Bagaimana China Melacak Tahanan dan Keluarga Uighur Sampai Tiga 'Turunan'

Tim Editor

Rozinisa Memettohti (NYpost)

Jakarta, era.id - Terakhir kali ia mendengar kabar dari keluarganya adalah lebih dari tiga tahun yang lalu, sebelum pemerintah China mulai menjebloskan para warga etnis Uighur ke dalam kamp indoktrinasi. Ia tinggal di luar negeri dan tidak tahu apa-apa tentang nasib keluarganya, sampai isi dokumen pemerintah yang bocor muncul, dan menggambarkan kehidupan etnis beragama Muslim itu dengan detail yang mengerikan.

Rozinisa Memettohti adalah seorang etnis Uighur yang telah tinggal di Turki sejak 2003. Ia terperanjat melihat saat disodorkan dokumen yang disebut sebagai Karakax Spreadsheet itu bocor dan mencantumkan nama dua saudari perempuannya telah dikirim ke kamp-kamp indoktrinasi di Xinjiang karena dituduh memiliki anak melebihi batas daripada yang diizinkan oleh wilayah tersebut. 

"Kenyataannya sudah jauh lebih buruk daripada ketakutan saya. Ayahku, saudara-saudaraku, dan saudari-saudariku dalam bahaya," katanya seperti dikutip dari NYpost, Selasa (18/2/2020).


Keluarga Rozinisa Memettohti (NYpost)


Namun meskipun dokumen menunjukkan detail tingkat pengawasan dan pemantauan di Xinjiang, dokumen itu juga mengungkapkan banyak kesalahan data.

Nama Memettohti muncul dalam daftar di bawah entri pada dua saudara perempuannya, yang ditahan dan diduga telah dibebaskan. Memettohti disebutkan tinggal di Turki dalam satu entri, tapi menurutnya data tanggal kedatangannya di Turki tidak benar.

Selama beberapa tahun terakhir, pihak berwenang di wilayah Xinjiang telah menempatkan ratusan ribu warga Uighur, Kazakh, dan kelompok minoritas Muslim lainnya ke dalam kamp-kamp indoktrinasi dalam penahanan massal terbesar sejak era kepemimpinan Mao Zedong.

Dokumen yang bocor, yakni berupa tabel informasi setebal 137 halaman, menguraikan informasi bahwa pihak berwenang di wilayah Karakax (juga dieja Qaraqosh) yang terletak di barat daya Xinjiang telah mengumpulkan data sekitar 300 orang yang ditahan di kamp-kamp indoktrinasi.

Dokumen tersebut juga mencantumkan nama, nomor induk warga, serta informasi ratusan anggota keluarga dan kerabatnya hingga tiga turunan!

Dalam dokumen yang disebutkan hanya salah satu dari banyak file yang berisi data lebih dari satu juta orang yang telah ditahan di kamp-kamp, menunjukkan berbagai perilaku yang oleh pihak berwenang dianggap sebagai masalah dan ancaman, seperti berhenti minum alkohol, atau ingin pergi haji dan umrah.

Pada kasus Memettohti, saudara-saudara perempuannya ditandai sebagai "orang yang taat beribadah dan berpartisipasi dalam upacara keagamaan secara rutin".

Laporan-laporan tentang dokumen pemerintah China lainnya yang bocor tahun lalu oleh The New York Times dan tim yang dipimpin oleh International Consortium of Investigative Journalists menunjukkan kontrol ketat yang dilakukan terhadap para tahanan di kamp-kamp indoktrinasi.

"Data di dalamnya menunjukkan bagaimana China telah mencoba untuk mengontrol warga Uighur dan kelompok minoritas lainnya atas nama perlindungan keamanan, kata seorang peneliti yang telah menganalisis dokumen Karakax Spreadsheet.


Karakax Spreadsheet (NYpost)

Zenz mengatakan dia yakin bahwa dokumen itu sah karena dia telah mencocokkan identitas 337 tahanan yang terdaftar, kerabat, dan tetangga dengan dokumen pemerintah lainnya seperti spreadsheet, dan database yang bocor dari SenseNets, sebuah perusahaan IT asal China. SenseNets bahkan memonitor koordinat GPS bersama dengan nama, nomor identifikasi, alamat dan foto para warga yang dicatat.


Kamp Indoktrinasi Xinjiang (De Morgen)

Pemerintah China selalu berkilah bahwa kebijakannya di Xinjiang dimaksudkan untuk melawan terorisme dan separatisme. Kamp tersebut juga disebut sebagai pusat pelatihan keterampilan kepada orang-orang yang mungkin rentan terhadap radikalisme.

Tapi Karakax Spreadsheet mengungkapkan bagaimana pihak berwenang China mengawasi hingga ke tiga generasi dari masing-masing keluarga tahanan, tetangga, dan teman mereka. Pejabat yang berwenang mengawasi masjid melaporkan tentang seberapa aktif warga berpartisipasi dalam kegiatan agama termasuk pengajian anak-anak, sunat, pernikahan, dan pemakaman.

Hasil pemantauan akan menentukan apakah tahanan akan dibebaskan atau berada di kamp seumur hidup tergantung dari seberapa taat mereka beribadah, asal-usul memeluk agama Islam -- apakah berdasarkan keturunan atau mualaf -- dan seberapa 'berat' lingkungan keagamaan mereka.

Pihak berwenang juga mempelajari berapa kali sehari tahanan beribadah dan apakah mereka ambil bagian dalam atau bahkan berniat pergi Haji. Tanda-tanda kesalehan juga dicatat, misalnya "Memakai janggut dari Maret 2011 hingga Juli 2014," tulis kutipan dokumen itu.

Hukuman akan dipotong atau malah dibebaskan dengan menanggalkan ciri-ciri ketaatan pada agama. Contohnya ada seorang pria yang sudah memotong janggutnya dan menenggak minuman beralkohol.

Pergi Keluar Negeri Juga Dipantau

Pihak berwenang China juga disebut memantau para warga Uighur yang bepergian ke luar negeri, terutama untuk beribadah haji atau umrah dan ke negara-negara dengan mayoritas warga Muslim. Paspor mereka pun akan ditandai khusus.

Tahanan yang dijebloskan ke kamp-kamp indoktrinasi juga mengalami tuduhan-tuduhan yang mengada-ada, seperti didakwa menjual narkoba atau kekerasan dalam rumah tangga. Yang lain dimasukkan ke dalam kamp karena mereka sebelumnya pernah menjalani hukuman bui, termasuk seorang pria yang msudah bebas hampir dua dekade lalu tapi dijebloskan kembali tahun lalu.

Zenz menghitung bahwa sekitar tiga perempat dari jumlah tahanan yang terdaftar telah dibebaskan sesuai dengan pernyataan para pejabat di Xinjiang tahun lalu bahwa mereka telah mulai menghentikan program tersebut.

Tetapi dari dokumen itu menunjukkan bahwa banyak dari mereka yang sudah dibebaskan dari kamp tapi dipaksa bekerja di gedung-gedung pemerintahan yang dikontrol ketat. Beberapa mantan tahanan juga mengaku diharuskan bekerja dengan upah rendah atau tidak sama sekali dibayar setelah bebas dari kamp.

 

Tag: uighur

Bagikan: