Tragedi Trisakti dan Peran Timur Pradopo

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Penembakan dan tindakan represif aparat menyulut amarah mahasiswa. (Foto: Common Wikimedia)

Tragedi penembakan pada 12 Mei 1998 masih diselimuti tanda tanya, tentang siapa yang sebenarnya bertanggung jawab dari gugurnya empat mahasiswa Trisakti. Tindakan represif aparat kala itu, masih membekas jelas di ingatan para pelaku sejarah. Serial peringatan 20 tahun reformasi dari era.id kali ini akan membahas alotnya negosiasi antara mahasiswa dan polisi yang berujung bentrok.

Jakarta, era.id
- Kapolres Metro Jakarta Barat Timur Pradopo akhirnya turun tangan mengambil alih komando, yang kala itu dipegang Wakapolres Jakarta Barat Herman Hamid. Pasalnya, menjelang sore situasi di luar kampus Trisakti semakin memanas.

Polisi lengkap dengan tameng dan pentungan dalam dua barisan menghadang para mahasiswa yang tengah long march menuju Gedung DPR/MPR. Bentrok antar kedua kubu ini pun tak bisa dihindari. Entah siapa yang memulai duluan, tapi ejekan antar dua pihak terdengar jelas. 

Benar saja, sejurus kemudian, tembakan gas air mata mendarat di sisi mahasiswa. Mereka langsung berhamburan menuju kampus menyelamatkan diri. Suara tembakan pada saat itu terdengar sangat jelas.

Baca Juga : 20 Tahun Reformasi: Kamar Kenangan Hafidhin Royan


Mahasiswa dipukul mundur polisi. (Foto: Reuters)

Baca Juga : 20 Tahun Lalu: Intelektual Kampus Tuntut Reformasi

Mengetahui memanasnya kedua kubu, Timur bergegas menuju titik bentrokan guna melakukan mediasi dan meredam ketegangan. Kabarnya, ia langsung menemui Dekan Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Adi Andojo, sebagai upaya mengentikan bentrokan. Pertemuan itu berhasil membuahkan hasil, keduanya bersepakat menarik mundur massanya masing-masing.

Namun demikian, Sinansari Ecip dalam bukunya Prabowo, Siapa "Dalang" terbitan tahun 1999 menyebutkan, ketika kedua kubu mulai mundur, tiba-tiba ada seseorang berlari menuju barisan mahasiswa dan mengaku sebagai alumni Trisakti.

Aksi itu pun kemudian dicurigai para mahasiswa sebagai intel dari kepolisian yang mencoba menyusup di barisan. Ketegangan yang mereda seketika kembali memanas. Mahasiswa saat itu menuding tidak ada itikad baik dari Korps Bhayangkara untuk menghentikan bentrokan--malah mengirimkan mata-mata.

Baca Juga : Kisah Sunarmi, Ibu Korban Penembakan Trisakti

Situasi pun kembali memanas, Timur kembali berunding dengan pihak kampus. Ia menegaskan dan meyakinkan civitas akademika kampus biru, bahwa seseorang yang berlari itu bukanlah intel ataupun bagian dari aparat kepolisian.

Rupanya dialog yang dibuka Timur, tak diindahkan mahasiswa yang kepalang tersulut emosinya. Sejurus kemudian, pasukan yang dibawa Timur juga ikut-ikutan terbakar api amarah. Perintah Timur untuk tetap tenang juga tak didengar.


(Infografis/era.id)

Baca Juga : Reformasi Bersyarat ala Presiden Soeharto

Saat bentrokan dengan aparat keamanan mulai pecah, massa didorong masuk oleh aparat keamanan. Di tengah keributan tiba-tiba terdengar suara tembakan. Sontak massa aksi pun berhamburan ke dalam kampus sambil mencari tempat berlindung. 

Kala itu, letusan senjata terdengar dari arah belakang atau barisan aparat keamanan yang ada di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Gas air mata berhamburan ke arah mahasiswa yang masih berada di luar kampus. Tak hanya itu, para mahasiswa yang berusaha masuk ke dalam kampus pun menerima kekerasan fisik seperti dipukul dan ditendang, malah kabarnya ada juga mahasiswi yang mengalami pelecehan. 

Empat mahasiswa Trisakti yakni, Elang Mulia, Hafidin Royan, Hendrawan Lesmana dan Heri Hertanto gugur di tengah bentrokan. Proyektil peluru tajam ditemukan di area vital, ada di dahi dan tembus ke daerah belakang kepala, ada di bagian leher, di punggung, dan di bagian dada. Selain itu 15 orang terluka serta cidera.
 

Tag: peringatan 20 tahun reformasi menolak lupa tragedi trisakti

Bagikan: