Peringatan 20 Tahun Reformasi: Tragedi Penembakan di Trisakti

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Korban penembakan tragedi Trisakti (Wildan/era.id)

Peringatan 20 tahun reformasi dan tragedi penembakan di Trisakti masih membekas di benak bangsa Indonesia. Penembakan empat mahasiswa Trisakti kala itu, benar-benar bikin amarah rakyat dan mahasiswa memuncak. Tindakan represif aparat dan gugurnya para pejuang reformasi menjadi saksi bisu dalam tragedi kelam Trisakti. Serial panjang peringatan 20 tahun reformasi dari era.id masih terus berlanjut.

Jakarta, era.id - Proyektil peluru tajam yang bersarang di jenazah empat mahasiswa Trisakti membuat Kapolda Metro Jaya Mayjen Pol Hamimi Nata tercengang. Ia tak pernah memberi instruksi anggotanya menggunakan peluru tajam, melainkan hanya peluru karet yang jumlahnya pun terbatas.

"Dari mana datangnya peluru ini?" tanya Hamimi keheranan.

Saat itu, dokter Forensik Universitas Indonesia, Abdul Mun'im Idris membeberkan hasil autopsi empat mahasiswa Trisakti yang menjadi korban penembakan saat menggelar aksi unjuk rasa menuntut agenda reformasi.

Baca Juga : Kisah Sunarmi, Ibu Korban Penembakan Trisakti


Korban penembakan tragedi Trisakti. (Infografis/era.id)

Sebelumnya, Abdul Mun'im mendapat telepon dari Kasat Serse Polres Metro Jakarta Barat Idham Aziz untuk mengautopsi jenazah ke empat korban penembakan yakni Elang Mulia Lesmana, Hery Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. 

Baca Juga : Peringatan 20 Tahun Reformasi: Habibie dan Transisi Orde Baru

Setibanya di Rumah Sakit Sumber Waras, Mun'im bertemu dengan mahasiswa dan keluarga korban penembakan. Awalnya mereka menolak untuk dilakukan autopsi. Namun setelah Mun'im meyakinkan, akhirnya mereka mengizinkan dan pemeriksaan pun dimulai.

Pemeriksaan korban penembakan berlangsung selama kurang lebih 90 menit. Dari pemeriksaan tersebut, masing-masing korban ditemukan luka tembak di area vital, ada di dahi dan tembus ke daerah belakang kepala, ada di bagian leher, di punggung, dan di bagian dada. 

Dari luka-luka terlihat tak hanya sekadar itikad meredam keributan saat kejadian, melainkan sebuah tindakan nekat yang berujung kepada kematian.

Kronologi penembakan di Trisakti

Unjuk rasa yang berlangsung pada 12 Mei 1998 itu mulai pecah sekitar pukul 18.00 WIB. Mulanya para civitas akademika Universitas Trisakti yang hendak melakukan long march ke Gedung MPR/DPR mendapat penolakan dari pihak keamanan. Negosiasi antar keduanya berlangsung alot.

Setelah berhasil menembus gerbang kampus, para mahasiswa menggelar mimbar bebas di depan kampus. Aksi mulai memanas setelah seorang yang mengaku alumni Universitas Trisakti, Mashud, menyusup dan memancing keributan. 

Baca Juga : 20 Tahun Reformasi: Kamar Kenangan Hafidhin Royan

Saat bentrokan dengan aparat keamanan mulai pecah, massa didorong masuk oleh aparat keamanan. Di tengah keributan tiba-tiba terdengar suara tembakan. Sontak massa aksi pun berhamburan ke dalam kampus sambil mencari tempat berlindung. 


Penembakan dan tindakan represif aparat menyulut amarah mahasiswa. (Foto: Common Wikimedia)

Kala itu, letusan senjata terdengar dari arah belakang atau barisan aparat keamanan yang ada di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Gas air mata berhamburan ke arah mahasiswa yang masih berada di luar kampus.

Tak hanya itu, para mahasiswa yang berusaha masuk ke dalam kampus pun menerima kekerasan fisik seperti dipukul dan ditendang, malah kabarnya ada juga mahasiswi yang mengalami pelecehan. 

Baca Juga : 20 Tahun Reformasi: Mengingat Tuntutan Demonstran

Tembakan peluru karet pun sempat mengenai bagian pinggang Ketua Senat Mahasiswa Universitas Trisakti, Hendra. Merujuk sejumlah saksi mata dan pemberitaan media kala itu, aparat yang berada di atas jembatan layang mengarahkan senjata mereka ke dalam kampus.

Ceceran darah dan pecahan kaca terlihat jalas pasca penembakan tersebut. Tangisan ketakutan masih terdengar dari sudut-sudut kampus biru.

Setelah korban-korban yang berjatuhan dievakuasi ke Rumah Sakit Sumber Waras, barulah diketahui bahwa tiga mahasiswa tewas di tempat, dan satu orang lagi dinyatakan tewas di rumah sakit, selain itu 15 orang terluka serta cidera.
 

Tag: peringatan 20 tahun reformasi menolak lupa tragedi trisakti

Bagikan: