Sama-Sama Punya Kadar Alkohol, Mengapa Tape Halal dan Bir Tidak Halal?

Tim Editor

Ilustrasi tape. (Foto: Istimewa)

Jakarta, era.id - Tape atau tapai merupakan kudapan yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan pangan berkarbohidrat sebagai substrat oleh ragi. Pertanyaan sederhana yang sering muncul adalah soal mengapa tape yang punya kadar alkohol 7-10 persen disebut halal, sedangkan bir yang hanya 0-3 persen tidak halal.

Anggi Yoga Pratama, lulusan teknologi pertanian, lewat Quora, menjawab pertanyaan itu secara ilmiah. Ia menjelaskan, Dr. Anton Apriantono, mantan menteri era SBY dan staf pengajar di Insititut Pertanian Bogor, pernah menjelaskan kalau kadar alkohol tape bervariasi dan meningkat pada hari-hari berikutnya.

Pada fermentasi hari pertama, kandungan alkoholnya 1,76 persen dan hari kedua 3,3 persen.

Kadar alkohol pada hari ketiga bisa lebih tinggi lagi.

Hasil analisis Yulianti (2014) menunjukkan, bahwa kandungan alkohol tape pada fermentasi hari ke-6 mencapai 6,90 persen (tape singkong), 8,94 persen (tape ketan hitam), dan bahkan 11,00 persen (tape beras).

Menariknya, kok ulama tidak langsung memvonis haram tape? Sebab jika dilihat secara pandangan umum, diharamkan minuman keras dari kelompok bir yang kadar alkoholnya hanya 3-5 persen saja atau bahkan lebih rendah dari itu.


Kandungan alkohol tape pada hari pertama mencapai 1,76 persen. (Foto: Commons Wikimedia)

Ternyata, hukum halal-haram tidak dikaitkan dengan keberadaan senyawa alkoholnya, melainkan sifat atau efek khamr alias efek memabukkannya.

Mengapa begitu, karena tidak pernah ada ayat Quran yang menyatakan bahwa alkohol itu haram. Yang ada, dalil pengharaman khamr sebab mampu menutup akal pikiran alias memabukkan saat dikonsumsi.

Istilah 'alkohol' di masa Nabi, belumlah dikenal. Buktinya, sampai hari ini, beberapa produk, alkohol sangat akrab bagi kita. Seperti cairan pembersih tangan dan lain-lain.

Jika senyawa alkohol haram, maka kita takkan bisa menyantap durian, sirsak, nangka, cempedak masak, yang bisa mengandung alkohol di atas 3 persen.

Richa Malhotra (BBC, 2017) pernah menyebutkan bahwa buah yang sangat masak dan jatuh dari pohon bisa mengandung ethanol atau ethyl alcohol 4,5 persen.

Tapi ulama merekomendasikan, jika makan tape, maka sebaiknya membuang semua cairan di sekitarnya. Bagaimana dengan cairan yang masih menempel pada padatan?

Cairan yang masih menempel pada padatan (setelah ditiriskan) termasuk rukshah atau keringanan dari Allah. Ia halal dimakan. Hal ini dianalogkan dengan hukum darah yang masih tersisa dan menempel pada organ dalam ketika seekor binatang halal disembelih secara syar’i.


Tape ketan. (Foto: Commons Wikimedia)

Nah, kini membahas khamr. Khamr terdiri dari 2 jenis, yaitu yang mengandung alkohol dan tidak. Contoh yang mengandung alkohol yakni bir-bir yang kerap ditemukan di pasar atau klub dan marak diteguk orang.

Ambil misal, aneka jenis arak masak yakni ang ciu/arak merah, arak putih, arak mie, arak gentong, sake, sari tape, dll. Aneka bahan roti beralkohol (rhum, essence beralkohol, dll), beraneka cairan yang mengandung alkohol dan keluarganya (metanol, etanol, butanol/spiritus, propanol, dll), serta produk-produk lain, seperti kirsch, brandy, spirits, wine, dll.

Soal ang ciu yang kerap dipakai dalam beberapa makanan khas China, chef Haryo Pramoe, pernah berujar jika untuk memutuskan restoran menjual makanan haram atau tidak hanya karena pakai ang ciu, sebaiknya melihat dulu fatwa MUI untuk restoran tersebut.

Sebab menurutnya, untuk menghukumi haram dan tidak dalam suatu produk hingga menjadi perdebatan, sungguh panjang prosesnya dan banyak pandangan yang harus dilihat.

Sementara khamr yang tidak mengandung alkohol yakni ganja, morfin, opium, marijuana, sabu-sabu, extacy, serta beraneka jenis obat yang tergolong psikotropika.

Psikotropika ini termasuk mukhadirot dan masuk dalam golongan al khamr. Seluruh produk tersebut di atas mengakibatkan mabuk atau tidak sadarkan diri.

Khamr pasti 100 persen haram. Diminum sedikitpun tetap haram. Bagaimana dengan bir yang kandungan alkoholnya sangat sedikit, atau bahkan 0 persen sekalipun? Jawabannya haram.

MUI Pusat menghukumi bir 0 persen alkohol tetap haram, karena kedua jenis produk tersebut memenuhi salah satu kaidah fiqih dalam penetapan hukum (haram).

1. Al hukmu yadluru ma’al illati

(Hukum itu ditetapkan karena ada sebab). Karena beberapa pihak melaporkan bahwa, ternyata ketika mengkonsumsi bir 0 persen alkohol tetap merasa mabuk, maka kedua jenis produk tersebut akhirnya dihukumi haram.

2. Al washilatu illa haramun haram

(Segala sesuatu yang menyerupai suatu produk haram, maka dihukumi haram). Oleh sebab itu, pengimitasian pada produk haram (bir) menjadikan kedua jenis produk tersebut dihukumi haram.

Tentu saja hal ini tidak mesti langsung diterima begitu saja. Apalagi jika sebuah produk berdiri di antara hukum haram dan halal. Nah, untuk memastikannya lebih jauh, maka perlu meminta saran MUI atau ahli fiqih.

Tag: alkohol

Bagikan: