Oesman Sapta Menang Banyak

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (era.id)

Jakarta, era.id - Partai Hanura mengalami konflik internal. Dua kubu terbelah di saat Pilkada 2018 bergulir. Ada kubu Oesman Sapta Odang dan Sarifuddin Sudding.

Kisruh ini berawal karena pemecatan Oesman Sapta Odang sebagai Ketua Umum pada 15 Januari 2018. Pemecatan ini bukan tanpa sebab. Dia dianggap sewenang-wenang dan meminta mahar politik dengan jumlah tertentu. Belakangan, uang buat mahar politik itu dikatakan tidak masuk ke partai, tapi masuk ke rekening perusahaan Oesman, OSO Sekuritas.

Oesman tidak diam. Di hari yang sama, dia memecat Sudding. Ketua DPD itu pun membantah semua tuduhan kepadanya. Uang mahar politik yang itu dimasukan ke perusahaannya dengan mempertimbangkan faktor keamanan. Kubu Oesman juga memastikan uang itu tidak masuk ke rekening pribadi. Nah, besoknya, Oesman menunjuk Herry Lontung Siregar jadi sekjen pengganti Sudding.

Selanjutnya, pada tanggal 17, Oesman memamerkan surat keputusan Menteri Hukum dan HAM tentang restrukturisasi, reposisi, dan revitalisasi pengurus DPP Partai Hanura masa bakti tahun 2015-2020, dengan nomor M.HH-01.AH.11.01 tahun 2018. Dia mengklaim, dengan adanya surat ini, kegiatan Partai Hanura tanpa tanda tangannya dianggap ilegal.

Sementara, di hari yang sama, Moeldoko dilantik menjadi Kepala Staf Presiden oleh Presiden Joko Widodo. Moeldoko merupakan mantan Panglima TNI yang diajak berpolitik oleh Oesman dan dikasih jabatan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Hanura.

Keesokan harinya, pada 18 Januari, kubu Sudding menggelar Munaslub di Kantor DPP Partai Hanura, Bambu Apus, Jakarta Timur. Munaslub ini diklaim mendapatkan persetujuan dari 27 DPD dan 401 DPC, serta sudah dapat persetujuan dari Ketua Dewan Pembina Partai Hanura Wiranto. Dalam Munaslub ini, Daryatmo ditunjuk jadi Ketua Umum dan Sudding jadi sekjennya.

Hanura kubu Daryatmo gerak cepat. Pada 19 Januari mereka melaporkan hasil Munaslub ke Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly. Dalam kesempatan ini pula, mereka mendaftarkan kepengurusan versinya. Namun, Menkumham tidak buru-buru memberikan jawaban.

Selanjutnya, pada 21 Januari, aksi saling lapor polisi terjadi. Oesman dilaporkan karena dianggap menggelapkan uang mahar politik. Kubu Oesman pun melapor balik penuduh ini dengan dugaan pencemaran nama baik.

Baru pada 24 Januari, Wiranto menyatukan dua kubu untuk upaya rekonsiliasi. Wiranto bilang, semuanya sepakat menujuk Oesman menjadi Ketua Umum.

"Sudah nggak ada kubu-kubuan. Damai ya damai. (Ketua Umumnya siapa?) Pak Oso (Oesman Sapta Odang)," kata Wiranto di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (23/1/2018).

Dalam kesempatan ini, Oesman menegaskan, ada sejumlah nama yang dia pecat. Salah satunya adalah Sekretaris Jenderal Sarifuddin Sudding.

"Sudding itu, Sudding sudah dipecat dia," kata Oesman.

Sementara, Daryatmo membantah ada pemecatan terhadap Sudding. Kata Daryatmo, Sudding masih menjabat sebagai Sekjen dari kubunya.

"Belum, dia masih sekjen saya," kata Daryatmo.

Daryatmo menegaskan, rapat ini dilakukan untuk langkah rekonsiliasi partai. Nantinya, setiap kubu akan mengirimkan negosiator untuk membahas upaya rekonsiliasi ini lebih jauh.

"Poinnya nanti akan dirumuskan oleh tim negosiator, baik dari kubu kami (Daryatmo) maupun dari kubu sebelah (Oesman)," kata dia.

"Secara umum kami sudah sepakat bahwa kita islah untuk kepentingan yang lebih besar," tambah Daryatmo.

Lalu, apa lagi yang akan terjadi dengan partai yang Pada Pemilu 2014 mendapat 6.579.498 suara atau 5,26 persen atau hanya 16 kursi di DPR?

Tag: hanura oesman sapta odang

Bagikan: