20 Tahun Lalu: Intelektual Kampus Tuntut Reformasi

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Saat akademisi turun gunung mendesak reformasi 1998 (Ayu/era.id)

Jakarta, era.id - Akademisi dari ITB, UGM, UI, IPB, dan Unair membentuk aliansi dan mengeluarkan pernyataan bersama mendukung bergulirnya reformasi yang disuarakan mahasiswa. Itulah yang terjadi 8 Mei 1998, 20 tahun silam.

Para intelektual tersebut mengemukakan pernyataan bersama atas dasar dorongan dari tanggung jawab moral terhadap masa depan bangsa. Deklarasi ini digelar dalam pertemuan di Balai Pertemuan Ilmiah (BPI) ITB.

Pernyataan tersebut dibacakan Guru Besar ITB, Prof Sudjana Sapi'ie. Para guru besar sepakat, aspirasi dan tuntutan mahasiswa tentang reformasi di segala bidang, didasari pemikiran yang objektif. Makanya para sesepuh kampus ini merasa perlu untuk mendukungnya.

"Karena itu perlu didukung oleh seluruh jajaran dosen, guru besar, pimpinan dan segenap civitas akademika perguruan tinggi di seluruh Indonesia" kata Sudjana saat itu.

Para intelektual ini berpandangan, tuntutan reformasi harus dipersiapkan dengan matang dan perlu diberi isi dan arah yang jelas. Tuntutan-tuntutan reformasi harus dijabarkan ke dalam konsep strategi, kebijakan, dan aturan, yang tujuannya untuk memberdayakan masyarakat dan membatasi kekuasaan penyelenggara negara.

Baca juga: Reformasi Bersyarat ala Presiden Soeharto

Mereka menyerukan kepada seluruh civitas akademika perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia. Selain itu mereka juga berseru kepada cendekiawan, alumni, kelompok profesional, LSM, organisasi-organisasi kemasyarakatan serta keagamaan untuk bersama-bersama menggalang kekuatan. Sehingga reformasi dapat tercipta secara menyeluruh.

Pertemuan tadi dihadiri 21 guru besar. Sebelum memaparkan pernyataannya terkait reformasi, mereka bertukar informasi terlebih dahulu selama enam jam. Mereka berdiskusi soal keadaan ekonomi, sosial, dan politik di Indonesia terkini.

Baca juga: Tahun 1998, Saat Harga BBM Naik




Seperti diberitakan Harian Pikiran Rakyat 9 Mei 1998, guru besar yang hadir di antaranya; Prof Emil Salim dan Prof Ismet dari UI, Prof Ichlasul Amal (Rektor UGM), Prof Lukman Soetrisno (UGM), Prof Puruhito (Unair), Prof Oetomo (IPB). 

Sementara itu dari ITB ada Prof Iskandar Alisyahbana, Prof Sudjana Sapi'ie, Prof Bambang Hidayat, Prof Samaun Samadikun, Prof Goeswin Agoes, Prof Filino Harahap, Prof Matthias Aroef, Prof MT, Zen, Prof Imam Buchori, Prof Saswinadi Sasmojo, Prof Moedomo, Prof Rubini, dan Prof Sularso.

Reformasi Golkar dan Orsospol

Emil Salim menjelaskan, dalam pertemuan tersebut ia menggulirkan perlunya reformasi khususnya di tubuh Golkar. Buat Emil, Orsospol (organisasi sosial politik) dan Golkar harus menjadi independen dan berorientasi pada rakyat. 

Dirinya juga menyinggung reformasi harus bergulir secepatnya tanpa menunggu tahun 2003. Sehingga baik Orsospol maupun Golkar bisa mencerminkan aspirasi anggotanya. (Untuk lebih jelas mengapa disebut tahun 2003, silakan klik di sini)

"Pokoknya harus ada tanda-tanda bahwa reformasi ini dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bukan reformasi kosmetik. Untuk hal-hal yang dirasa perlu dan dapat dilakukan segera, harus dilakukan sekarang," tukasnya.

Reformasi ekonomi, politik, dan moral

Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) menuntut pemerintah dan lembaga legislatif sesegera mungkin melakukan reformasi pada bidang ekonomi, politik, dan moral. Mereka sepakat, krisis ekonomi, politik dan moral bangsa yang terjadi saat ini bersumber pada kepemimpinan nasional.

Suryo Adiwibowo, wakil alumni IPB mengatakan reformasi akan berjalan efektif, singkat, dan damai apabila pemimpin negara saat ini segera mempertanggungjawabkan krisis dalam Sidang Istimewa (SI) MPR.

Tag: peringatan 20 tahun reformasi

Bagikan: