Dukung Revolusi Industri 4.0 dengan Produksi Berteknologi Tinggi

Tim Editor

Menteri Perindustrian Airlangga Hartato (Diah/era.id)

Jakarta, era.id - Gerakan Revolusi Industri 4.0 yang digagas Presiden Joko Widodo akan berjalan mulus jika dunia perindustrian menyesuaikan sistem produksinya dengan cara lebih modern. 

Sementara, sektor industri yang paling besar menyumbang pertumbuhan ekonomi adalah sektor makanan dan minuman, dengan pertumbuhannya selalu 9 persen. Hal ini dikatakan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartato di kawasan Cikupa, Banten.

"Sektor ini adalah salah satu unggulan dari industri 4.0 adalah sektor makanan dan minuman dengan pertumbuhan 10,19 persen, dan ini di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang berkisar 5,17 persen," ucap Airlangga, Rabu (12/12/2018).

Era industri 4.0 memungkinkan ada pertambahan 1 sampai 2 persen pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, Airlangga menyebut kalau ingin masuk dalam revolusi industri, maka perlu ada pionir.

"Salah satunya adalah pioner di high pressure processing, bahkan industri yang menggunakan ini secara terintegrasi di pabrik-pabrik, maka pabrik ini jadi salah satu yang leading di Asean," lanjutnya.

Jadi, produksi dengan metode high pressure process (HPP) atau metode yang mematikan bakteri pada produk dalam kemasan tertutup dan kedap air melalui tekanan yang tinggu dengan suhu dingin.

Produk yang telah menggunakan metode HPP adalah jus buah dan sayur bermerk Re.juve yang berdiri pada 2014, dengan misi memproduksi jus cold-pressed.


Jus buah dan sayur bermerk Re.juve (Foto: Diah/era.id)

"Teknologi HPP menjadikan produk Re.juve tahan lebih lama secara alami, mampu mempertahankan cita rasa, nutrisi dan tekstur produk, serta menurunkan risiko rekontaminasi karena tidak ada kontak langsung terhadap kandungan produk pada saat dan sesudah proses berjalan di mesin HPP," jelas Managing Director PT Sewu Segar Primatama Richard Anthony.

Keunggulan metode HPP, kata Richard, adalah kesederhanaan proses cold-processing HPP.

"Dia enggak mengubah apa apa. Produk yang masuk proses ini baik dan segar, keluarnya juga masih segar. Kita enggak pernah dalam bentuk beku. pemanasan juga enggak ada," kata dia.

Selain itu, metode HPP yang terintegrasi dengan mesin pembuatan sampai pengemasan ini baru perrama kali digunakan di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

"Kita pertama di Asean. kalau yang lain biasanya terpisah. kalau terpisah kan ada faktor lain biasanya transport, aging dari produk, dan sebagainya. ini bisa lebih cepat, fleksibel, lebih terkontrol kualitasnya," jelas Richard 

Airlangga berharap, dengan adanya investasi metode HPP yang dijual di Indonesia, juga membuka potensi untuk dijual di negara lain, seperti singapura dan hongkong. 

"Apalagi produknya ini sebagian besar bahan bakunya adalah lokal. bahan bakunya menghasilkan rupiah, kemudian nanti ekspornya menghasilkan dolar jadi menambah devisa," ucap Ketua Umum Golkar tersebut.

Baca Juga : e-KTP Tercecer, DPR akan Panggil Kemendagri
 

Bagikan: