Pemantik Api dalam Demo Besar Hong Kong

| 21 Oct 2019 12:15
Pemantik Api dalam Demo Besar Hong Kong
Ilustrasi (Twitter @Afropages)
Jakarta, era.id - Sebelum ribuan orang tergabung dalam aksi protes selama berbulan-bulan, sebelum gas air mata di tembakkan, sebelum massa bentrok dengan aparat, sebelum pemerintah mengeluarkan rancangan undang-undang kontroversial. Sosok pria ini ternyata yang menjadi pemantik api di Hong Kong.

Saat itu Hari Valentine 2018, seorang perempuan muda yang sedang hamil pergi liburan romantis dengan pasangannya ke Taiwan. Hari kasih sayang itu seharusnya menjadi momen yang tak telupakan bagi keduanya, terlebih menanti sang buah hati. Namun, Poon Hiu-wing tak pernah kembali ke Hong Kong. Hanya pacarnya Chan Tong-kai yang kembali ke negaranya.

Momen liburan romantis itu seakan menjadi mimpi buruk bagi perempuan berusia 20 tahun itu. Ia telah menjadi korban pembunuhan oleh pacarnya sendiri. Ia dicekik. Tubuhnya di masukkan dalam sebuah koper kecil. Lalu di buang ke semak-semak dekat stasiun bawah tanah di Taipei. 

Motif pembunuhan yang dilakukan pria berusia 19 tahun ini terbongkar, karena pacarnya diketahui membeli koper berwarna merah muda di salah satu pasar malam terkenal di Taipei. Keduanya berdebat tentang bagaimana mereka membawa semua barang tersebut, demikian menurut South China Morning Post.

Baca Juga: Hadiah Nobel Perdamaian untuk Rakyat Hong Kong

Chan yang akhirnya tersadar kemudian mengakui perbuatan kejinya ke kepolisian Hong Kong. Awalnya kasus ini hanyalah kasus kriminal lokal, detail pemberitaan media lokal mengungkap sebuah foto selfie pasangan yang diunggah ke Facebook perempuan serta rekaman kamera keamanan. 

Polisi Taiwan yang merupakan bagian dari Republik Rakyat China tentu tidak bisa mengejarnya, karena tak ada perjanjian ekstradisi antara Hong Kong dan Taiwan. Hampir setahun usai penangkapan Chan oleh kepolisian setempat. Kasus ini menjadi pemantik api dalam aksi demonstrasi yang berlangsung selama berbulan-bulan di Hong Kong. 

Pemerintah Hong Kong dan Taiwan tak memiliki perjanjian ektradisi jangka panjang atau hubungan diplomatik yang formal, sehingga Chan hanya bisa dihukum karena kejahatan pencucian uang dan bukan pembunuhan.

 

Pemantik demo besar di Hong Kong

Kasus ini memicu proposal pemerintah Hong Kong yang kontroversial. Mereka menggulirkan rancangan undang-undang (RUU) Ekstradisi. RUU ini akan memungkinkan Hong Kong untuk mengektradisi atau mengirim terduga pelaku kejahatan ke wilayah-wilayah yang tak memiliki perjanjian jangka panjang berdasarkan kasusnya, termasuk Taiwan bahkan daratan China. 

Pada 3 April, Sekretaris Keamanan John Lee memperkenalkan Rancangan Undang-Undang Ekstradisi (RUU Ekstradisi) atau dikenal sebagai The Fugitive Offenders and Mutual Legal Assistance in Criminal Matters Legislation (Amendment) Bill 2019. RUU Ekstradisi ini dianggap menjadikan China akan terlalu mencampuri urusan Hong Kong, serta mengancam setiap warganya. Hukum ini juga dianggap sebagai kriminalisasi terhadap masyarakat Hong Kong.

Ribuan orang di Hong Kong berunjuk rasa menentang aturan itu. Namun seiring berjalannya waktu, massa terus membesar hingga mencapai jutaan orang. Masifnya gelombang aksi itu kemudian membuat Pemimpin Hong Kong Carrie Lam meminta maaf dan mengatakan bahwa RUU Ekstradisi telah mati. 

Meski aturan itu dikatakan telah mati. Namun Hong Kong masih tetap bergejolak. Aksi demonstrasi dilakukan terus-menerus dan kini berkembang menjadi gerakan menuntut reformasi demokrasi yang lebih luas. Para aktivis menyebut, kebebasan penduduk kota itu sedang dikikis oleh China. Bentrokan kerap terjadi antara massa dan aparat selama demonstrasi. Kota yang merupakan bekas koloni Inggris itu sedang mengalami krisis politik terburuk sejak dikembalikan kepada China pada 1997.

Baca Juga: Mimpi Buruk Korban Penembakkan Aparat di Demonstrasi Hong Kong

 

Saat ini, Chan yang menjadi pemicu serangkaian kerusuhan di Hong Kong akhirnya bersedia untuk mengikuti peradilan di Taiwan, demikian laporan terbaru AFP yang dirilis pada (19/10). Chan kini ditahan di Hong Kong setelah ia didakwa mencuri sejumlah barang milik pasangannya. Ia akan dilepas oleh pemerintah Hong Kong ke Taiwan pekan depan. 

Kesedian Chan diungkapkan oleh pendetanya yang mengunjunginya secara rutin di penjara Hong Kong. "Saya percaya dia akan menepati janjinya," kata Pendeta Anglican terkemuka, Canon Peter Koon Ho-ming kepada AFP. 

Koon mengatakan ia telah mengunjungi Chan selama lebih dari setengah tahun. Koon mengaku awalnya Chan khawatir untuk menyerahkan diri, tetapi setelah berbicara dengan pengacara dari Taiwan dan keluarganya, ia membuat keputusan itu.  "Dia menyampaikan bela sungkawanya kepada keluarga korban dan dia memohon maaf sebesar-besarnya karena telah memicu keonaran di Hong Kong," kata Koon.

Menurut South China Morning Post, Chan juga telah menawarkan untuk menyerahkan diri kepada otoritas Taiwan. Kepala Eksekutif Carrie Lam Cheng Yuet-ngor telah menerima surat dari Chan Tong-kai yang meminta pemerintahnya membuat pengaturan.

"Biro Investigasi Kriminal Taiwan telah menerima surat yang dikeluarkan oleh Kepolisian Hong Kong, menyampaikan keputusan Chan untuk menyerahkan dirinya ke Taiwan. Surat itu juga menyampaikan bahwa otoritas Hong Kong akan membantu Chan dalam pengaturan yang relevan, dan memberikan bantuan yang diperlukan dan layak secara hukum kepada Taiwan dalam hal ini," bunyi pernyataan itu.

 

Rekomendasi