Manajemen Mental Biar Enggak Gampang 'Mental'

Tim Editor

Ilustrasi (Abid Farhan Jihandoyo/era.id)

Jakarta, era.id - Berbagai kasus yang terjadi pada bintang-bintang Korea Selatan membuka tabir gelap di balik gemerlap panggung K-Pop. Isu pelecehan seksual, tekanan karier, perbudakan, hingga tingginya angka bunuh diri membuktikan betapa industri hiburan Korsel sejatinya adalah sebuah rimba yang begitu keras. Siapa tak kuat mental, dipastikan bakal 'mental'.

Pakar psikologi klinis dari Universitas Tarumanegara (Untar), Debora Basaria menjelaskan fenomena itu lewat sudut pandang keilmuan yang ia kuasai. Besarnya tekanan untuk selalu tampil sempurna harus mampu dihadapi setiap selebritas.

Manajemen mental adalah kunci agar setiap selebritas tak mudah larut dalam berbagai keterpurukan. "Artis harus punya resiliensi atau daya lenting yang baik," kata Debora kepada era.id, beberapa waktu lalu.

Dalam ilmu psikologi klinis, resiliensi atau daya lenting adalah kemampuan seseorang untuk bangkit dari keterpurukan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Grotberg. Artinya, tiap kali terpuruk, seorang selebritas harus mampu bangkit.

Kabar baiknya, ilmu psikologi klinis percaya kekuatan mental dapat dilatih, termasuk bagaimana mengelola ketahanan mental itu. Resiliensi, dikatakan Debora juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial. "Tentu soal resiliensi ini tidak lepas dari dukungan sosial juga," ujar Debora. 

Teori resiliensi dari Grotberg menjelaskan tiga kriteria yang harus dipenuhi setiap individu untuk mampu mengelola mentalnya dengan baik. Pertama adalah I have, I am, dan I can. Dukungan sosial, kata Debora adalah I have. Lalu, I am adalah pembentukan citra positif si bintang. Sedangkan I can mengacu pada kemampuan artis dalam mengomunikasikan permasalahan yang dimiliki dan kemampuannya mengambil langkah untuk pemecahan masalah yang sehat.

Di Indonesia, Debora menyebut satu nama yang ia anggap memiliki kemampuan mengelola mental dengan baik, Maia Estianty. Berbagai persoalan hidup yang menerpa Maia, mulai dari perceraian hingga pasang surut kariernya berhasil dilalui dengan mulus, tanpa sedikit pun kelakuan konyol yang dapat berakibat pada laju kariernya. Kerennya lagi, Maia tetap produktif sebagai produser musik, dan masih eksis di layar kaca. Bahkan menjadi juri dalam ajang pencarian bakat Indonesian Idol. 

Selain mengelola mental, setiap selebritas harus mampu menjaga kerendahan hatinya. Dalam teori psikologi Bronfenbrenneur, dikenal konsep ecological system yang menjelaskan bagaimana perilaku setiap orang dipengaruhi faktor internal dan eksternal. "Internal itu dari kebutuhan si individu sendiri. Nah kalau eksternal biasa dilihat dari pola asuh orangtua," ujar Debora Basaria, psikolog klinis dari Libera Insani dan dosen psikologi komunikasi dan klinis di Universitas Tarumanagara. Lebih lanjut, teori ekologi ini menjelaskan mengenai hubungan individu dengan lingkup kecilnya atau yang dikenal dengan mikro-sistem.

Biasanya hubungan ini berlangsung antara diri sendiri dengan keluarga, lingkup pertemanan dekat, di sekitar rumah atau tempat kerja. Sementara makro-sistem cakupannya lebih luas sudah di ranah sosial-masyarakat di luar lingkungan tempat tinggal maupun kerja. Debora kemudian mencoba membandingkan dengan sosok artis yang tetap rendah hati, meski namanya diagung-agungkan di mana-mana.

Menurut Debora, faktor-faktor yang membentuk artis yang tetap rendah hati ini sama saja dari internal dan eksternal. Hanya saja letak perbedannya yang rendah hati memiliki kontrol diri yang lebih tinggi. "Nah, makanya artis yang enggak sombong ini masih kelihatan baik sebab dia menghargai yang namanya proses," ujar Debora.


Infografis (Ira/era.id)

Tag: era budaya instan

Bagikan: