Catat Ribuan Kasus, Upaya Kemen PPPA Tekan Angka Kekerasan di Hari Anak Nasional

Tim Editor

Ilustrasi kekerasan anak (Unsplash/@profwicks)

ERA.id - Berdasarkan Data SIMFONI (Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) terdapat 3.928 kasus kekerasan terhadap anak-anak yang dilaporkan sejak Januari 2020 sampai dengan 17 Juli 2020.

Masih tingginya angka kekerasan juga tergambarkan dari hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2018 oleh Kemen PPPA menyebutkan bahwa 2 dari 3 anak dan remaja perempuan atau laki-laki pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.

Berdasarkan data tersebut, Menteri PPPA, Bintang Puspayoga mengatakan, peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2020, menjadi momen penting untuk kembali menggugah kepedulian dan partisipasi seluruh komponen bangsa Indonesia.

Yaitu pemerintah bekerjasama dengan media, dunia usaha, masyarakat, keluarga dan orangtua, dalam menjamin pemenuhan hak anak atas hak hidup, hak tumbuh kembang, dan hak berpartisipasi secara wajar, sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta memastikan anak-anak mendapat perlindungan dari kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi.

Sementara itu Deputi II Bidang Pembangunan Manusia, Kantor Staf Presiden, Abetnego Tarigan mengungkapkan untuk mendukung upaya perlindungan pada anak, Kantor Staf Presiden bersama  Kementerian Kesehatan, Kementerian Komunikasi dan Informatika Kemen PPPA  dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) membuka layanan 119 ext.8 SEJIWA. 

“SEJIWA kami adakan karena kami melihat begitu banyak tekanan dalam keluarga. Sejak periode 10 Juni hingga 10 Juli,  59 persen pengaduan yang masuk adalah keluhan masalah dalam keluarga seperti pengasuhan,” ungkap Abetnego.

Ketua Umum OASE (Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju) Erni Guntarti Tjahyo Kumolo menyatakan pihaknya selalu mendukung program kerja Kemen PPPA melalui OASE yang juga bersinergi dengan organisasi perempuan, seperti Dharma Wanita, Organisasi Bhayangkari, PKK, dan organisasi lainnya.

“Saat pandemi, ketika terjun langsung kami selalu mengingatkan protokol kesehatan sehingga anak-anak sejak dini bisa mempraktekkan hidup bersih dan sehat. Mungkin kita bisa cari solusi bersama terkait proses pengajaran di era new normal ini bersama Kemen PPPA,” ujar Erni.

Tag: perlindungan perempuan dan anak

Bagikan: