23 Mei 1998, Mencari Obat untuk Krisis Moneter

Tim Editor

Ilustrasi krisis moneter dalam negeri (Wildan/era.id)

Jakarta, era.id - Faktor utama runtuhnya kekuasaan Orde Baru adalah persoalan ekonomi. Dolar yang mengamuk, harga bahan pokok yang melambung, membengkaknya utang luar negeri.

Harian Republik edisi 24 Mei 1998 menulis kalau reformasi di banyak bidang akan menjadi fokus kabinet ini. Ginandjar Kartasasmita yang kembali dipercaya sebagai Menko Ekuin, akan menggelar bersih-bersih sejumlah hak istimewa yang selama ini diberikan kepada pengusaha tertentu. Inilah salah satu langkah yang bakal diambil tim Ekonomi Kabinet Reformasi untuk memulihkan kondisi perekonomian dan mempelopori reformasi ekonomi. 

"Jangka pendek program adalah memulihkan kepercayaan pada rupiah dan mengendalikan laju inflasi," kata Ginandjar di harian itu.

Tim reformasi juga akan menaruh perhatian pada golongan masyarakat yang paling terkena dampak krisis moneter. "Kita akan memprioritaskan program padat karya, penyediaan kebutuhan pokok rakyat dan dukungan kepada usaha kecil dan koperasi," lanjut Ginandjar.

Baca juga: Di Mana Mereka Saat Reformasi 20 Tahun Lalu?


(Infografis/era.id)

Baca juga: 20 Tahun Lalu, Tak Ada Kebebasan Berbicara

Ginandjar dipercaya Presiden BJ Habibie untuk memimpin tim reformasi ekonomi. Tim itu terdiri dari Menteri Keuangan Bambang Subianto, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Boediono, Menteri Pendayagunaan BUMN Tanri Abeng, Menperindag Rahardi Ramelan, dan Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin.

Tetap berharap ke IMF

Setelah berbulan-bulan terkesan mendiamkan, IMF kembali menunjukkan keseriusannya menyuntik dana untuk mengobati krisis ekonomi di Indonesia. IMF akan tetap mendukung program reformasi ekonomi Indonesia. 

"Pekan depan, Direktur IMF untuk Asia Hubert Neiss akan ke Indonesia dan bertemu Presiden Habibie," ujarnya

Hubert Neiss juga akan bertemu dengan tim ekonomi kabinet dan mengkaji perkembangan terakhir serta  melaporkannya ke kantor pusat IMF di Washington. Indonesia memang sempat kehilangan kepercayaan dari IMF setelah kerusuhan besar terjadi di Indonesia. IMF menarik pulang stafnya yang bertugas di Indonesia sehingga pencairan bantuan 10 miliar dolar AS tersendat.

Baca juga: Mereka yang Tak Dapat 'Kue' dari Reformasi?


 

Tag: peringatan 20 tahun reformasi

Bagikan: