Bukan Pinokio, Ananda Badudu Siap Suarakan Kebenaran

Tim Editor

Ananda Badudu (Instagram/anandabadudu)

Jakarta, era.id - Aktivis Ananda Badudu bilang dirinya bukan pinokio dan bakal terus menyuarakan kebenaran. Hal ini disampaikan Ananda untuk menanggapi somasi yang dilayangkan oleh Kanit IV Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKP Rovan Richard akibat ucapannya.

Ananda yang sempat ditangkap kemudian digelandang ke Polda Metro Jaya untuk diperiksa dan selanjutnya dibebaskan, sempat mengatakan banyak mahasiswa yang diduga terlibat aksi demonstrasi pada 24 September 2019 diproses dengan cara tidak etis.

Musisi yang pascadibebaskan oleh pihak kepolisian ini sempat menghilang kemudian menegaskan dirinya bakal terus menyuarakan kebenaran dan tak bakal menarik pernyataannya.

"Karena kebenaran tidak boleh dibengkokkan. Poin utamanya adalah, kebenaran itu harus disuarakan seberapapun sulit, seberapapun itu beresiko. Karena saya bukan Pinokio. Saya akan terus menyuarakan kebenaran itu," kata Ananda di Jakarta, Selasa (1/10/2019).

Cucu ahli bahasa JS Badudu ini bilang, dia menghargai proses somasi yang diajukan oleh pihak kepolisian. Ananda bilang, dia tak akan kabur dan siap menjalankan proses hukum akibat pernyataannya itu didampingi kuasa hukumnya.

Apalagi, Ananda menyebut, dia ingin agar pihak kepolisian bisa jadi pelindung dan pengayom masyarakat. Sehingga pernyataan yang ia lontarkan adalah salah satu bentuk perhatian bagi aparat kepolisian.

"Kita semua ingin Polri menjadi apa yang dicita-citakan oleh Polri. Jadi ya, saya siap menghadapi somasi itu," ungkapnya.

Hanya saja meski mengaku siap menghadapi somasi itu, Ananda ternyata masih belum mengetahui isi somasi tersebut. Surat somasi itu juga hingga saat ini masih belum ada di tangannya. "Saya belum tahu suratnya, belum sampai di saya," tegasnya.

Selain bicara soal menyuarakan kebenaran dan siap disomasi pihak kepolisian, Mantan personel duo 'Banda Neira' ini juga membantah isu yang menuding dirinya telah sejak lama mempersiapkan aksi demonstrasi yang diikuti mahasiswa karena dirinya tak mungkin melakukan itu.

Tudingan ini muncul, setelah Ananda sempat ditangkap kepolisian pada 27 September 2019 karena aksi pengumpulan dana yang dilakukannya lewat media sosial.

"Kan banyak tuh yang nanya, saya kepentingannya apa sih? Siapa orang di belakang? Kayaknya saya punya massa dan lembaga terstruktur yang sudah siap menggerakan massa dan memobilisasi, enggak sama sekali," ujar Ananda.

"Saya juga bukannya sudah jauh-jauh merencanakan bahwa nanti kalau ada aksi ini-ini akan menggalang dana," imbuhnya.

Ananda Badudu saat diperiksa polisi. (Foto: Istimewa)
 
Penggalangan dana ini, kata dia baru tercetus setelah dirinya melihat banyak demonstrasi mahasiswa dalam menolak UU KPK dan RKUHP yang dikoordinir secara baik, termasuk dalam penyiapan sarana dan prasarana seperti mobil komando dan konsumsi bagi para peserta demo.

Melihat pengelolaan yang begitu baik, Ananda kemudian berinisiatif untuk menggalang dana bantuan bagi aksi demo yang diikuti mahasiswa pada 23-24 September yang lalu lewat situs kitabisa.com.

Terkait dana yang dikumpulkan pergerakan mahasiswa yang turun ke jalan, Ananda bilang proses pencatatan uang masuk dan keluar dilakukan secara transparan.

Dia juga memastikan, dana yang masuk hanya akan digunakan untuk tujuan kemanusiaan terkait aksi reformasi dikorupsi yang terjadi di seluruh kota besar seluruh Indonesia tak hanya di Jakarta.

"Semua itu (pendanaannya) transparan. Pencatatannya mengikuti standar akuntansi yang baku dan semua penggunaannya disiarkan ke publik," kata dia.

Selain itu, keputusan untuk melakukan pencairan terhadap dana tersebut tidak hanya dipegang oleh dirinya tapi juga sudah ada beberapa tim lainnya.

Tim ini kata Ananda, terdiri dari mereka yang tergerak dalam mendukung perjuangan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya dan dipastikan punya integritas yang baik.

Tag: aksi mahasiswa 23-24 demo aktivis mahasiswa

Bagikan: