Akhir Kasus Ananda Badudu dan Mahasiswa yang Ditransfer

Tim Editor

Aktivis Ananda Badudu. (Foto: Istimewa)

Jakarta, era.id - Aktivis Ananda Badudu sudah bisa bernapas lega. Kemarin, dirinya sudah dibebaskan dari seretan kepolisian untuk memberikan klarifikasi terhadap aliran transfer Rp10 juta kepada mahasiswa untuk akomodasi aksi demo di DPR pada Selasa (24/9). 

Direktur Eksekutuf Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid, yang menjadi pendamping hukum Ananda kemarin, mengungkapkan kondisi Ananda setelah pulang dari pemeriksaan. 

"Ananda sedang istirahat dulu. Dia belum memutuskan untuk melakukan langkah lanjutan atas pemanggilan itu," kata Usman dikonfirmasi era.id, Sabtu (28/9/2019).

Jelas Ananda butuh istirahat. Pembopongan ke Polda kemarin memang cukup mengejutkan baginya. Bayangkan, pada saat orang-orang masih istirahat di pagi buta, Ananda sudah berkicau di akun Twitternya, @anandabadudu. 

"Saya dijemput Polda karena mentransfer sejumlah dana pada mahasiswa," kicaunya sekitar pukul 05.00 WIB. 


Mahasiswa UIN Nabil saat diperiksa terkait aliran uang masuk ke rekeningnya. (Foto: Istimewa)

Ternyata, sesampainya Ananda di ruang unit IV Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, satu mahasiswa yang menyebabkan dirinya mesti memberikan keterangan kepada polisi, sudah berada lebih dulu di ruangan tersebut. 

Dia adalah Nabil, mahasiswa dari UIN yang tertangkap saat aksi demo di Kompleks DPR kemarin. Nabil mengungkapkan asal mula dana Rp10 juta dari Ananda bisa masuk ke rekeningnya.

Ia mengetahui bahwa Ananda sedang menggalang dana pada situs kitabisa.com untuk membantu mahasiswa yang turun ke jalan menyuarakan aspirasi penolakan UU KPK dan sejumlah RUU bermasalah. 

"Ananda mempublikasi di media sosial, dan bilang bagi mahasiswa yang ingin turun aksi silakan direct message ke dia," kata Nabil. 

"Itu yang dilakukan oleh teman-teman, ketika ingin turun kemarin, menghubungi Ananda Badudu dan diberikan bantuan sebesar 10 juta, digunakan untuk transportasi dan konsumsi," lanjut dia. 

Setelah masuk ke rekening Nabil, uang tersebut langsung diakomodasikan untuk transportasi dan perbekalan air mineral kepada sekitar 1.000 mahasiswa UIN. 

Lebih lanjut, Kanit IV Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKP Rovan Richard Mahenu bilang keterangan Nabil inilah yang menjadi penyebab kenapa Ananda bisa digiring ke Polda. Keterangan Ananda sebagai saksi diperlukan untuk menyelesaikan kasus Nabil yang menjadi salah satu tersangka demo. 

"Apabila tidak dikonfirmasi, maka nanti akan menjadi multitafsir. Saat ada data dan fakta pemeriksaan kita sebagai pihak kepolisian harus mengonfirmasi itu. Melihat bukti-buktinya ini arahnya ke mana," jelas Rovan. 


Ananda Badudu saat diperiksa polisi. (Foto: Istimewa)

Akhir dari kasus ini, kepolisian telah menyetop penyidikan dari Nabil dan satu rekannya, Hatif. Kedua mahasiswa ini telah dikembalikan dan dilakukan pembinaan. "(Kasus) sudah SP3, jatuhnya pembinaan. Kami kembalikan ke orang tua untuk dibina," ucap Rovan. 

Kasus Nabil yang di-SP3 adalah sebuah video dirinya membawa HT milik polisi saat aksi demo yang berujung ricuh itu menjadi viral di media sosial. Kemudian, dana transferan dari Ananda Badudu ikut terseret di kasus ini. 

Sementara kasus Hatif, dirinya kedapatan mengambil tameng polisi saat demo. Setelah diklarifikasi, Hatif ternyata mengambil tameng tersebut ketika ditinggalkan oleh salah satu aparat, bukan mengambil paksa. 

Nah, alasan kepolisian menghentikan kasus kedua mahasiswa ini karena mereka tak memiliki niat untuk melakukan tindak pidana. Kemudian, keduanya menyadari kesalahan mereka dan telah meminta maaf.

"Untuk kasus ini kami lakukan pembinaan, karena dari hasil diskusi mereka sudah minta maaf, menyesali perbuatannya dan kami lihat ini masih usia produktif," tutur Rovan.

Dengan berakhirnya kasus dari kedua mahasiswa ini, maka Ananda pun juga sudah tak akan dipanggil lagi untuk memberikan keterangan kepada kepolisian. 

Tag: aktivis mahasiswa uu ite polri

Bagikan: