Apa Itu Dejavu dan Faktor Penyebabnya, Benarkah Berhubungan dengan Keinginan yang Terpendam?

| 08 Oct 2022 07:28
Apa Itu Dejavu dan Faktor Penyebabnya, Benarkah Berhubungan dengan Keinginan yang Terpendam?
Ilustrasi dejavu (unsplash)

ERA.id - Anda mungkin pernah mengalami situasi atau kejadian yang rasanya pernah dialami atau terjadi sebelumnya. Fenomena ini disebut dengan dejavu. Sebenarnya, apa itu dejavu?

alat peraga otak (unsplash)

Selain itu, kenapa hal tersebut bisa terjadi, bahkan beberapa kali dengan sesuatu yang sama atau hampir sama? Untuk menambah wawasan soal fenomena yang dialami oleh banyak orang ini, simak uraian berikut.

Apa itu Dejavu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dejavu memiliki makna perasaan bahwa apa yang dialami sekarang pernah terjadi pada masa lampau.

Dikutip Era dari hellosehat, dejavu atau déjà vu merupakan keadaan ketika seseorang merasa familiar dengan kondisi di sekitarnya, seolah-olah pernah mengalami hal tersebut atau ada di konsisi tersebut pada masa lampau dengan keadaan yang persis sama. Sementara, apa yang dialami oleh orang tersebut sebenarnya adalah pengalaman pertama.

Fenomena ini bisa berlangsung selama 10 sampai 30 detik, dan bisa terjadi lebih dari satu kali. Berdasarkan sejumlah penelitian, dua hingga tiga orang yang pernah mengalami dejavu akan mengalaminya lagi.

Kata déjà vu berasal dari bahasa Prancis, artinya ‘sudah pernah melihat’. Orang yang tercatat pertama kali menyebutkan konsep ini adalah Émile Boirac, filsuf sekaligus ilmuwan dari Prancis, pada 1876.

Ada banyak filsuf dan ilmuwan lain yang mencoba menjelaskan sebab dejavu bisa terjadi. Sigmund Freud menjelaskan, dejavu berhubungan dengan keinginan yang terpendam. Carl Jung berpendapat bahwa fenomena ini berhubungan dengan alam bawah sadar manusia.

Dejavu biasanya lebih sering dialami oleh orang-orang berusia 15 sampai 25 tahun. Umumnya, pengalaman ini berkurang saat seseorang telah berumur lebih dari 25 tahun.

Teori Penyebab Dejavu

Jika Anda ingin jawaban pasti mengenai sebab terjadinya dejavu, hal tersebut belum bisa didapatkan. Studi tentang dejavu tidak mudah dilakukan. Para peneliti dan ilmuan hanya bisa berpegang pada pengalaman dejavu seseorang yang sifatnya retrospektif sehingga sulit mencari stimulus yang memicu hal tersebut. Meski demikian, ada beberapa teori yang mungkin akan menjawab rasa penasaran Anda.

1.    Teori memory recall

Berdasarkan penelitian Anne Cleary, profesor psikologi dari Colorado University, dejavu terkait dengan cara seseorang memproses dan menyimpan ingatan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dejavu bisa terjadi sebagai respons terhadap suatu peristiwa yang persis dengan yang telah dialami oleh seseorang, tetapi orang tersebut tidak mengingatnya.

Sebagai contoh, Anda pernah melihat objek tertentu ketika masih kecil, tetapi Anda tidak mengingatnya. Kemudian, ketika Anda melihat benda tersebut ketika sudah besar, Anda merasa sudah pernah melihatnya tanpa tahu secara jelas jelasnya kapan hal tersebut terjadi.

2.    Teori slip perception

Menurut teori ini, dejavu terjadi saat seseorang melihat sesuatu pada dua waktu yang berbeda. Sebagai contoh, Anda melihat suatu objek secara sepintas atau hanya dari sudut mata tanpa memperhatikannya.

Ketika hal tersebut terjadi, otak membentuk memori mengenai hal tersebut, bahkan dengan informasi terbatas karena hanya melihat secara sepintas atau dari sudit mata (tidak lengkap).

Kemudian, ketika Anda melihat sesuatu yang serupa dengan objek tersebut di waktu yang berbeda, Anda memberikan perhatian penuh. Otak seperti mengingat ingatan yang telah disimpan dan membuat Anda merasa telah melihat hal yang sama sebelumnya.

3.    Kerja rhinal cortex

Di otak manusia terdapat bagian yang disebut rhinal cortex. Bagian ini berfungsi untuk mendeteksi rasa familiar. Mungkin bagian ini teraktivasi tanpa memicu kerja hipokampus (bagian otak yang berfungsi sebagai memori).

Ini bisa menjelaskan kenapa saat seseorang mengalami dejavu, orang tersebut tidak bisa mengingat secara persis dan rinci mengenai waktu dan lokasi terkait pengalaman yang sama.

4.    Malfungsi sirkuit otak

Fenomena dejavu juga bisa disebabkan oleh malfungsi antara long term circuits dan short term circuits di otak. Saat otak merekam keadaan sekitar, informasi yang masuk bisa saja langsung ditransfer ke long term circuits.

5.    Temporal lobe seizure

Dejavu adalah fenomena normal, tetapi kemunculannya juga sering dialami oleh orang yang punya epilepsi sebelum mengalami gejala kejang-kejang. Kejang-kejang biasanya disebut sebagai temporal lobe seizure.

Penyebab temporal lobe seizure atau kejang lobus temporal kadang tidak diketahui. Namun, ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab dari temporal lobe seizure, seperti infeksi, trauma pada otak, stroke, tumor otak, dan faktor genetik.

Ketika temporal lobe seizure terjadi, penderita bisa mengalami penurunan kemampuan merespons lingkungan sekitar. Penderita juga bisa melakukan aktivitas yang sama berulang-ulang, misalnya mendecakkan lidah atau menggerakkan jari-jari tangan secara tidak wajar.

Sebelum serangan tersebut terjadi, penderita temporal lobe seizure biasanya akan mengalami sensasi aneh seperti takut tanpa alasan, halusinasi, dan dejavu. Jika membicarakan apa itu dejavu, itu adalah hal yang wajar, tetapi ketika telah terjadi kejang-kejang karena epilepsi, segera lakukan penanganan secara tepat atau bawa orang tersebut ke rumah sakit.

Rekomendasi