Ketika Folk 'Kawin' dengan Pentatonik Sunda

Tim Editor

Ilustrasi (Hilmi/era.id)

Jakarta, era.id - Bukan tanpa alasan Tigapagi memilih aliran folk sebagai ruh bermusik. Melalui genre ini, grup musik asal Bandung itu berhasil mengawinkan irama pentatonik Sunda hingga bercita rasa era 60an.

Sang vokalis, Sigit Agung Pramudita, dalam wawancara dengan Antara 4 April 2015 menuturkan, bahwa unsur pentatonik Sunda sangat dipengaruhi dari kehidupannya yang tumbuh di Tanah Pasundan. Dia bersama kedua pendiri Tigapagi, Eko Oktavianto dan Prima Febrianto mengaku sudah menyadari sejak kecil bahwa musik Sunda sudah menjadi ruh bagi mereka yang tidak mungkin hilang.

Dalam tangga nada pentatonis sunda terdapat lima nada, Da-Mi-Na-Ti-La-Da. Nada tersebut terbagi menjadi tiga laras yaitu Pelog, Sorog (Madenda) serta Salendro, dan nada ini bisa harmonis dengan nada diatonis, Do-Re-Mi-Fa-Sol-La-Si-Do.

"Kami tumbuh di lingkungan yang kental dengan musik dan kultur Sunda. Seiring perjalanan, hal itu kemudian hilang. Beranjak dewasa, dengan segala referensi, kami mencoba menemukan kembali, apa sih rumah itu? Apa musik yang bisa membuat kita berada di rumah?" kata Sigit dalam wawancara dengan bbc.com.
 
Irama pentatonik Sunda begitu terasa pada lagu ini. 

Jika berpikir Tigapagi hanya 'cocoklogi' dengan mengombinasikan pentatonik Sunda dengan folk, kamu salah besar. Kenapa? Corak musik folk memang berbeda-beda dan sangat dipengaruhi letak geografis.

Folk terbentuk dari kreativitas dan kearifan lokal suatu masyarakat. Perbedaan alam dan sifat lingkungan juga sangat memengaruhi cita rasa genre ini. Enggak menutup kemungkinan Tigapagi bakal punya panggung sendiri di kancah internasional, dengan tetap mengawinkan pentatonik Sunda ke dalam musiknya. 
 
Nada pentatonik Sunda biasa digunakan pada alat musik tradisional khas Sunda yakni kecapi.

Seperti di Balkan, misalnya, yang melahirkan alunan musik folk dari lantunan merdu akordion; di Spanyol dengan petikan gitar khas mengeringi tarian Flamenco; dan di Turki dengan Arabian Culture Music. Begitu juga dengan Afrika, Asia, Rusia dan belahan bumi lain mereka memiliki folk dengan karakteristik tersendiri.

Urusan karier musik Tigapagi juga bukan 'pepesan kosong'. Band ini berhasil menduduki jajaran 10 band terbaik di ajang LA Light Indiefest. Band yang dibentuk tahun 2006 itu bahkan pernah masuk majalah Rolling Stone Indonesia, dan didapuk sebagai band pendatang baru terbaik alias Rookie of the year 2004.

Selain harmonisasi musiknya yang apik, tembang-tembang yang dilantunkan Tigapagi juga syarat dengan makna. Album perdana mereka yang berjudul Roekmana’s Reportoire yang dirilis pada akhir tahun 2013, berhasil meraih predikat album terbaik 2013 versi majalah Rolling Stone Indonesia

Dalam perjalannya, Tigapagi bertemu dengan Roekmana, seorang gitaris klasik yang mendokumentasikan musik Sunda pentatonik ke diatonik. Meski begitu, bukan berarti mereka anti musik barat. Jika menyimak duet mereka dengan Kartika Tjahja lewat lagu Bailar, alunan musik khas Spanyol pun dengan ciamik dapat mereka mainkan.


Para musisi dengan aliran folk. (Hilmi/era.id)

Tag: era eksistensi budaya

Bagikan: