Bebas Bicarakan Isu Sensitif, Warga China Gabung ke Forum 'Clubhouse'

Tim Editor

Aplikasi Clubhouse. (Foto: Hypebae)

ERA.id - Pengguna internet di China dikabarkan tengah menggandrungi aplikasi diskusi berbasis suara, Clubhouse, demi bisa membicarakan isu sensitif mengenai politik di Hong Kong atau Taiwan, hingga pelanggaran HAM pada kaum Uighur, tanpa takut disensor oleh Beijing.

Aplikasi asal Amerika Serikat ini hanya bisa dimasuki via undangan dan terkhusus untuk gawai iPhone. Di dalamnya pengguna bebas mendengarkan diskusi dan wawancara yang ditampilkan layaknya sebuah tele-konferensi.

Setelah berjalan selama 1 tahun, situs-situs e-commerce kabarnya mulai menjual kode invitasi ke aplikasi Clubhouse dengan harga hingga 70 dolar AS (Rp979 ribu), seperti dilaporkan koran The Guardian.

Pada akhir pekan lalu, jurnalis asal China, analis dan pengguna Twitter dikabarkan pergi ke Clubhouse untuk mendengarkan pembicaraan antara ribuan warga etnis Han, Uighur, dan Taiwan. Orang-orang ini secara leluasa membicarakan isu-isu sensitif seperti kontroversi kamp penahanan di Xinjiang, pengawasan oleh Beijing, hingga sistem demokrasi.

Protes di Hong Kong
Warga Hong Kong memprotes dibatasinya kebebasan bersuara di China. (Foto: Flickr)

Berdasarkan penuturan orang-orang yang bergabung dalam Clubhouse, di 'ruang-ruang diskusi' tersebut tersebar informasi mengenai isi kamp penahanan dan kekerasan terhadap kaum Uighur. Mereka juga membicarakan cara melampaui penyangkalan pemerintahan Beijing atas pengakuan mantan tahanan kaum Uighur.

Dengan cepat eksistensi Clubhouse terdengar ke berbagai forum media sosial. Warga China membagikan informasi mengenai aplikasi ini di media sosial Weibo. Beberapa menyebut momen kebebasan berpendapat di Clubhouse menjadi masa "Renaisans bagi China'.

Namun, banyak orang sadar bahwa kemerdekaan berpendapat ini "tak akan berlangsung lama".

Sulit Terus-Terusan Rahasia

Internet di China diatur dengan sangat ketat dan penuh sensor. Aplikasi seperti WhatApp, Facebook, YouTube, dan Twitter pun tidak bisa digunakan di negara tersebut. Dan sejumlah orang, termasuk jurnalis Zhang Zhan yang mewartakan kondisi Wuhan di awal pandemi, telah ditahan karena membagikan informasi tertentu.

Tak heran hal yang sama akan terjadi pada Clubhouse. Meski file suara oleh pengguna tidak disimpan oleh aplikasi tersebut, namun, siapapun bisa menyebarkan percakapan itu ke luar forum. The Guardian melaporkan bahwa sejumlah pemilik akun Clubhouse pro-Beijing  mempublikasikan tangkapan layar percakapan 'rahasia' itu ke Twitter.

Tabloid 'plat-merah' China, Global Times, pada Senin telah mempublikasikan informasi mengenai Clubhouse, namun, cenderung menyebut diskusi politik di aplikasi tersebut berat sebelah dan sekadar menyebarkan rumor tak berdasar mengenai isu Xinjiang.

Selain itu, belakangan diketahui bahwa server yang digunakan aplikasi Clubhouse merupakan perusahaan asal China, Agora. Analis Fergus Ryan dari the Australian Strategic Policy Institute sudah mengingatkan adanya aturan yang mewajibkan perusahaan China untuk membantu Beijing dalam "melakukan investigasi kriminal" terhadap hal-hal yang melanggar keamanan publik dan nasional China.

Tag: china uighur Xinjiang

Bagikan: