Warganet Harus Lebih Dewasa Sikapi Demo Pelajar

Tim Editor

Pelajar melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPR. (Wardhany/era.id)

Jakarta, era.id - Demonstrasi yang dilakukan pelajar pada Rabu (26/9) menyedot perhatian warganet. Meski demo yang dilakukan anak di bawah umur ini berakhir ricuh, tapi banyak warganet yang justru memberi dukungan terhadap mereka.

Melihat fenomena ini, Sekjen Gerakan Suluh Kebangsaan, Alissa Wahid justru menilai itu sebagai sebuah kekeliruan. Warganet harusnya bisa lebih dewasa melihat fenomena aksi demonstrasi yang dilakukan oleh pasukan putih abu-abu ini. Menurut dia, usia 18 tahun ini belum punya kematangan secara psikologi.

"Ya, itu, netizen-nya harus belajar lebih mature," kata Alissa kepada wartawan di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (26/9/2019).

Dia sadar, tren global mulai merekam munculnya kesadaran politik pada anak muda atau remaja. Mereka akan bereaksi ketika hak dan aspirasinya dikebiri. Cuma, dia mengingatkan, di Indonesia ada Undang-Undang yang mengatur anak tidak boleh dilibatkan dalam kegiatan kampanye semacam ini. Apalagi, secara sistem sosial, remaja masih memiliki kecenderungan tak bisa mengontrol emosi dengan baik.

Alissa menambahkan, remaja lebih suka bertindak atas nama solidaritas. Itu pula yang membuat aksi kemarin ramai diikuti pelajar dan berakhir ricuh. Ditambah, mereka melakukan secara gegap gempita dengan mementingkan egonya sendiri. Karenanya, dia tak sepakat dengan aksi seperti ini digelar oleh pelajar.

"Nah, justru itu kultur kita yang masih mudah tawuran, SMA, SMP, maka saya setuju di bawah 18 tahun tidak berdemo karena risikonya egonya masih sangat tinggi," kata dia. 

Kemarin, pelajar yang menggunakan seragam putih abu-abu dan pramuka melakukan aksi di depan gedung DPR. Massa pelajar ini datang dari berbagai daerah di Jabodetabek. Mereka datang setelah mendapatkan pesan berantai ajakan demonstrasi di media sosial dengan tagar #STMmelawan dan #STMbergerak.

Aksi demonstrasi ini terjadi hingga malam hari dan berujung rusuh. Imbasnya, membuat sejumlah jalanan Jakarta lumpuh, dan beberapa fasilitas umum rusak serta terbakar.


Pelajar melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPR. (Wardhany/era.id)

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyebut, sebanyak 570 pelajar dari berbagai sekolah sudah ditangkap akibat aksi ini. Mereka dilakukan pembinaan di Polda Metro Jaya dan telah dijemput oleh orang tuanya.

Sementara, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, demo pelajar ini ditunggangi oleh pihak tertentu. Pihak yang tak disebut Tito ini, diduga menyuruh anak-anak tersebut berdemo bahkan mengongkosi mereka untuk bergerak ke depan Gedung DPR. 

Selanjutnya, kerusuhan yang terjadi malam hari, Tito mengatakan hal ini dilakukan oleh para perusuh yang sengaja menyusup.

"Kemarin juga tidak ada demo mahasiswa, yang ada anak-anak SMA yang kemudian disuruh, mereka diongkosi, dan sebagian besar sudah dipulangkan," ujar dia di Kantor Kemenkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (26/9/2019).

Tito menegaskan, kerusuhan yang terjadi hingga menutup jalan dan melakukan aksi vandalisme jelas bukan dilakukan oleh mahasiswa dan siswa yang turun ke jalan. 

Aksi ini dia sebut sama seperti bulan 21-22 Mei 2019 lalu saat demo besar terjadi di depan Gedung Bawaslu RI, Sarinah, Jakarta Pusat.

Tag: demo pelajar pelajar indonesia

Bagikan: