Demonstran Inggris Sebut COVID-19 'Hoax', Ricuh dengan Polisi

| 19 Sep 2020 21:11
Demonstran Inggris Sebut COVID-19 'Hoax', Ricuh dengan Polisi
Kericuhan terjadi antara polisi dan demonstran di Trafalgar Square, Sabtu (19/9/2020). (Daily Mail)

ERA.id - Kericuhan dan baku hantam terjadi di Trafalgar Square, London, pada hari Sabtu (19/9/2020) siang, ketika polisi berusaha menertibkan ribuan pengunjuk rasa yang memprotes aturan lockdown yang diterapkan Perdana Menteri Boris Johnson.

Staf kepolisian Metropolitan, seperti dilaporkan sejumlah media internasional, terlalu sedikit jumlahnya dibandingkan para ribuan warga yang menentang aturan memakai masker, jaga jarak, dan karantina wilayah (lockdown). Beberapa dari mereka membawa plakat yang menyebut Inggris telah berubah jadi tirani dan bahwa pandemi COVID-19 adalah 'hoax', yaitu topik-topik yang selama ini menjadi isu hangat teori konspirasi.

Demonstrasi di Trafalgar Square
Lebih dari seribu orang berkumpul di Trafalgar Square, London, Inggris, untuk memprotes aturan protokol kesehatan pandemi COVID-19. (Damien Gayle)

Baku hantam sendiri tak terhindarkan antara polisi dengan sejumlah demonstran. Namun, upaya penangkapan polisi dihalang-halangi oleh sesama demonstran yang saling merangkul dan membentuk dinding pembatas yang memblokade gerakan para polisi.

Sesuai laporan Daily Mail, dalam kampanye bertajuk "Resist and Act for Freedom" itu terdapat sejumlah sesi pidato dari pembicara semacam Kate Shemirani, seorang perawat yang dipecat karena menganggap pembatasan sosial semasa pandemi korona mirip dengan peristiwa Holocaust. Ada pula Professor Dolores Cahill dari University College Dublin yang pada Juni lalu diminta mundur dari sebuah komite sains Uni Eropa karena membuat pernyataan yang kontroversial mengenai pandemi COVID-19.

Para pengunjuk rasa dikabarkan datang dari berbagai kalangan. Mereka memakai kaos bertema tertentu seperti mengenai konspirasi jaringan 5G, hingga kampanye legalisasi ganja. Protes mereka ditujukan pada pemerintah Inggris yang mewajibkan penggunaan masker di tempat publik, sekaligus juga menyuarakan kekhawatiran atas efek samping dari vaksinasi.

Pada Sabtu ini, otoritas kesehatan Inggris melaporkan ada tambahan 16 warga yang meninggal akibat terinfeksi COVID-19, kesemuanya adalah warga berusia antara 69 sampai 97 tahun dan memiliki permasalahan kesehatan tertentu. Sehingga, di Inggris total ada 29.735 kasus kematian akibat infeksi virus tersebut.

Rekomendasi