Perjuangan Clara Tan Membebaskan Diri dari Toxic Relationship

| 31 Oct 2022 20:20
Clara Tan saat menceritakan pengalaman kekerasan yang dialaminya dalam toxic relationship. (ERA/Ilham Apriyanto)

“Dia selalu berasumsi aku selingkuh, terus dia mulai nampar,” ucap Clara. “Dia kerja itu bisa sampai malam, biasanya aku tidur duluan, terus dia telpon, ‘Kamu di mana? gua tahu ada cowok di rumah lo, dasar jabl**, per** lo!”

ERA.id - Clara Sutantio ingin melupakan hari-hari bersama lelaki yang pernah menjadi kekasihnya, tapi ingatan saat tubuhnya jadi samsak tinju selalu menghantui. Kini ia tak tahan mencium bau alkohol, melihat orang-orang mabuk, atau mendengar ketukan pintu mendadak. "Mukanya kan mabok banget pas mukulin aku," ucapnya saat kami temui di kawasan Pancoran, Senin (24/10).

Perempuan berusia 27 tahun itu akrab dipanggil Clara Tan, sehari-hari ia bekerja sebagai model, dan baru pada bulan Oktober 2022 ia memberanikan diri mengungkap kekerasan yang ia alami.

“Pertama itu kan dia nampar dua kali. Cekek pertama kali itu di pemukulan yang kedua, mukul ulu hati,” ungkap Clara. “Ketiga baru jedotin kepala.” Sesudah itu Clara tak mampu berkata-kata. Memang tak ada lagi luka membekas di wajahnya, tetapi ia masih bisa merasakan kepalanya berdenyut tiap mengingat wajah lelaki itu.

Clara Tan saat ditemui ERA di kawasan Pancoran. (ERA/Ilham Apriyanto)

 

Nasib mempertemukan Clara dengan mantan kekasihnya saat pesta di sebuah pulau. Ketika teman-temannya yang lain bermalam di sana, Clara dan lelaki itu harus pulang karena besok masih ada kerja. Berdua di atas kapal membuat mereka menjadi lebih dekat. 

Awalnya, Clara terpikat dengan tubuh jangkung lelaki itu. Karena ia termasuk perempuan yang tinggi, sulit baginya menemukan pria yang lebih tinggi darinya. “Terus seagama juga,” lanjut Clara. “Orangnya kalem… aku kan personality aslinya loud, petakilan, ceria, jadi kayaknya dia bisa mengimbangi gitu loh.”

Clara sempat mendengar kabar bahwa lelaki itu pernah memukuli bekas pacarnya. Ia lalu memilih melajang selama dua tahun sebelum bertemu Clara. Bagi Clara, jeda dua tahun cukup menjadi pertobatan lelaki itu. “Lo mukulin gua, gua visum lo sumpah,” ancam Clara sebelum menjalin hubungan lebih serius.

Dulu Clara belum mengerti bahwa butuh waktu selamanya untuk mengubah pria yang terbiasa memukul perempuan, dan dua tahun bukanlah waktu yang cukup berarti. Sejak mereka berdua resmi menjalin hubungan, Clara mulai menyadari ada yang salah, terutama saat sang kekasih habis minum-minum.

“Dia selalu berasumsi aku selingkuh, terus dia mulai nampar,” ucap Clara. “Dia kerja itu bisa sampai malam, biasanya aku tidur duluan, terus dia telpon, ‘Kamu di mana? gua tahu ada cowok di rumah lo, dasar jab***, per** lo!”

Manipulasi pelaku kekerasan untuk mempertahankan hubungan

Ketika mantan kekasihnya melayangkan tinju ke ulu hatinya, Clara bertekad untuk mengakhiri hubungan mereka. Itu kedua kalinya Clara dihajar, dan semakin parah setiap kalinya. Lalu apa yang terjadi? Lelaki itu berkali-kali mendatangi rumahnya dan memelas minta maaf, ia berjanji tak akan mengulanginya lagi.

“Dia bilang mau berubah, perjanjiannya emang gak minum,” ucap Clara. Hubungan mereka berlanjut, dan setiap hari seperti di kantor polisi bagi Clara. Mantan kekasihnya selalu mencurigainya berselingkuh tanpa sebab. Lelaki itu berdalih, “Aku harus selalu bikin kamu insecure Clar, biar kamu tambah sayang sama aku.” 

Janji tinggallah janji. Bau alkohol terus menyeruak dari mulut mantan kekasihnya, dan Clara selalu berakhir jadi samsak tinju. Berkali-kali juga setelahnya lelaki itu tampak sangat menyesal seperti pendosa putus asa yang mengharap ampunan.

“Kenapa sih aku selalu maafin gitu, karena dia selalu ngancam mau bunuh diri,” ucap Clara. “Gimana ya, sebagai perempuan, orang yang kamu sayang mau bunuh diri, aku juga gak tega.”

Clara Tan menceritakan pengalaman kekerasan yang ia alami. (ERA/Ilham Apriyanto)

 

Pola yang dialami Clara persis seperti yang dijelaskan oleh Psikolog Denrich Suryadi. “Dia mengancam bunuh diri sehingga menciptakan rasa bersalah pada diri kita, atau bahkan mungkin dia mengancam untuk menyakiti kita, menyakiti orang-orang terdekat kita, sehingga kita jadi merasa makin tidak berdaya,” ucap Denrich.

Ia melanjutkan, “Orang-orang yang punya masalah dengan rasa tidak percaya diri akan semakin tertindas, dan justru di situlah letak keberhasilan seorang pelaku kekerasan, karena mereka akan semakin merasa mereka berhasil mendominasi.”

Melanjutkan hidup dan keluar dari toxic relationship

Menurut Denrich, setiap relasi adalah tanggung jawab berdua, bukan sebelah pihak. “Ketika kita sadar bahwa relasi itu adalah tanggung jawab berdua, dan ketika salah satunya punya masalah dan tidak berubah, maka kita sendiri yang harus keluar,” tandasnya.

Clara pada akhirnya membulatkan tekad untuk benar-benar keluar dari hubungan itu, setelah rambutnya dijambak dan kepalanya dihantam ke kaca. Bingkai kaca yang retak di atas toilet duduknya menyadarkan Clara bahwa ia berhadapan dengan seekor kalajengking yang tak mungkin berubah. 

“Kenapa aku mikirin dia takut mati kalau dia aja gak pernah mikirin aku bisa mati,” ucap Clara lirih. Ia lalu memberanikan diri untuk membagikan ceritanya di media sosial, yang segera disambut berbagai dukungan dari orang-orang yang ia kenal maupun tidak.

Clara Tan menunjukkan postingannya saat speak up di media sosial. (ERA/Ilham Apriyanto)

 

Tak lama berlalu, empat perempuan yang pernah berpacaran dengan mantan kekasihnya ikut mengirim pesan di dm-nya. Mereka berbagi kisah yang sama, bagaimana mereka dihabisi oleh lelaki yang mengaku punya banyak kenalan orang besar itu. 

Clara mengaku sempat terpikir untuk kembali ke pelukan mantan kekasihnya. Namun, sebuah pesan mengingatkannya bahwa jalan yang ia tempuh sudah benar. “Ada satu kalimat dari mantannya yang bikin aku harus maju: terima kasih ya Clar, kamu itu adalah jawaban dari semua doa-doa mantannya dia.”

Clara Tan hanya satu dari sekian banyak perempuan yang mengalami kekerasan serupa. Korban dari kekerasan memang tak pandang jenis kelamin. Namun, perempuan selalu lebih akrab mengalaminya. Dalam laman Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), sejak Januari 2022 ada 18.382 kasus kekerasan yang terdata, dan lebih dari 90% korbannya adalah perempuan.

“Cukup banyak faktor yang bisa membuat orang jadinya memaafkan. Yang pasti pertama adalah rasa sayang, rasa cinta,” ujar Denrich menerangkan mengapa seseorang sulit keluar dari toxic relationship. “Kemudian masalah insecure, kalau saya bersama dengan orang lain apakah ada yang mau menerima saya seperti dia? Pikiran seperti itu.”

Sebelum mengakhiri wawancara kami, Clara Tan berpesan kepada seluruh perempuan di luar sana yang tenggelam dalam hubungan beracun dan mengalami kekerasan sepertinya. “Keluar. Susah aku tahu. Keluar.”

“Ada dua pikiran yang paling common di orang yang terjebak toxic relationship. Pertama, dia udah janji, pasti akan berubah. Percaya, dia gak akan pernah berubah,” ujar Clara. “Kedua, nanti kalau dia berubah tapi sama cewek lain gimana? Enak banget cewek lain dapat bagusnya, gua dapat jeleknya. Percaya deh, itu cewek bakal ngerasain apa yang kamu rasain.”

Rekomendasi