kapten Bahvye Suneja dan co-pilot Harvino.

2. Rupiah yang Belum Stabil

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah cukup dalam jelang akhir pekan ini. Rupiah hanya mampu menahan laju dolar AS pada Rp14.670.

Mengutip data perdagangan Reuters, Jumat (9/11/2018) per satu dolar dibanderol pada harga Rp14.680 kala penutupan perdagangan. Rupiah melemah 1 persen dibanding hari sebelumnya.

Mengawali hari, rupiah sudah melemah 0,45 persen. Penguatan rupiah terus menjadi seiring perjalanan pasar. Dolar AS yang kemarin sempat didorong ke kisaran Rp 14.500 kini kembali ke level Rp 14.600. 



Baca Juga : Dolar AS Kembali Dijual Rp14.700

Di sisi lain, harga jual dolar AS kembali di atas level Rp14.700. Seperti Bank Mandiri menjual dolar AS Rp14.730 pada pukul 16.25 WIB. Sedangkan Bank BCA juga menjual dolar AS di kisaran Rp14.690.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk, Rully Nova mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah relatif wajar setelah dalam beberapa hari sebelumnya cenderung mengalami penguatan.

"Pergerakan rupiah dalam hariannya akan bervariasi seiring sentimen yang beredar di pasar. Kemungkinan pelemahan rupiah saat ini karena faktor ambil untung," kata Rully seperti dikutip dari Antara.

3. Pemilu Paruh Waktu di AS

Partai Demokrat berhasil merebut kembali mayoritas kursi pada House of Representatives (HOR) dalam pemilu paruh waktu yang digelar sejak, Selasa (6/11). Partai Demokrat hanya perlu 23 kursi lagi untuk bisa mengawasi kinerja dari pemerintahan Presiden Donald Trump.

Melansir dari data hitung cepat CNN, Rabu (7/11) Partai Demokrat telah memiliki mayoritas kursi yakni 229 berbanding 206 untuk mewakili Kongres Amerika Serikat (AS). Dengan begini Demokrat akan mengambil alih kendali dari Partai Republik untuk pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir.

Dengan mendapatkan mayoritas kursi di DPR-nya Amerika, Demokrat akan memiliki kekuatan untuk bisa menginvestigasi maladministrasi pada pemerintahan Presiden Donald Trump. Termasuk kemungkinan konflik-konflik kepentingan bisnisnya serta tuduhan bahwa kampanye Trump pada 2016 mempunyai kaitan dengan Rusia, seperti dikutip dari Antara.

Baca Juga : Trump Pecat Jaksa Agung AS Jeff Sessions

Mayoritas kursi Kongres AS telah dikuasai oleh Partai Demokrat. Tentunya ini menjadi skenario terburuk bagi pemerintahan Trump, terlebih pada sisa dua tahun jabatannya. 

Tak sedikit tokoh pengkritik dari kebijakan Trump terpilih sebagai anggota Kongres AS dalam pemilu paruh waktu. Hal ini pula yang mungkin bisa merubah arah kebijakan dari Trump untuk sisa waktu jabatannya.

Tag: 3 top weekend news

Bagikan: