Soal Perjanjian Nuklir, Washington Tunggu Itikad Baik Teheran di Timur Tengah

Tim Editor

Mayor Jenderal Hossein Salami mengunjungi situs rudal bawah tanah Garda Revolusi Iran di lokasi yang dirahasiakan di Teluk, foto diperoleh pada Jumat (8/1/2021). (ANTARA FOTO/IRGC/WANA (West Asia News Agency)/Handout via REUTERS/rwa)

ERA.id - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken berpegang pada pendiriannya bahwa Teheran harus lebih dulu memathui kesepakatan nuklir Iran dan Washington pun, yang meninggalkan pakta ini di bawah era Donald Trump, akan ikut mematuhinya.

Melansir ANTARA, dalam komentar publik pertamanya tentang Iran, Blinken pada Rabu, (27/1/2021) menegaskan kembali kebijakan Presiden Joe Biden "bahwa jika Iran kembali memenuhi kewajibannya di bawah JCPOA, Amerika Serikat akan melakukan hal yang sama."

Kesepakatan nuklir, yang secara resmi disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), disepakati oleh Iran dan enam negara besar pada 2015.

Perjanjian itu mengikat Iran untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi dari Amerika Serikat dan negara lainnya.

Trump mengeluarkan AS dari kesepakatan pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi AS, memicu sikap Iran yang semakin mengabaikan ketentuan dalam perjanjian nuklir tersebut.

Jika Iran kembali ke kesepakatan itu, Washington akan berusaha membangun apa yang disebut Blinken sebagai "perjanjian yang lebih lama dan lebih kuat" yang akan menangani masalah "yang sangat problematis" lainnya.

Blinken tidak menyebut masalah yang mana tetapi Biden mengatakan masalah-masalah yang dimaksud antara lain menyangkut pengembangan rudal balistik Iran serta dukungan Teheran untuk pasukan proksi di negara-negara seperti Irak, Suriah, Lebanon dan Yaman.

"Iran tak patuh pada sejumlah bidang dan ini akan membutuhkan waktu, seandainya Iran membuat keputusan untuk melakukannya, untuk kembali patuh, saatnya bagi kami kemudian untuk menilai apakah Iran memenuhi kewajibannya," kata Blinken kepada wartawan.

"Kami belum sampai ke sana, setidaknya," tambahnya.

Dia menolak mengungkapkan pejabat AS mana yang akan memimpin pembicaraan dengan Iran tapi mengatakan "kami akan mengusung perspektif berbeda tentang masalah ini."

Tag: iran amerika serikat timur tengah Perjanjian Nuklir Iran

Bagikan: