Lima Pekan Prancis Terus Digoyang Demo Anti Paspor Vaksin, Ini Alasannya

| 15 Aug 2021 17:04
Lima Pekan Prancis Terus Digoyang Demo Anti Paspor Vaksin, Ini Alasannya
Warga berkumpul di tengah cuaca panas di Prancis untuk memprotes pemberlakuan 'pass sanitaire' atau paspor kesehatan di tempat-tempat tertentu. (Foto: Florian Philippot/Twitter)

ERA.id - Demonstrasi kembali merebak di jalanan kota di Prancis, kali ini untuk pekan kelima secara berturut-turut. Demonstrasi yang berjalan tiap Sabtu sejak 17 Juli itu menentang pemberlakuan 'pass sanitaire' atau paspor kesehatan yang kini wajib ditunjukkan dalam aktivitas sehari-hari.

Melansir Reuters, (15/8/2021), demonstrasi pada Sabtu ini diikuti hampir 215 ribu orang yang tersebar di 217 tempat di seantero Prancis. Massa kabarnya menjejali jalanan di Paris, Marseille, Nice, hingga Montpellier sambil mengibarkan plakat bertuliskan "Paspor=Apartheid" dalam bahasa setempat dan menyerukan kebebasan.

Para demonstran ini menolak keputusan pemerintahan Presiden Emmanuel Macron untuk memperluas penggunaan 'paspor kesehatan' hingga ke restoran, bar, bioskop, gedung teater, dan tempat-tempat umum lainnya. Laporan The Guardian menyebut bahwa massa menuduh pemerintah Prancis ikut campur dalam kebebasan sipil warganya.

Sejumlah demonstran juga menolak pemberian vaksin Covid-19 kepada anak-anak. Prancis sendiri mulai memvaksin corona anak-anak usia 12-17 sejak Mei.

Untuk diketahui, demi bisa mendapatkan paspor kesehatan, seorang warga Prancis harus tuntas divaksin, punya hasil tes negatif Covid-19 terbaru, atau baru saja sembuh dari infeksi corona.

Melansir The Guardian, gerakan anti-paspor kesehatan terasa lebih kuat di kawasan selatan Prancis, di mana cakupan vaksinasi juga lebih rendah dari rata-rata area lain. Aksi unjuk rasa disebut mempersatukan kelompok ekstrem kanan dan kaum kiri garis keras, dan berbagai jenis orang yang teridentifikasi sebagai pendukung teori konspirasi, anti vaksin, hingga aktivis 'jaket kuning' Prancis.

Di ibu kota Paris, satu dari tiga gelombang unjuk rasa dipimpin oleh politisi bernama Florian Philippot, yang merupakan eks-penasihat politisi ekstrem kanan Marine Le Pen hingga 2017. Demonstrasi ini, dan juga demonstrasi lainnya di Paris, dijaga ketat oleh polisi,  sebut The Guardian.

Keputusan Presiden Macron memperluas penggunaan 'pass sanitaire' ditengarai sebagai langkah memaksa populasi Prancis untuk mau divaksin Covid-19. Saat ini, 46 juta rakyat Prancis - 66,8% dari populasi - telah mendapatkan sedikitnya satu kali suntikan vaksin corona.

Prancis berharap bisa memvaksin 50 juta warganya - setidaknya untuk dosis pertama - pada akhir Agustus. Di Prancis saat ini ada 240 ribu orang divaksin setiap harinya.

Julien Bargeton, senator dari partai penguasa La Republique en Marche berkata bahwa solusi Prancis saat ini adalah vaksin, demikian disiarkan BFMTV.

"Simpel saja, vaksin menyelamatkan sementara virus membunuh," sebutnya.

"Bahwa warga Prancis memprotes, itu hak mereka. Namun, dalam realitanya, sebagian besar warga Prancis mendukung paspor kesehatan ini."

Rekomendasi