20 Tahun Reformasi: Keadilan untuk Korban Tragedi Trisakti

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Monumen peringatan korban tragedi Trisakti (Foto: Yohanes/era.id)

Tanda tanya masih menyelimuti peristiwa kerusuhan 12 Mei 1998 yang dikenal dengan Tragedi Trisakti. Masih bagian dari artikel berseri Peringatan 20 Tahun Reformasi, kami bakal ajak kamu mengingat, apa saja tuntutan reformasi dari para pejuang reformasi yang belum terwujud hingga saat ini. Untuk mereka, yang mati dalam Tragedi Trisakti.


Jakarta, era.id
- Peristiwa yang terjadi di Kampus Trisakti pada 12 Mei 1998 masih diingat betul oleh Hendra, Ketua Senat Mahasiswa Universitas Trisakti. Hari itu, nyawanya bisa saja melayang, setelah peluru karet melukai pinggangnya. Namun, tentu saja Hendra lebih beruntung dari empat kawannya yang lain, Hery Hartanto, Elang Mulia Lesmana, Hafidhin Royan, dan Hendriawan Sie, yang hari itu tamat dibabat peluru tajam aparat.

Peduli angin pada setiap kabar yang menyebut bahwa para aparat hanya menggunakan peluru karet untuk mengamankan unjuk rasa hari itu. Sebab, nyatanya proyektil peluru tajamlah yang ditemukan di jasad empat mahasiswa kampus biru tersebut. 

Tragedi hari itu bermula ketika mahasiswa Universitas Trisakti hendak long march ke Gedung MPR/DPR untuk bergabung dengan mahasiswa lain dari seluruh Indonesia yang sepakat melakukan aksi di Gedung Parlemen. Namun, langkah mereka ketika itu dihadang barikade kepolisian.

Lobi-lobi alot pun terjadi antara mahasiswa dan aparat. Namun, aparat kukuh menolak aksi long march mahasiswa, hingga akhirnya sekitar pukul 16.30 WIB perintah mundur bagi mahasiswa disuarakan. Aparat mengultimatum mahasiswa: mundur teratur atau mundur dengan paksaan.

Mahasiswa yang merasa tak melakukan keributan menolak mundur, hingga petugas tambahan dan polisi bermotor dari Polda Metro Jaya dan Brimob bergabung dalam barikade pengamanan. Saat itu, mahasiswa mulai mengalah, balik kanan kembali ke kampus. Namun, barikade polisi justru dibuka. Dari balik barikade, pasukan polisi bermotor justru tancap gas merangsek ke kerumunan mahasiswa.

Sekitar pukul 18.00 WIB, polisi mulai menembaki mahasiswa. Berdasar informasi yang dihimpun dari berbagai arsip media massa, tembakan aparat kala itu tak berhenti, sejak sore hingga pukul 21.00 WIB. Menurut berbagai sumber, terpancingnya mahasiswa dalam kerusuhan terjadi setelah seorang yang mengaku alumni Universitas Trisakti, Mashud, menyusup dan memancing keributan. 

Saat bentrokan dengan aparat keamanan mulai pecah, massa didorong masuk oleh aparat keamanan. Di tengah kericuhan, tiba-tiba terdengar suara tembakan. Sontak massa aksi pun berhamburan ke dalam kampus untuk mencari tempat berlindung.

Letusan senjata terdengar dari arah belakang atau barisan aparat keamanan yang berada di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Gas air mata dilontarkan ke arah mahasiswa dan membuat mereka berhamburan. Merujuk sejumlah saksi mata dan pemberitaan media kala itu, aparat yang berada di atas jembatan layang mengarahkan senjata mereka ke dalam kampus.

Baca Juga : Peringatan 20 Tahun Reformasi dan Tragedi Trisakti

Tak hanya itu, para mahasiswa yang berusaha masuk ke dalam kampus pun tak luput dari aksi represif aparat. Pukulan, tendangan, hingga pelecehan diterima mahasiswa. Ceceran darah dan pecahan kaca terlihat jalas pascakericuhan tersebut. Tangisan ketakutan terus terdengar dari sudut-sudut kampus biru.

Setelah korban-korban yang berjatuhan dievakuasi ke Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta Barat, baru diketahui ada tiga mahasiswa yang tewas di tempat, sementara seorang lagi dinyatakan tewas di rumah sakit, ditambah 15 mahasiswa lain yang terluka serta cidera.


Infografis "Korban Tragedi Trisakti" (Wildan Alkahfi/era.id)


Tuntutan reformasi

Hari ini, 12 Mei 2018, 20 tahun pascatragedi itu, digelar peringatan di Trisakti. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tuntutan para peserta aksi yang terdiri dari keluarga dan rekan korban, mahasiswa, hingga para aktivis masih sama, yakni mengejar keadilan bagi para korban.

"Mahasiswa Trisakti masih berjuang bersama-sama mengawal untuk penuntasan kasus 12 Mei reformasi," kata Presiden Mahasiswa Trisakti 2017-2018, Ryan Israyudin setelah upacara reformasi di Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, Sabtu (12/5/2018).

Baca Juga : Kisah Sunarmi Ibu Korban Penembakan Trisakti

Ryan bilang, peringatan akan dilakukan selama tiga hari. Usai upacara hari ini, mereka akan kembali melakukan aksi damai saat berlangsungnya Car Free Day (CFD) besok. Tujuannya, tentu saja mengedukasi masyarakat terkait peristiwa 12 Mei 1998. Kemudian, pada 14 Mei 2018 bakal jadi puncaknya.

Pada hari itu, mereka akan kembali menyuarakan sejumlah tuntutan reformasi yang sampai saat ini belum terealisasi, yakni menegakkan supremasi hukum dan menciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN. "20 tahun reformasi saya kira pesta demokrasi kita saat ini semakin ideal. Mahasiswa, masyarakat dapat mengikuti pesta demokrasi di dalam media sosial. Tetapi ada batasan-batasan yang membuat mahasiswa itu cemas yaitu soal supremasi hukum," kata dia.

Keadilan buat korban

Selain mengejar tuntutan reformasi, menurut Ryan, poin yang juga sangat penting dari peringatan ini adalah bagaimana mewujudkan keadilan buat para korban, mulai dari mengungkap dan menuntaskan kasus penembakan hingga kejelasan status perjuangan para korban yang masih terabaikan. 

Sari Ratna Dewi, Kakak kandung Elang yang ditemui dalam acara itu mempertanyakan keseriusan berbagai pihak terkait untuk mengungkap kebenaran kasus ini. Entah, hal itu adalah ucapannya yang ke berapa kali. Yang jelas, harapan terungkapnya kasus itu selalu ia pelihara untuk Elang.

"Sebenarnya, anak-anak kita itu meninggalnya untuk apa sih? Apa cuma buat kampus jadi jaya atau apa? Kok enggak ada income datanya," kata Ratna Dewi.

Baca Juga : Peringatan 20 Tahun Reformasi: Habibie dan Transisi Orde Baru

Selain Ratna Dewi, Sunarmi, ibu kandung Hafidhin juga mengungkap harapan yang sama. "Harapan kita, kasusnya dituntaskan. Perkaranya dituntaskan," tutur Sunarmi ditemui di kesempatan yang sama.

Selain pengungkapan kasus, persoalan lain yang masih mengganggu keluarga korban adalah terkait status perjuangan keempat mahasiswa. Menurut cerita Sunarmi, sebagaimana pernah ia ungkapkan juga dalam wawancara khusus bersama era.id beberapa waktu lalu, selam ini keempat mahasiswa dianggap pemberontak oleh negara. 

Karenanya, pengakuan status pahlawan reformasi dari pemerintah sangat penting buat korban dan keluarga. "Selama ini kan dianggapnya sebagai yang bergolak. Mudah-mudahan (harapan) itu bisa terealisasi," kata Sunarmi.

Selain Sunarmi dan Ratna Dewi, Lasmiyati, ibu Hery Hartanto juga mengungkapkan harapan yang telah ia pelihara selama 20 tahun, sejak kematian anaknya, yakni agar pemerintah mengakui status kepahlawanan Hery dan kawan-kawan. 

"Dari Presiden Soeharto, Habibie, SBY, sampai sekarang Jokowi, kok enggak ada penerimaan kita dari mereka. Harapan kami biar status mereka sebagai pahlawan reformasi diakui oleh pemerintah," jelasnya.

Tag: menolak lupa tragedi trisakti peringatan 20 tahun reformasi presiden soeharto

Bagikan: