Demonstrasi Thailand Terpecah Antara Membela Raja atau Membela Demokrasi

Tim Editor

Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dan Permaisuri Suthida Bajrasudhabimalalakshana. (Foto: World Politics Review)

ERA.id - Situasi di sekitar gedung Parlemen Thailand cukup kalang kabut, Selasa (17/11/2020) dengan polisi menembakkan meriam air ke arah demonstran pro-demokrasi yang tengah bentrok dengan kelompok sipil pro-kerajaan. Di saat yang sama, para anggota parlemen berusaha meninggalkan lokasi kericuhan dengan menumpang perahu.

Berdasarkan laporan The Guardian, mengutip pusat gawat darurat Erawan di Bangkok, lima orang mengalami luka tembak dalam demonstrasi Selasa lalu. Selain itu, ada 36 orang yang luka-luka dalam aksi unjuk rasa yang dianggap banyak pihak sebagai paling ricuh sejak dimulainya gelombang demonstrasi mahasiswa pada Juli lalu.

Selama berbulan-bulan, mahasiswa telah berdemonstrasi menuntut diberhentikannya Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha, yang juga mantan jenderal militer. Mereka juga bersikeras meminta akuntabilitas dari pihak kerajaan Thailand, suatu tuntutan yang selama ini kerap dianggap tabu dalam masyarakat Thailand.

Pada Selasa lalu, demonstrasi dipusatkan di sekeliling gedung parlemen, sementara di dalam, anggota parlemen tengah mendiskusikan tuntutan amandemen konstitusi. Sejak pagi, ribuan demonstran dikabarkan telah campur baur di sekitar gedung parlemen yang lokasinya persis di tepi Sungai Chao Phraya di Kiakkai, Bangkok.

Uniknya, banyak demonstran membawa bebek-bebekan karet sebagai bentuk ejekan mereka terhadap pihak militer. Namun, alat renang tersebut juga mereka gunakan sebagai tameng atas semburan water cannon pihak kepolisian. Koran The Guardian juga melaporkan penggunaan bahan iritan kimiawi dan gas air mata oleh pihak keamanan.

Juru bicara kepolisian menyatakan bahwa meriam air digunakan karena sejumlah pengunjuk rasa hendak memasuki kawasan terlarang.

Ketika polisi berusaha mengendalikan massa demonstran pro-demokrasi, bentrokan juga ditimbulkan oleh kelompok 'royalis', atau para pendukung pihak monarki kerajaan. Berpakaian warna kuning, mereka saling melempar batu dan botol minum ke arah demonstran pro-demokrasi. Bentrokan antar kedua kubu kembali terjadi pada malam hari dengan sejumlah demonstran pro-demokrasi meyakini adanya pihak yang menggunakan senjata peluru tajam.

Tim Erawan, seperti dikutip Reuters, mengaku merawat beberapa pengunjuk rasa yang mengalami luka tembak.

Pihak pendukung monarki menuduh bahwa amandemen konstitusi akan berujung pada "penghapusan monarki". Namun, pengunjuk rasa umumnya meyakini bahwa mereka tidak ingin menghapus sistem kerajaan, hanya berharap seluruh anggota kerajaan juga berkedudukan setara di mata konstitusi. Para demonstran juga berharap dihapuskannya pasal penghinaan yang menghukum siapapun yang melakukan kritik terhadap keluarga kerajaan Thailand.

Dalam suasana keos, beberapa anggota parlemen pun terpaksa meninggalkan lokasi dengan menggunakan perahu. Para anggota parlemen Thailand dijadwalkan melakukan jajak pendapat pada Rabu soal apakah diskusi mengenai tujuh tuntutan amandemen konstitusi perlu dilanjutkan. Poin amandemen yang muncul mencakup apakah 250 senator yang dipilih oleh pihak militer perlu diganti menjadi pejabat publik yang dipillih oleh masyarakat.

Keluarga kerajaan sejauh ini belum memberi respon terhadap aksi unjuk rasa pada hari Selasa, meski Raja Thailand sempat menyatakan bahwa ia "mencintai mereka semua (yang berdemonstrasi." Sebelumnya, ia pernah berkomentar bahwa Thailand adalah negeri "yang berani mengambil kompromi".

Tag: thailand

Bagikan: