Terima Kasih Artidjo Alkostar

Tim Editor

Ilustrasi (era.id)

Jakarta, era.id - Hakim Agung Kamar Pidana pada Mahkamah Agung (MA) Artidjo Alkostar telah memasuki masa pensiunnya pada 1 Juni 2018. Sesuai dengan UU Mahkamah Agung (MA), hakim agung pensiun ketika menginjak usia 70 tahun. 

"Iya, sudah pensiun. Secara administrasi pensiun mulai per 1 Juni," kata Jubir Mahkamah Agung Suhadi saat dikonfirmasi era.id, Selasa (22/5/2018).

Suhadi menambahkan, Artidjo sudah tak menangani perkara sejak memasuki masa pensiun. Dengan pensiunnya Artidjo tentu, satu posisi hakim agung di kamar pidana akan kosong.

Ditambahkannya untuk mencari pengganti Artidjo dan hakim agung lain yang memasuki masa pensiun akan diserahkan kepada Ketua MA Hatta Ali. "Nanti akan ditentukan oleh Ketua MA," lanjutnya.

Berdasarkan Pasal 11 huruf b UU Mahkamah Agung, disebutkan:

Ketua, Wakil Ketua, Ketua Muda Mahkamah Agung, dan hakim agung diberhentikan dengan hormat dari jabatannya oleh Presiden atas usul Mahkamah Agung karena telah berusia 70 (tujuh puluh) tahun.

Baca Juga: Hakim Terganas Pengadil PK Ahok

Selama 18 tahun menjadi hakim agung, sepak terjang Artidjo membuat namanya jadi momok menakutkan bagi terdakwa koruptor. Pria kelahiran Situbondo ini juga pernah mengadili berbagai perkara dari Soeharto hingga mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok).

Nama Artidjo mulai dikenal publik karena seringkali memberikan vonis yang memberatkan kepada para terdakwa koruptor. Nah berdasarkan riwayat hidupnya, Artidjo lahir pada hari ini, 22 Mei 1948. Selain itu Artidjo juga mengajar sebagai dosen di almamaternya pada Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta.

Artidjo muda, aktif di LBH Yogyakarta dan dilanjutkan sendiri dengan mendirikan kantor hukum Artidjo Alkostar and Associates. Dalam praktik hukumnya, Artidjo kerap membela hak asasi manusia dan masyarakat terpinggirkan. 

Hingga pada awal tahun 2000-an, Menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra meminta Artidjo untuk mendaftar jadi hakim agung. Meski sempat galau karena harus memanggul beban hakim agung, pada akhirnya Artidjo menyanggupi tawaran itu dan bekerja di Medan Merdeka Utara, Mahkamah Agung (MA).

Baca Juga: MA Tunjuk Artidjo Alkostar Tangani PK Ahok

Dalam perjalanan karirnya sebagai Hakim Agung Kamar Pidana, Artidjo telah menangani berbagai perkara. Beberapa perkara yang ditanganinya kerap menjadi perhatian publik.

Artidjo pernah memperberat hukuman OC Kaligis, penyuap bekas Ketua Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Medan, Sumatera Utara Tripeni. Hukuman terhadap pengacara kondang itu diperberat dari tujuh tahun menjadi 10 tahun dan denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan.

Selain itu, Artidjo juga pernah menolak kasasi yang diajukan mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Ia memperberat hukuman terhadap Anas dari tujuh tahun menjadi 14 tahun serta denda Rp5 miliar subsider satu tahun empat bulan kurungan.



Perkara terakhir yang sempat ditangani Artidjo, saat Mahkamah Agung (MA) menunjukkan untuk memimpin sidang peninjauan kembali (PK) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang sudah divonis bersalah dalam kasus penistaan agama. Walhasil, tanpa ragu PK Ahok ditolak oleh Artidjo dkk.

Kini sosok hakim agung itu telah pensiun. Karenanya, sejak akhir 2017 lalu, MA telah meminta Komisi Yudisial (KY) untuk mencari pengganti Artidjo Alkostar maupun hakim agung lainnya yang memasuki masa pensiun melalui seleksi Calon Hakim Agung (CHA) periode II 2017/2018.

Tag: hakim agung artidjo alkostar ahok cari keadilan mahkamah agung

Bagikan: