'Jungkir Balik' Pengelola Mall yang Sepi, Imbas Penerapan PPKM

Tim Editor

Ilustrasi Mall Solo Paragon. (Foto: Wikimedia Commons)

ERA.id - Pengelola pusat perbelanjaan di kota Solo menyesalkan jumlah pengunjung yang menurun drastis pasca kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah untuk wilayah Jawa dan Bali. Namun pengelola pusat perbelanjaan tak bisa berbuat banyak dengan kebijakan ini.

”Ya mau bagaimana lagi. Kita ikuti saja aturan dari pemerintah,” ucap Chief Marcom Solo Paragon Mall Veronica Lahji saat dihubungi ERA.id, Senin (25/1).

Dia mengakui jika jumlah pengunjung menurun sangat drastis. Bahkan, penurunan pengunjung pasca PPKM mencapai 50 persen dibandingkan pengunjung di masa pandemic Covid-19.

”Rata-rata pengunjung sampai 4.000-an di hari biasa, sedangkan weekend sampai 6.000-an orang. Selama PPKM ini paling hanya 2.000-an pengunjung,” kata perempuan yang akrab disapa Vero ini.

Saat ini pihaknya hanya bisa berharap dari penjualan via daring. Apalagi ada pembatasan usia pengunjung yang diperkenankan masuk mall. ”Jam operasional PPKM ini hanya sampai jam 19.00 WIB. Ini sangat berdampak pada jumlah kunjungan. Bahkan saat ini sudah banyak teguran (dari pusat) untuk tenant karena jumlah kunjungan lebih rendah dibandingkan kota lain,” katanya.

Sementara itu Public Relations Solo Grand Mall Ni Wayan Ratrina juga merasakan hal sama. Sejak ada aturan pembatasan pengunjung dengan kategori usia 15 tahun ke bawah, sudah ada penurunan signifikan.

”Kalau weekend paling hanya berkisar 6.000-an pengunjung. Hari biasa paling hanya sekitar 4.000-an pengunjung saja,” katanya.

Padahal, dalam kondisi normal jumlah pengunjung Solo Grand Mall tiap harinya berkisar 10.000-an pengunjung. Berkurangnya pengunjung ini berdampak pada tenant di Solo Grand Mall.

”Akhirnya banyak tenant yang memilih untuk tutup sementara. Saat ini yang tersisa paling hanya 200 tenant saja,” katanya.

 
 

 

 

Tag: solo PPKM

Bagikan: