Kerja Ngebut KPK dalam 48 Jam Terakhir

Tim Editor

Gedung KPK (Wardhany/era.id)

Jakarta, era.id - Tak sampai 24 jam berlalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan sejumlah operasi tangkap tangan di sejumlah kota. Di mulai dari penangkapan Bupati Muara Enim, Ahmad Yani di Palembang, Sumatera Selatan.

Ahmad Yani terjaring OTT KPK pada Senin (2/9). KPK mengamankan uang senilai 35.000 dolar AS yang diduga terkait proyek dinas Pekerjaan Umum (PU) setempat. Ada empat orang yang diamankan dalam OTT itu, termasuk Ahmad Yani, seorang pejabat daerah dan pihak swasta.

"Diduga terdapat permintaan dari Ahmad Yani selaku Bupati Muara Enim dengan para calon pelaksana pekerjaan fisik di Dinas PUPR Muara Enim," kata Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan, Selasa (3/9).

KPK menyebut Bupati Muara Enim, Ahmad Yani meminta commitment fee sebesar 10 persen sebagai syarat terpilihnya kontraktor pengerjaan pembangunan jalan untuk tahun anggaran 2019. 

Hari belum berganti, KPK kembali melakukan operasi senyapnya di Jakarta. Kali ini KPK menangkap salah satu direksi BUMN perkebunan terkait distribusi gula.

Tak banyak informasi yang dibagikan oleh Febri kepada awak media, soal penangkapan direksi BUMN perkebunan. Dirinya hanya menyebut dalam OTT itu diamankan lima orang dari unsur direksi sampai anak perusahaan BUMN perkebunan. 


ilustrasi Presscon KPK terkait OTT Bupati Muara Enim dan Pejabat BUMN (dok. era.id) 

Dalam konferensi persnya, KPK membeberkan sejumlah pihak yang berhasil ditangkapnya dalam operasi tangkap tangan terkait suap distribusi gula di PTPN III 2019. Salah satu tersangkanya adalah Direktur Utama PTPN III (Persero) Dolly Pulungan.

"KPK menetapkan tiga orang tersangka yaitu sebagai pemberi suap PNO (Pieko Nyotosetiadi), pemilik PT Fajar Mulia Trasindo dan DPO (Dolly Pulungan) Dirut PTPN III dan IKL (I Kadek Kertha Laksana) Direktur Pemasaran PTPN III," ujar Wakil Ketua KPK Laode M Syarif, Selasa dini hari.

Adanya barang bukti, berupa uang suap senilai 345 ribu dolar Singapura yang diberikan pihak swasta kepada Dolly Pulungan selaku Dirut PTPN III dan juga Dirut BUMN perkebunan perihal distribusi gula.

Uang suap itu diduga berasal dari Pieko Nyotosetiadi (PNO) yang merupakan pemilik PT Fajar Mulia Transindo. Syarif mengatakan PT Fajar Mulia Transindo merupakan pihak swasta dalam skema long term contract dengan PTPN III yang mendapat kuota untuk mengimpor gula secara rutin setiap bulan selama kontrak.

Dia menyebut terdapat aturan internal di PTPN III mengenai kajian penetapan harga gula bulanan. Nah, penetapan harga gula disepakati oleh tiga komponen yaitu PTPN III, Pengusaha Gula (PNO) dan ASB selaku Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI).



Rabu pagi, KPK kembali memberitahukan kalau pihaknya telah melakukan operasi tangkap tangan di Kalimantan Barat. Salah satu yang ditangkap adalah Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot.  

"Benar, ada uang ratusan juta yang juga kami amankan sebagai barang bukti," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah kepada wartawan, Rabu (4/9/2019).

OTT itu digelar kemarin Selasa (3/9) di Kalimantan Barat (Kalbar). KPK mengamankan lima orang, termasuk Suryadman. 

"Lima orang (diamankan), termasuk Bupati, pejabat Pemkab lain sudah di KPK, 2 lainnya dibawa pagi ini ke KPK dari Pontianak. Mereka sedang proses pemeriksaan secara intensif," jelas Febri.

Entah lagi dapat doping atau suplement tertentu, secara berturut-turut KPK melakukan operasi tangkap tangan. Bupati Bengkayang merupakan OTT ketiga yang dilakukan KPK dalam dua hari terakhir, di mana sebelumnya KPK sudah menangkap Bupati Muara Enim Ahmad Yani dan Direktur Utama (Dirut) PTPN III Dolly Pulungan. 

Tag: ott kpk kpk korupsi bakamla

Bagikan: