Aku Solihat dan Semoga Selfie-ku Bukan Tanda Gangguan Mental

Tim Editor

Dampak tsunami Selat Sunda (Istimewa)

Jakarta, era.id - Solihat (40) terlihat senyum lebar. Sekilas, senyuman adalah senyuman, selalu indah di pandang mata. Tapi, kala melirik latar belakang gambar foto Solihat, hilanglah segala kesan indah dari senyuman itu. Yang muncul kemudian adalah kesan menyebalkan melihat aksi selfie Solihat dan tiga temannya di lokasi bencana tsunami di Banten. Andai diriku Solihat, aku akan berdoa, semoga selfie-ku bukan tanda gangguan mental.

Aku (Solihat) bersama tiga temanku menempuh perjalanan sekitar dua jam untuk mencapai lokasi bencana. Enak saja, aku enggak cuma sekadar ber-selfie ria, tahu! Aku dan teman-teman turut mengirim sejumlah bantuan untuk korban tsunami. Itu juga alasan aku dan teman-teman ber-selfie, untuk membuktikan bahwa aku telah sampai lokasi dan menyalurkan bantuan untuk para korban.

Ketika Jamie Fullerton, seorang wartawan The Guardian mewawancarai dan mengambil gambarku ber-selfie, aku tahu barangkali ada yang salah dengan apa yang kulakukan. Apalagi ketika Jamie bertanya: Apakah pantas melakukan swafoto di lokasi bencana, di mana sangat mungkin masih ada korban yang belum terevakuasi di lokasi tersebut?

Tapi, bagiku, semua tergantung niat. Toh, niatku ber-selfie bukan untuk pamer-pamer semata. Aku ingin berbagi kesedihan, menjembatani perasaan para korban dan orang-orang di luar lokasi bencana. Setidaknya, itulah hal yang bisa kusampaikan kepada Jamie ketika ia memberedelku dengan sejumlah pertanyaan. Lagipula, selfie yang kulakukan bukan selfie biasa. Selfie dengan latar belakang luar biasa ini, tentu saja akan memancing lebih banyak Likes di unggahan media sosialku.

"Ketika orang melihat foto-foto kerusakan, mereka menyadari bahwa mereka berada di tempat yang lebih baik. Gambar kerusakan akan mendapatkan lebih banyak Likes. Mungkin itu karena mengingatkan orang agar lebih bersyukur," kataku dalam artikel yang ditulis The Guardian, Kamis (27/12/2018).

Dalam foto-foto hasil selfie-ku, terlihat memang pemandangan memilukan berupa puing-puing bangunan dan alat-alat pertanian serta sejumlah kendaraan yang tersapu tsunami. Semua berserakan seperti barang pecah belah di lahan yang dipenuhi genangan air dan lumpur. Entahlah, apakah di sana bersemayam jasad saudara-saudaraku korban meninggal dari bencana yang menelan hampir 500 nyawa ini.

Aku dan ketiga kawanku enggak sendirian. Di lokasi yang sama, Fullerton juga mendapati seorang gadis 18 tahun yang melakukan aksi serupa: selfie di tengah bencana. Valentina Anastasia, namanya. Dalam artikel yang sama, gadis asal Jawa Tengah itu bercerita, ia sengaja menempuh perjalanan tiga jam dari tempat berliburnya di Jakarta untuk mengunjungi lokasi bencana di Banten.

"Saya ingin melihat kerusakan dan orang-orang yang terkena dampak," katanya.

Ketika ditanya berapa banyak foto narsis yang ia ambil, Valentina dengan tawa berbangga bahkan menjawab: Banyak! Buat di media sosial, grup WhatsApp.


Artikel The Guardian



Narsisme

Hanya orang berpenyakit mental yang melakukan selfie di tengah bencana. Seenggaknya itulah hasil penelitian yang tim riset kami dapati soal fenomena narsisme ini.

Menurut Hikmat dkk dalam Jurnal Penelitian Komunikasi (2017), dijelaskan bahwa: Setiap orang cenderung memiliki perilaku narsis, hanya kadarnya yang berbeda. Namun, narsis akan berkembang menjadi perilaku narsis akut yang akan berimplikasi pada gangguan kepribadian. Jika hal ini dibiarkan dapat membahayakan terhadap dirinya dan orang lain. 

Belum selesai. Dalam penelitian lain yang dipublikasikan International Journal of Mental Health and Addiction, para psikolog menyebut fenomena selfie sebagai indikasi dari penyakit mental yang mereka sebut selfitis, yaitu kondisi gangguan mental yang membuat seseorang harus terus memotret dirinya dan mengunggah citra dirinya itu ke media sosial.

Secara rinci, penelitian itu membagi indikasi gangguan mental selfitis menjadi tiga kategori. Pertama, tingkat borderline (wajar), yaitu kondisi di mana seseorang melakukan selfie sebanyak tiga kali setiap harinya. Namun, orang-orang dalam tingkatan ini belum tentu mengunggah foto tersebut ke aku media sosialnya. 

Yang kedua adalah tingkatan akut. Frekuensi selfie para pengidap selfitis akut ini enggak jauh berbeda dengan mereka yang berada di tingkatan borderline. Bedanya, mereka yang tergolong mengidap selfitis akut ini dipastikan mengunggah foto selfie mereka ke media sosial.  Terakhir, yang barangkali diidap oleh Solihat and the gang serta Valentina, adalah selfitis kronis.

Para pengidap selfitis kronis ini memiliki dorongan enggak terkendali untuk melakukan selfie sepanjang waktu, dengan intensitas rata-rata minimal enam kali sehari untuk kemudian ia unggah ke media sosial. Dari penelitian ini, terungkap pula bahwa penderita selfitis adalah orang-orang yang suka mencari perhatian, kurang percaya diri, dan berharap dapat meningkatkan status sosial mereka.

Tag: tsunami selat sunda bencana alam

Bagikan: