Peringatan 20 Tahun Reformasi: Rupiah Masa Orde Baru

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Presiden Soeharto (Reuters)

Jakarta, era.id – Waktu berjalan, 20 tahun sudah Indonesia berada di bawah payung reformasi. Selama itu pula, sejumlah perubahan terjadi. Kehidupan politik, demokrasi, sosial budaya, hingga ekonomi terus berevolusi. 

Meski demikian, jejak Orde Baru tak bisa dihapuskan. Mengenang era Orde Baru, tak bisa lepas dari ingatan kita tentang situasi ekonomi di bawah pemerintahan Soeharto. Saat itu, Indonesia menganut sistem kurs tetap, sehingga nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang asing ditetapkan dan diatur pemerintah.

Kala itu, Presiden Soeharto menolak menerapkan sistem kurs mengambang yang mana nilai tukar ditentukan berdasarkan pergerakan dan perdagangan di bursa dunia. 

Baca Juga: Curahan Hati Soeharto soal Krisis Ekonomi Indonesia 

Akibat kebijakan kurs tetap, mata uang rupiah terkesan stabil. Padahal, di balik itu arus kas negara mulai tergerus lantaran menutupi defisit akibat kebijakan tersebut. 

Memperingati 20 tahun reformasi, tim era.id telah merangkum pergerakan nilai tukar rupiah dari waktu ke waktu, khususnya selama era Orde Baru. 

Baca Juga: Peringatan 20 Tahun Reformasi: Habibie dan Transisi Orde Baru 

1965-1966
Usai kekacauan yang timbul pada masa kejatuhan Soekarno, nilai tukar rupiah perlahan menguat terhadap dolar AS, yaitu berada di kisaran Rp235.

1966-1969
Nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp140–Rp190 per dolar AS.

1970-1972
Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp350–Rp480 per dolar AS. 

1973-1978
Saat itu terjadi ledakan harga minyak dunia yang menyebabkan nilai tukar rupiah perlahan menguat ke angka Rp350 per dolar AS.

1978-1980
Nilai tukar rupiah tertekan lantaran investasi Pertamina kala itu banyak yang gulung tikar, rupiah terus menerus anjlok hingga ke angka Rp625 per dolar AS.

1983
Sekitar bulan Juni-Juli, nilai tukar rupiah sempat menyentuh angka Rp970 per dolar AS.

1986
Nilai tukar rupiah mengalami devaluasi pada September, dari Rp1.134 menjadi Rp1.664 per dolar AS. Devaluasi ini dilakukan oleh pemerintahan Soeharto untuk mengatasi krisis global dan harga minyak dunia yang merosot jauh.

1990-1992
Nilai tukar rupiah berkisar antara Rp1.800–Rp2.000 per dolar AS.

1995
Nilai tukar rupiah tertahan di level Rp2.200 per dolar AS.

1997
Terjadi pemerosotan kecil nilai tukar rupiah dari Rp2.500 menjadi Rp2.650 per dolar AS. Masa itu disebut-sebut sebagai titik awal krisis moneter 1998 yang kemudian melumpuhkan kehidupan banyak negara di berbagai sektor. Menjelang akhir 1997, sekitar Oktober hingga Desember, nilai tukar rupiah terus memburuk hingga menyentuh angka Rp4.000 per dolar AS.

1998
Nilai tukar rupiah kian tertekan di awal 1998 hingga menembus angka Rp6.000–Rp7.000 per dolar AS. Kurang dari dua bulan, sekitar Maret 1998, nilai tukar rupiah menyentuh angka Rp13.000 per dolar AS. Pada April, nilai tukar rupiah sedikit menurun dengan fluktuasi angka antara Rp8.000–Rp10.000 per dolar AS.

Mei 1998, ketika terjadi demonstrasi besar-besaran menuntut Soeharto turun jabatan, nilai tukar rupiah semakin terpuruk hingga ke angka Rp15.000 per dolar AS.

Sejarah kelam perekonomian tercetak pada Juni 1998, ketika nilai tukar rupiah dihantam hingga titik terendah sepanjang sejarah Indonesia, yaitu Rp16.650 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah perlahan mulai menguat pada era kepemimpinan Habibie, Juli 1998. Saat itu, nilai tukar rupiah merapat ke angka Rp15.500 per dolar AS. Memasuki Agustus, nilai tukar rupiah terus membaik hingga berada di posisi Rp13.550 per dolar AS.

Semakin menguat, Oktober hingga Desember 1998, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp8.000-Rp10.000 per dolar AS.

1999
Pada akhir pemerintahan Habibie, nilai tukar rupiah berada di angka Rp7.500– Rp8.500 per dolar AS.

Tag: peringatan 20 tahun reformasi pertumbuhan ekonomi

Bagikan: