Potret Buram Kemerdekaan Pers Orde Baru

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Fuad Muhammad Syafruddin, yang akrab dengan julukan wartawan Udin adalah potret buram kebebasan pers di masa orde baru. Gara-gara berita, Udin dibunuh.

Udin yang saat itu berusia 32 tahun bekerja sebagai jurnalis di surat kabar Harian Bernas Yogyakarta. Ia kerap menulis artikel kritis tentang kebijakan pemerintah Orde Baru dan militer.

Pada Selasa 13 Agustus 1996, sekitar pukul 23.30 WIB, Udin dianiaya orang tak dikenal di depan rumah kontrakannya di Dusun Gelangan Samalo, Jalan Parangtritis KM 13, Yogyakarta. Udin yang koma karena penganiayaan tersebut langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta.

Esok paginya, Udin menjalani operasi otak di rumah sakit akibat pukulan batang besi di bagian kepala. Setelah tiga hari berjuang melawan maut dengan kondisi koma, Jumat 16 Agustus 1996, pukul 16.50 WIB Udin dinyatakan meninggal dunia.

Sejak Udin mengalami koma dalam rentang waktu yang cukup panjang, hampir seluruh media massa meliput aksi kekerasan yang dialami Udin.

Kasus Udin semakin gaduh ketika Kanit Reserse Umum Polres Bantul Edy Wuryanto dilaporkan telah membuang barang bukti, yakni sampel darah dan buku catatan Udin, dengan dalih melakukan penyelidikan dan penyidikan. Akibat tindakannya, Edy hanya dimutasikan dari tempat dinasnya di Yogyakarta ke Mabes Polri di Jakarta.

Banyak pihak yang coba menggelapkan kasus Udin. Seorang perempuan, Tri Sumaryani, mengaku ditawari sejumlah uang sebagai imbalan dengan membuat pengakuan bahwa Udin melakukan hubungan gelap dengannya dan kemudian dibunuh oleh suaminya.


Wartawan Udin (foto: Istimewa)


Dwi Sumaji alias Iwik, seorang sopir perusahaan iklan, juga mengaku dikorbankan oleh polisi untuk membuat pengakuan bahwa ia telah membunuh Udin. Iwik dipaksa meminum bir berbotol-botol dan kemudian ditawari uang, pekerjaan, dan seorang pelacur.

Namun di pengadilan, pada 5 Agustus 1997 Iwik mengatakan, "Saya telah dikorbankan untuk bisnis politik dan melindungi mafia politik."

Sebelum meninggal, beberapa tulisan Udin nampak jelas mengkritisi kekuasaan Orde Baru dan militer. Tulisan yang cukup menyengat di antaranya 3 Kolonel Ramaikan Bursa Calon Bupati Bantul, Soal Pencalonan Bupati Bantul: Banyak 'Invisible Hand' Pengaruhi Pencalonan, Di Desa Karangtengah Imogiri, Dana IDT Hanya Diberikan Separo dan Isak Tangis Warnai Pengosongan Parangtritis.

Atas kegigihannya menyuarakan kebenaran, Udin dianugerahi penghargaan Suardi Tasrif Award oleh Aliansi Jurnalistik Indonesia untuk perjuangannya bagi kemerdekaan pers, pada 22 Juni 1997.

Semenjak itu, setiap tahun AJI mengaugerahkan Udin Award kepada jurnalis atau sekelompok jurnalis yang menjadi korban kekerasan karena komitmen dan konsistensinya dalam menegakkan pers, demi kebenaran dan keadilan.


(Infografis: Yuswandi/era.id)

Tag: hari pers nasional 2018 kekerasan wartawan

Bagikan: