Kisah Djuwari si Pemikul Tandu Jenderal Sudirman yang Kini Terlupakan

Tim Editor

Djuwari yang ikut memanggul tandu Jenderal Sudirman. (Foto: Istimewa)

Pada tahun 1948, setelah memikul tandu Jenderal Sudirman yang melanjutkan gerilya ke desa lain di Kediri, Djuwari berjalan kaki pulang ke Goliman di kaki Gunung Wilis. Tak ada yang menyangka pengabdiannya di masa gerilya pasca-kemerdekaan itu hanya berbalas kenangan belaka.

Djuwari berumur 21 tahun ketika rombongan Jenderal Sudirman tiba di Dusun Goliman, tempatnya tinggal. Kala itu Republik Indonesia masih berumur 40 bulan dan Belanda sedang melancarkan Agresi Militer II pada bulan Desember 1948. Jenderal Sudirman, yang kesehatannya telah menurun drastis akibat sakit TBC, harus berhenti di Goliman untuk merencanakan taktik gerilya melawan Belanda.

Pada suatu saat, tiba saatnya rombongan gerilya Sudirman untuk bergerak menuju Desa Bajulan yang berjarak kira-kira 30 kilometer dari lokasi peristirahatan tersebut. Dan sang Jenderal memerlukan pemanggul tandu. Akhirnya, ikutlah Djuwari, bersama tiga pemuda Goliman lainnya, yaitu Warso Dauri, Martoredjo, dan Djoyo Dari. Hari itu tertanggal 6 Januari 1949.

Dengan bahasa Jawa, Djuwari mengatakan perlu waktu seharian untuk menempuh jarak yang umumnya ditempuh 6 jam saja jika berjalan kaki normal. Medan yang ditempuh berbukit-bukit, dan mereka harus berhenti beberapa kali untuk menyantap perbekalan. "Dulu memanggul tandunya bergantian. Kira-kira total ada tujuh pemanggul."


Jarak perjalanan antara Dusun Goliman ke Dusun Magersari bila dijalani menurut rute modern (Google Maps)

Sesampainya di Dusun Magersari, rombongan Djuwari harus berpisah dengan sang Jenderal. Namun, sebelum kembali ke Goliman, Jenderal Sudirman memberi Djuwari sebuah kain jarik dan sarung sebagai tanda terima kasih. Ia juga diberi pesan oleh Pak Dirman, sapaannya atas Jenderal Sudirman. "Pak Dirman pesan, hidup itu harus rukun dengan tetangga, satu sama lain. Satu desa harus rukun semua."

Tak Diperhatikan

Tenaga dan pengabdian Djuwari mungkin menjadi penghubung etape gerilya sekaligus penyambung nafas republik dari serangan agresi Belanda. Namun, selama puluhan tahun setelah peristiwa awal 1949 itu, hidup Djuwari tak lantas berkecukupan.

Apresiasi pemerintah Indonesia cenderung sangat minim. Djuwari masih beberapa kali menerima sekarung beras di jaman pemerintahan Soeharto. Lalu, pada suatu saat, seorang cucu Sudirman sendiri datang menemuinya dan memberinya uang 500 ribu rupiah. Setelah jatuhnya rezim Orde Baru, ia mengaku tak pernah menerima bantuan dari pemerintah.

"Yang penting sudah pernah memanggul Jenderal, Pak Dirman," katanya saat diwawancarai VOA-Islam.


Foto Djuwari dan rekonstruksi perang gerilya yang dipimpin Jenderal Sudirman.

Di masa tuanya, Djuwari tetap tinggal di Dusun Goliman sebagai petani. Rumah-rumah di dusun itu masih "berdinding anyaman bambu," seperti ditulis dalam narasi wawancara yang sama. Bila ada rumah warga yang sudah ditembok, itu pun umumnya belum dipermak semen. Kediaman Djuwari pun serupa sederhana dan belum dilengkapi lantai.

Negeri ini kadang begitu abai terhadap sosok-sosok sederhana yang berkontribusi di belakang layar. Ketika alat panggul Jenderal Sudirman saat ini disimpan rapi dalam sebuah rak kaca di Museum Satria Mandala, orang-orang seperti Djuwari, yang menjadi penyambung nafas republik, harus berjibaku dengan nasib dan terabaikan sepanjang hidupnya.

Tag: pahlawan nasional sejarah

Bagikan: