Seniman Mural Banksy Mendanai Misi Penyelamatan Pengungsi Afrika

Tim Editor

Seniman mural Banksy mendanai pembelian kapal Louise Michel yang saat ini berlayar di Laut Mediterania untuk menyelamatkan sejumlah pengungsi Afrika Utara. (Ruben Negebauer)

ERA.id - Seniman mural Banksy mendanai misi penyelamatan pengungsi Afrika yang terkatung-katung di Laut Mediterania, seperti dirilis pertama kali oleh The Guardian.

Kapal bernama Louise Michel, diambil dari nama tokoh anarkis-feminis, itu berlayar secara diam-diam pada Selasa, (18/8/2020), dari pelabuhan Burriana di Spanyol. Saat ini kapal berwarna pink dengan sejumlah mural khas Banksy itu berada di tengah Laut Mediterania, di mana misi ini berhasil menyelamatkan 89 orang pengungsi pada Kamis lalu.

Kini kapal Louise Michel berencana mengantarkan para penumpang ke pelabuhan yang aman atau memindahkan para pengungsi ke kapal pengawas pantai milik negara-negara Eropa.

Kapal Louise Michel yang memiliki panjang 31 meter ini berlayar dengan bendera Jerman. Dulunya, seperti dilansir The Guardian, ia dimiliki oleh otoritas bea cukai Prancis. Meski ukurannya terbilang kecil, bila dibandingkan dengan kapal milik sejumlah LSM lainnya, kapal ini bisa berlayar lebih cepat.

Keterlibatan seniman mural Banksy bermula pada bulan September 2019, saat ia berkontak dengan Pia Klemp, eks kapten kapal beberapa misi penyelamatan pengungsi. LSM-nya telah menyelamatkan ribuan pengungsi selama beberapa tahun terakhir.

Dalam email yang ia kirimkan ke Pia, Banksy mengaku mengapresiasi kerja Pia di bidang krisis pengungsi. Ia juga mengulurkan sejumlah uang. "Mungkin uang itu bisa kamu pakai membeli kapal baru atau sesuatu lainnya?" kata Banksy.

Berkata pada The Guardian, Pia yakin bahwa sikap politiknya mungkin telah membuat Banksy, sang seniman mural yang legendaris di Eropa itu, untuk mendanai misi LSM-nya.

"Saya tidak melihat misi penyelamatan aut sebagai sekadar aksi kemanusiaan, namun, ini adalah perlawanan terhadap fasisme," kata Pia.

Pia memastikan bahwa Banksy hanya terlibat dalam hal pendanaan. Seluruh pengoperasian kapal dipegang oleh timnya secara independen.

Kapal Louise Michel yang bisa 'ngebut' hingga kecepatan 27 knot ini dipilih karena dianggap bisa bergerak lebih cepat daripada kapal pengawas laut dari negara Libya, yang sering mencegat para pengungsi lalu memasukkan mereka ke pusat detensi di Libya.

Sejumlah LSM sudah lama mengkritik pemerintah Libya karena bekerjasama dengan beberapa negara Eropa untuk menarik kembali para pengungsi ke daratan Afrika. Sejumlah organisasi lintas-negara juga menuduh otoritas kelautan Libya memperlakukan para pengungsi dengan buruk atau bahkan menjual para pengungsi ke pihak milisi Libya.

Menurut International Organization for Migration, tahun ini saja lebih dari 7.600 pengungsi telah diselundupkan dan dikembalikan ke Libya yang tengah diamuk perang antar faksi politik. Pengungsi kerap diminta tinggal di hunian temporer dalam kondisi yang menyedihkan. Organisasi HAM kerap mencatat adanya aksi kekerasan dan pemerkosaan terhadap para pengungsi.

Tahun ini, lebih dari 500 pengungsi juga diketahui telah tewas saat mengarungi Laut Mediterania. Rabu lalu, seperti dilaporkan oleh PBB, 45 orang - termasuk di antaranya 5 orang anak - meninggal dunia karena mesin kapal mereka meledak di lepas pantai Libya.

Claire Faggianelli, aktivis yang mempersiapkan misi pertama Louise Michel, mengaku ingin menggunakan proyek kapal ini untuk menggugah kesadaran bangsa Eropa, yaitu agar mereka tak mengabaikan realitas di Laut Mediterania.

"Kepada bangsa Eropa kami ingin berkata, 'Kami telah memaki-maki kalian selama beberapa tahun terakhir. Harusnya hal-hal ini tidak terjadi di perbatasan Eropa, namun, kalian menutup mata,'" kata dia.

Tag: Banksy krisis pengungsi

Bagikan: