Pasang Surut Hubungan Amerika Serikat dan Korea Utara

Tim Editor

Ilustrasi (era.id)

Jakarta, era.id - Akhir Agustus lalu, pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un menyurati Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Lewat sepucuk surat, Kim kembali mengundang Trump untuk mengunjungi Pyongyang, ibu kota negara.

Kim mengutarakan keinginannya bertemu Trump dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT), usai keduanya gagal dalam upaya diskusi yang berlangsung di Singapura dan Hanoi, Vietnam, pada awal tahun ini.

Surat yang dipublikasikan surat kabar Korea Selatan itu, merupakan surat kedua yang diterima Trump sejak bulan lalu di tengah dialog denuklirisasi yang tersendat antara kedua negara, demikian seperti dikutip Reuters, Senin (16/9/2019).

Pesan itu dikirim oleh Kim setelah Korea Utara kembali meluncurkan rudal jarak pendek pada pekan lalu. Namun, hingga kini Gedung Putih belum memberikan komentar.

Donald Trump dan Kim Jong-un terakhir kali bertemu di Zona Demiliterisasi (DMZ) antara Korea Utara dan Korea Selatan pada Juni silam. Dalam pertemuan itu disepakati mulainya negoisasi, sejak alotnya dua pertemuan yang telah dilakukan Trump dan Kim.
 

Pasang surut hubungan Trump dan Kim

Ketegangan hubungan antara kedua pemimpin negara tersebut sebetulnya bukan rahasia umum. Beberapa kali, Trump dan Kim juga terlibat perang dingin. Hubungan keduanya berangsur membaik saat Trump dan Kim betatap muka di Pulau Sentosa, Singapura, pada 12 Juni 2018. 

Dalam pertemuan itu, keduanya berkomitmen untuk membangun hubungan baru yang didasari atas kemauan kedua negara: Perdamaian dan kesejahteraan untuk mewujudkan perdamaian yang stabil.

KTT pertama AS-Korea Utara kembali menegaskan deklarasi Panmujom --deklarasi yang berkomitmen untuk mengakhiri Perang Korea, menciptakan sebuah rezim perdamaian di Semenanjung Korea, serta menjalankan program denuklirisasi Semenanjung Korea, yang ditanda tangani oleh Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada 27 April 2018 di Rumah Perdamaian, Joint Security Area sisi Korea Selatan.

Pemimpin Korut Kim Jong-un bertemu Presiden AS Donald Trump di Singapura. (ST Photo/Kevin Lim)

Kemudian, Trump dan Kim kembali menggelar pertemuan bertajuk KTT II di Hanoi, Vietnam pada 27-28 Februari 2019. Namun lagi-lagi pertemuan itu harus berakhir dengan hasil yang menggantung. Dalam pertemuan itu, Korut meminta pencabutan sanksi secara keseluruhan, namun tak menjelaskan dengan gamblang soal keputusan untuk menghentikan program denuklirisasi.

Gagalnya kesepakatan yang diraih dalam pertemuan itu membuat Korea Utara kembali melanjutkan program nuklirnya. Dalam sebuah laporan pada 6 Maret 2019, Pyongyang mulai memulihkan kembali bagian dari situs uji nuklir usai berjanji tak akan melakukannya dalam pertemuan puncak pertama dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada tahun lalu.

Selain itu, Kim juga dilaporkan sedang mengawal uji coba senjata taktis jenis baru pada 17 April 2019, yang dilaporkan media resmi Negara, KCNA. Beberapa hari kemudian pada 10 Mei, Korea Utara kembali menembakkan rudal jarak dekat

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengatakan, peluncuran rudal terbaru Korea Utara mungkin menjadi aksi protes terhadap Amerika Serikat.

Sejak saat itu, Korea Utara maupun Amerika Serikat mengklaim bahwa kedua pemimpinnya memiliki hubungan yang baik dan telah beberapa kali mengirim surat satu sama lain. Trump juga beberapa kali memuji kepemimpinan Kim dalam kunjungannya ke Jepang.

Tag: pertemuan trump-kim jong un donald trump kim jong un

Bagikan: