Melacak Jejak Pergerakan Separatis Bersenjata dari Nduga

Tim Editor

Kendaraan yang digunakan anggota KKB Papua (dok Istimewa)

Jayapura, era.id - Egianus Kogoya kembali menjadi  pembicaraan di kalangan masyarakat Papua. Pemimpin separatis bersenjata di wilayah Kabupaten Nduga ini disinyalir terlibat dalam peristiwa kontak tembak antara kelompok bersenjata dan TNI-Polri di Pasar Jibama, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, pada Jumat (23/8) lalu.

Di mana salah satu anggota separatis bersenjata tewas tertembak dalam penyergapan itu. Diketahui korban tewas bernama Yusia Wandik (27) yang diidentifikasi polisi merupakan warga Jayawijaya. Ia tewas dengan luka tembak pada tangan dan perut.

Sementara empat anggota separatis bersenjata lainnya berhasil melarikan diri setelah curiga atas kedatangan rombongan mobil aparat di sekitar Pasar Jibama. Mereka sempat melakukan perlawanan dengan menghujani tembakan ke aparat gabungan yang melakukan penegakan hukum.

Dua orang aparat keamanan tertembak, mereka yakni Ipda Iwan perwira Polres Jayawijaya mengalami luka tembak pada paha kanan -- dan anggota keamanan masyarakat (kamra) mengalami luka tembak pada perut. Keduanya masih dirawat di RSUD Jayawijaya di Kota Wamena.

Komandan Kodim 1702 Jayawijaya, Letkol Inf Candra Dianto menyebutkan jika kelompok separatis bersenjata yang terlibat kontak tembak di Pasar Jibama bukanlah pengikut Egianus Kogoya. Namun Candra membenarkan Egianus Kogoya Cs telah turun gunung dari Kabupaten Nduga ke Kota Wamena, yang memakan waktu tempuh 6 jam menggunakan transportasi darat.  

“Memang benar Egianus ada di Wamena, tetapi yang kontak tembak kemarin bukan bagian dari kelompok Egianus Kogoya, namun dari kelompok di Wamena yang dulu dipimpin Yusak,” kata Dandim Candra dalam pesan WhatsApp yang ditermia era.id, Sabtu (24/8/2019).



Letkol Candra bilang, Egianus dan pengikutnya masuk ke Wamena sejak 16 Agustus 2019. Mereka sempat melakukan penghadangan konvoi anggota TNI di Kilometer 39 Habema yang menewaskan Pratu Sirwandi. 

Kedatangan Egianus ke Jayawijaya sempat menjadi tanda tanya. Candra menduga kuat pemimpin kelompok bersenjata Nduga ini akan melakukan serangan dalam aksi protes rasisme di Wamena.  Dugaan ini setelah termonitornya pergerakan 30 pengikut Egianus di Wamena. Sementara Egianus diduga memantau situasi dari pinggiran kampung sekitar Wamena, hingga kontak tembak terjadi.

“Egianus Cs akan menyusup aksi di Jayawijaya, namun rencananya terbaca oleh kami. Mereka jumlahnya cukup banyak sekitar 30 orang dengan persenjataan lengkap, ada minimi juga yang digunakan untuk menembaki konvoi truk TNI di Hebema,” beber Candra.

Memang dalam pergerakannya, Egianus Kogoya dikenal tergolong licin dan memiliki kemampuan mobilitas yang tinggi. Sepanjang pengejaran sejak pembantaian belasan pekerja PT. Istaka Karya di Distrik Mbua, Nduga, dia kerap berpindah-pindah hingga aparat TNI-Polri kewalahan.

“Kita telah pasang jaringan untuk cari posisinya Di mana. Mobilitasnya Egianus tinggi juga, dia termonitor pakai mobil lajuran tanpa plat, ada 2 kendaraan, itu yang dipakai untuk berpindah. Kalau memang dia menetap pasti kita tangkap,” katanya.

Pasca kontak tembak di Pasar Jibama, Egianus Kogoya terpantau telah bergerak menuju ke Distrik Mbua.  Pergerakan Eginaus Cs dilakukan dengan berjalan kaki menyusuri hutan yang membentang luas sepanjang trans Wamena-Nduga, wilayah pegunungan tengah Papua.

Adapun jejak perjalanan Egianus Cs mulai belakang Batalyon, Lipi, Maso, kemudian tembus ke daerah Napua sampai ke Mbua. Rute ini bisa tembus ke Timika, Lanny Jaya dan Nduga.
 
Dandim Candra memprediksi jika Egianus akan kembali ke Wamena untuk melancarkan sebuah rencana.  Serangan ini tak dilakukan sendiri, melainkan berkolaborasi dengan kelompok Wamena dan Lanny Jaya.

“Egianus berencana menggabungkan kekuatan untuk suatu serangan, misalnya dengan kelompok pecahan Wamena yang dulu dipimpin oleh Yusak di daerah Piramid dan  kelompok Lanny Jaya yang dikomandoi Purom Wenda dan Enden Wanimbo,” tuturnya.

Semenjak digempur oleh TNI-Polri, kekuatan kelompok Wamena dan Lanny Jaya terus berkurang. Kata Candra, Egianus selalu mengajak kelompok separatis bersenjata lainnya untuk bergabung melakukan aksi teror terhadap sipil pendatang dan aparat keamanan, di luar wilayahnya. 



Egianus pun dipresiksi tengah menyusun rencana aksi teror di Kenyam, Ibukota Nduga. “Informasinya mereka akan bikin aksi di Kenyam, namun tidak tahu kapan,” tandasnya.

Terdapat 10 catatan kelam Egianus Kogoya beserta pengikutnya yang berhasil dihimpun era.id sepanjang dua tahun terakhir ini, antaralain :

1.    Penembakan pesawat Dimonim Air
Paada 22 Juni 2018, pesawat Twin Otter PK-HVU milik maskapai Dimonim Air rute Timika-Kenyam, ditembak di lapangan terbang Kenyam, Ibu Kota Kabupaten Nduga. Akibatnya, pesawat yang mengangkut masyarakat sipil rusak. Sementara Co-Pilot Irene Nur Fadila mendapat luka tembak di bagian kaki.

2.    Penembakan pesawat Trigana
Pada 25 Juni 2018, pesawat Twin Oter milik Trigana yang mengangkut logistik pemilu dan pihak aparat keamanan ditembak oleh kelompok seperatis ini juga. Akibatnya, pilot pesawat bernama Capres Ahmad Kamil terkena luka tembak di bagian punggung.

3.    Penyerangan masyarakat sipil
Pada 25 Juni 2018, kelompok separatis Egianus Kogoya melakukan penyerangan terhadap masyarakat sipil di Kota Kenyam. Sepasangan suami istri, Hendrik Sattu Kolab (38) dan Martha Palin (28), serta tetangganya Zainal Abidin (20) tewas ditembak. Sedangkan anak Hendrik yang berusia 6 tahun berinisial AK, mengalami luka parah di bagian wajah akibat dibacok dengan parang.

4.    Penyanderaan dan pemerkosaan
Pada tanggal 3 sampai 17 Oktober 2018, sebanyak 15 orang guru dan tenaga kesehatan disandera di Distrik Mapenduma, oleh anggota Egianus Kogoya. Dalam peristiwa itu juga seorang tenaga kesehatan diperkosa.

5.    Pembunuhan pekerja pembangunan
Pada tanggal 1-2 Desember 2018, puluhan karyawan PT Istaka Karya yang bekerja untuk pembangunan jembatan Jalan Trans Papua di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, disandera oleh kelompok ini. Sebanyak 25 pekerja pembangunan jembatan itu kumpulkan dan dibawa ke Puncak Kabo dan kemudian dieksekusi. Sebanyak 4 orang berhasil melarikan diri dari eksekusi, 2 orang tak diketahui keberadaannya, dan 19 orang dipastikan tewas berdasarkan keterangan salah satu korban selamat.

6.    Penyerangan dan pembunuhan anggota TNI
Pada 3 Desember 2018, kelompok ini melalukan pengejaran terhadap karyawan yang melarikan diri menuju ke Distrik Mbua. Kemudian, ketika para karyawan berlindung di Pos TNI 755/Yalet, kelompok ini melalukan penyerangan. Hal itu mengakibatkan 1 anggota TNI bernama Serda Handoko tewas dan seorang lainnya, Pratu Sugeng mengalami luka-luka.

7.    Penembakan helikopter TNI
Pada tanggal 4-5 Desember 2018, Egianus Kogoya Cs masih menduduki Distrik Yigi yang jaraknya 2 jam berjalan kaki dari Distrik Mbua. Ketika itu TNI-Polri yang sedang mengevakuasi pekerja Istaka Karya yang dibantai di bukit Kabo, mendapatkan serangan dari Egianus Cs. Bahkan, helikopter yang digunakan TNI ditembaki dan 1 anggota terkena tembakan saat kontak senjata di Puncak Kabo.

8.    Penyerangan Pos Pengamanan Jalan Trans Papua
Pada 20 Juli 2019, Kelompok Egianus Kogoya melakukan penyerangan pos pengamanan pembangunan Jalan Trans Papua di Kampung Yuguru, Distrik Mebrok, Kabupaten Nduga. Satu anggota TNI dari Satgas Yonif 755 Yalet bernama Pratu Usman Helembo gugur dalam peristiwa itu.

9.    Penyerangan Rombongan TNI di Danau Habema 
Pada 16 Agustus 2019, Patroli satuan tugas pengamanan daerah rawan (Satgas Pamrahwan) dari Yonif 751/VJS yang bertugas di Nduga, diserang kelompok Egianus Kogoya dan pengikutnya di Kilometer 39 Jalan Trans Wamena-Nduga, tepatnya di dekat Danau Habema, Jayawijaya. Dua prajurit TNI terluka dalam peristiwa tersebut. Satu diantaranya yakni Pratu Sirwandi meninggal usai dioperasi lantaran peluru bersarang di pinggangnya.

10.    Teror di Pasar Jibama Kota Wamena
Pada Jumat kemarin, 23 Agustus 2019, sekelompok anggota KKB yang diduga dikerahkan Egianus Kogoya melakukan teror kepada warga di Pasar Jimbama Wamena, Ibukota Kabupaten Jayawijaya. Mereka bermaksud menjarah bahan logistik. Kontak tembak pun sempat terjadi antara kelompok bersenjata dan TNI-Polri. Satu anggota KKB bernama Yusia Wandik (27) dinyatakan tewas di tempat. (Paul Tambunan)

Tag: kkb papua

Bagikan: