Kasus Pembekuan Darah, Amerika Setop Vaksin Johnson & Johnson

Tim Editor

Seorang perawat memberikan suntikan vaksin. (Foto: National Cancer Institute)

ERA.id - Badan pengawas kesehatan federal Amerika Serikat pada Selasa, (13/4/2021), menyarankan agar penggunaan vaksin Johnson & Johnson (J&J) dihentikan setidaknya selama beberapa hari menyusul adanya enam perempuan berusia di bawah 50 tahun yang mengalami kondisi pembekuan darah langka.

Melansir Reuters, pelaksana tugas komisioner Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), Janet Woodcock, menyampaikan bahwa penghentian mungkin hanya akan berlangsung beberapa hari guna memberitahu ke pusat-pusat kesehatan cara mendiagnosa dan merawat kondisi pembekuan darah terkait penyuntikan vaksin itu.

Langkah ini diambil kurang dari sepekan setelah regulator Eropa mengumumkan adanya hubungan antara vaksin COVID-19 AstraZeneca dengan kasus pembekuan darah serupa yang berujung pada sejumlah kasus kematian.

Pejabat FDA Peter Marks mengatakan, dilansir dari Reuters, bahwa kasus vaksin J&J "dengan jelas sangat menyerupai" kasus yang dipicu vaksin AstraZeneca.

Marks menyebut belum ada kasus serupa yang ditemukan dalam pemberian vaksin Pfizer/BioNTech atau Moderna, yang keduanya menggunakan teknologi produksi yang berbeda.

Vaksin Astrazeneca
Seseorang menunjukkan botol vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca/Oxford. (Foto: Wikimedia Commons)

Vaksin J&J, yang hanya memerlukan satu dosis penyuntikan, dan vaksin AstraZeneca, yang berharga murah dibanding vaksin lainnya, selama ini dipandang menjadi senjata penting untuk mengendalikan pandemi corona yang telah menewaskan lebih dari tiga juta manusia di dunia.

Johnson & Johnson dikabarkan bakal menunda pemberian vaksinnya di Eropa, sepekan setelah regulator setempat mengumumkan akan meninjau empat kasus pembekuan darah yang terjadi di AS. Afrika Selatan juga menyatakan menunda penggunaan vaksin J&J, seperti dilaporkan Reuters.

Kasus Masih Sangat Langka

"Saat ini, saya mau menekankan bahwa kasus tersebut masih sangat jarang terjadi. Meski begitu, keamanan vaksin COVID-19 tetap menjadi prioritas utama bagi pemerintah federal. Kami menangani semua kasus terkait vaksin itu dengan serius," sebut Woodcock, dikutip The Guardian.

Dalam pernyataan bersamanya dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), FDA menulis, "Warga yang menerima suntikan vaksin J&J dan mengalami sakit kepala berat, nyeri perut, nyeri kaki, atau sesak napas dalam tiga pekan setelah vaksinasi dimohon untuk menghubungi klinik kesehatan terdekat."

Pejabat di kedua badan AS tersebut mengatakan efek samping terjadi antara satu atau dua pekan setelah penyuntikan vaksin, alias melewati fase di mana orang biasa merasakan efek samping - gejala semacam flu - dari vaksinasi.

Jika sudah melewati masa satu bulan, dan penerima vaksin J&J tidak merasakan gejala apapun, maka risiko mereka "sangat rendah", demikian sebut para pejabat tersebut.

Pihak FDA menyatakan sejauh ini ada satu orang yang meninggal dunia setelah disuntik vaksin J&J, sementara satu orang lainnya dalam kondisi kritis.

Enam orang yang mengalami pembekuan darah setelah disuntik vaksin itu, lapor Reuters, kesemuanya adalah perempuan yang berusia antara 18 dan 48 tahun, dengan gejala muncul antara hari keenam dan hari ke-13 usai vaksinasi.

Di kasus tersebut, gejala yang muncul adalah pembekuan darah dengan sebutan medis cerebral venous sinus thrombosis (CVST) yang biasanya diikuti jumlah platelet darah yang menurun.

Di Amerika Serikat vaksin J&J telah diberikan ke 7,2 juta warga per 13 April. Pakar imunologi AS telah menyatakan bahwa risiko yang ditimbulkan vaksin ini sangat kecil.

"Bahkan jika benar vaksin menyebabkan (gejala tersebut), 6 kasus dalam 7 juta dosis... bukanlah sesuatu yang perlu ditanggapi dengan kepanikan," sebut pakar penyakit menular dari Johns Hopkins Center for Health Security, Dr Amesh Adalja.

Tag: amerika serikat vaksin covid-19 efek samping vaksin covid-19 Johnson & Johnson Pembekuan darah

Bagikan: