Taktik Kreatif Demonstran di Hong Kong

Tim Editor

Sebuah payung tergeletah di tengah asap gas air mata. (Chien-Chi Chang/Twitter)

Jakarta, era.id - Para pengunjuk rasa di Hong Kong memang tak pernah kehabisan akal. Penutupan layanan kereta yang dilakukan otoritas keamanan setempat, beberapa waktu lalu, membuat pedemo mengatur ulang strategi mereka. Kali ini, caranya adalah dengan melakukan flashmob. 

Taktik flashmob ini dilakukan oleh para demonstran untuk menghindari penangkapan oleh otoritas keamanan, yang semakin keras menekan ruang gerak para pengunjuk rasa.

Nantinya, massa akan bermunculan dalam kelompok kecil secara spontan di berbagai lokasi yang tersebar di sejumlah distrik di Hong Kong. Mereka menyerukan aksi di beberapa wilayah yang dekat dengan pemukiman, sehingga ketika polisi datang, mereka bisa dengan mudah menghindari dan lari ke rumah atau naik bus.

"Orang-orang yang tinggal di sekitar wilayah ini, ketika sesuatu terjadi, mereka bisa pulang pada malam hari tanpa digeledah di terowongan," ujar Crystal, pengunjuk rasa berusia 21 tahun, dikutip The Guardian, Senin (14/10/2019).
 
Baca Juga: Mal di Hong Kong Jadi Arena Bentrokan Aparat Vs Demonstran

Strategi flashmob ini merupakan respons terhadap politisasi sistem kereta bawah tanah Hong Kong MTR yang ditutup dan sempat ditangguhkan atas perintah pemerintahan Carrie Lam. Sejak 4 Oktober, perusahaan layanan MTR telah menutup seluruh jalur kereta bawah tanah kota. Jam operasional juga tutup lebih awal dari biasanya dengan penerapan jam malam yang tak resmi.

Taktik ini telah menjadi kewajiban bagi para pengunjuk rasa karena polisi anti huru-hara ditempatkan di dekat pintu keluar kereta bawah tanah.

"Sejak Oktober, polisi menghentikan semua orang (di kereta bawah tanah)," kata Anne, seorang pengunjuk rasa bertopeng yang berusia 21 tahun, sekaligus menjadi bagian dari unit kecil demonstran di distrik perbelanjaan Mong Kok.

Sementara itu, pengunjuk rasa lainnya Crystal mengatakan "Polisi tak menginzkan kami mengumpulkan kelompok besar. Mereka memblokir semua stasiun MTR dan menangkap kami berkali-kali. Polisi juga berhenti dan mencari di stasiun kereta bawah tanah ini".

Strategi demo Hong Kong

Ini bukanlah taktik pertama yang dikenalkan oleh para pengunjuk rasa di Hong Kong. Jauh sebelum ini, para demonstran dengan kreatif memiliki strategi yang diatur dalam melancarkan aksi demonstrasi melawan UU Ekstradisi, yang kemudian meluas menjadi menuntut reformasi dan pengunduran diri pemimpin Hong Kong Carrie Lam.

Taktik pertama yang digunakan oleh para demonstran adalah meniadakan sosok pemimpin dalam aksi mereka. Taktik ini dikenal dengan leaderless resistance. Dikutip dari jurnal Terrorism and Political Violence, konsep 'perlawanan tanpa pemimpin' ini awalnya muncul sebagai taktik untuk perang melawan invasi komunis pada awal 1960an. Namun, istilah ini kemudian dikenal luas usai penerbitan esai Leaderless Resistance oleh Louise R. Beam pada 1992. 

Di Hong Kong, mereka menggunakan cara ini untuk mengantikan posisi pemimpin dengan mengorganisir diri menggunakan teknologi. Poinnya adalah mereka menggunakan pesan terenkripsi melalu aplikasi online dalam berabagai forum. Di Apple, para demonstran menggunakan layanan peta crowdsourced untuk saling berkoordinasi dan melacak aktivitas polisi secara real-time.

Selain itu, massa juga menggunakan fitur AirDrop iPhone untuk saling mengirim pesan maupun gambar tanpa koneksi internet. Lewat layanan ini, para demonstran melakukan open-source protest atau mendorong semua orang untuk terlibat dalam aksi mereka. 

Baca Juga: Patung Lady Liberty, Simbol Revolusi Demonstran Hong Kong



Infografik (Twitter @aantonop)

Sementara itu, ketika memulai aksinya mereka terlebih dahulu menetapkan tim pemadam khusus menetralisir gas air mata yang diluncurkan oleh aparat kepolisian. Sebelum aksi dimulai, tim ini bertugas membawa tumblr dan sarung tangan anti panas untuk meredam proyektil gas air mata yang suhunya mencapai 70 derajat Celcius.

Selain itu, mereka juga menggunakan air bag, raket, stik hoki, hingga traffic cone untuk meminimalisir penyebaran gas air mata dan memandamkannya lewat lubang di atasnya. Mereka juga kerap membawa payung untuk melindungi diri dari water cannon. 

Jika situasi di lapangan berlangsung semakin panas, para demonstran di garis depan akan menggunakan bahasa isyarat untuk memberitahu barang apa saja yang dibutuhkan oleh massa. Nantinya massa akan melakukan estafet untuk barang yang diminta. 
 

Yang terakhir adalah konsep be water yang terinsipirasi dari aktor Bruce Lee. Konsep ini digunakan para pemrotes untuk menhindari massa yang tetap dan tidak bergerak. Reli dapat berubah menjadi pawai yang awalnya satu arah, namun kemudian berubah ke arah lain. Be water sendiri adalah tentang kemampuan untuk beradaptasi dalam situasi apa pun.

Aksi demonstrasi besar-besaran telah melanda negara bekas koloni Inggris ini sejak Juni lalu. Protes di Hong Kong dipicu dengan Rancangan Undang-Undang Ekstradisi (RUU Ekstradisi) atau dikenal sebagai The Fugitive Offenders and Mutual Legal Assistance in Criminal Matters Legislation (Amendment) Bill 2019 yang diperkenalkan oleh Sekretaris Keamanan John Lee.

Tag: demo di hong kong demo

Bagikan: