Melakoni Profesi sebagai Caddy Golf, Bukan Sekadar Pekerjaan "Happy-Happy"

| 14 Nov 2022 16:50
Ilustrasi. (ERA/Nisa Rahma Tanjung)

"Capeknya jadi caddy kerja tuh kayak 24 jam," ucapnya lirih. "Kadang aku tuh mikir gini, ada nggak sih sehari itu minimal dapet Rp200 ribu, selain kerja caddy?" Rina kerap berandai keluar dari lapangan golf dan mencari sumber penghidupan lain, tetapi apa?

ERA.id - Usia Rina baru 19 tahun, tak sempat kuliah, dan memutuskan untuk meniti karier sebagai caddy golf profesional. Ketika ditemui ERA Juni lalu, sudah genap setahun ia menjalani profesi itu. Ia mengantarkan kami mengelilingi lapangan golf dengan buggy car seperti sedang menemani tamu-tamu biasanya. Sambil sesekali menerangkan denah lapangan dan tugas seorang caddy, ia menjawab beberapa pertanyaan yang membuat kami penasaran selama ini.

Tak banyak yang tahu pekerjaan Rina sebagai caddy, hanya sedikit dari keluarganya, termasuk kedua orang tuanya yang selalu mendukung keputusan sang anak. "Karena caddy tuh dipandang sebelah mata, kalau ada yang nanya kerjanya apa, aku bilangnya nggak caddy, tapi SPG make up," ujar Rina bernada sendu. "Ngehindarin buat omongan-omongan tetangga aja."

Selama jadi caddy, Rina punya jam kerja yang tak menentu. Sehari paling cepat ia bisa pulang setelah empat jam menemani satu sesi golf, paling lama ia bisa bertahan di lapangan golf nyaris setengah hari. Dalam seminggu, jatahnya libur hanya di hari Jumat. Pada hari itu, ia bisa pulang ke rumah orang tuanya, atau mengendap seharian di kamar kosnya seorang diri, merebahkan badannya yang remuk redam setelah seminggu terbakar sinar matahari.

Rina mengajak ERA berkeliling lapangan golf memakai buggy car. (ERA/Aviv)

 

"Capeknya jadi caddy kerja tuh kayak 24 jam," ucapnya lirih. "Kadang aku tuh mikir gini, ada nggak sih sehari itu minimal dapet Rp200 ribu selain kerja caddy?" Rina kerap berandai keluar dari lapangan golf dan mencari sumber penghidupan lain, tetapi apa? Ia bekerja profesional dan menikmati yang ia lakukan sekarang, hanya saja banyak orang enggan mengerti, dan caddy golf terlanjur dilumuri stigma negatif layaknya perempuan panggilan.

Caddy bukan sekadar penghibur dan pendamping pemain golf

Awalnya Rina diperkenalkan dunia caddy dari seorang temannya yang sudah lebih dulu terjun ke sana. Sebuah lapangan golf di bilangan Jakarta Pusat sedang mencari tambahan caddy: perempuan dengan tinggi minimal 158 cm, berat badan proporsional, dan penampilan menarik. Rina memenuhi semua kriteria itu. Ia juga tertarik dengan cerita penghasilan caddy yang bisa mencapai belasan juta per bulan.

"Masuk training dulu, baru trial. Trial itu kita udah nyoba-nyoba jadi caddy, nanti kita diinterviu ulang, kalau nggak bisa jawab, balik training lagi,” jelas Rina. 

Masa training-nya sama seperti kebanyakan probation di kantor-kantor lain, tiga bulan. Setelah itu Rina mulai diuji coba jadi caddy dan lulus tahap trial setelah dua minggu. Itu termasuk cepat. Ada sekitar tiga puluh perempuan lain yang seangkatan dengan Rina, sebagiannya harus mengulang masa training berbulan-bulan karena belum menguasai dasar-dasar permainan golf.

"Orang mikirnya kerjaan caddy cuma happy-happy, nemenin tamu. Padahal kan enggak," ucap Rina mengeluhkan orang-orang yang menilai caddy hanya sekilas pandang. "Kalau hujan kehujanan, panas kepanasan. Capek."

Rina membawakan tas golf punya tamunya ke atas buggy car. (ERA/Aviv)

 

Sebagai caddy ia dituntut untuk mengerti golf luar-dalam. Ia harus paham tentang macam-macam stik golf dan penggunaannya, mengetahui local rule lapangan, pandai membaca green golf atau membayangkan ke mana bola akan bergulir setelah dipukul, mencermati arah dan kecepatan angin berembus, hingga memahami emosi pemain. Yang terakhir itu Rina kerap kali harus menyisihkan egonya sendiri agar permainan terus berjalan.

Bukan sekali-dua kali Rina menghadapi pemain golf yang membawa problematika hidupnya ke lapangan. Kalau sudah begitu, ia harus siap jadi samsak luapan emosi mereka. "Mereka abis kerja, pusing, terus main golf, ngelampiasinnya ke caddy," Rina bercerita. "Kayak bolanya ilang nyalahin caddy, marah-marah nggak jelas, ada yang banting stik."

Kupingnya juga sudah kebal dengan omelan dan bentakan pemain. "Paling udah selesai main baru nangis. Kalau pas main gitu enggak nangis, kan lagi kerja harus profesional." Baginya, seorang caddy harus mengerti pemain, meski harus mengorbankan perasaannya sendiri. "Jangan kita yang mau dimengerti, jadi kita harus mengerti mereka gitu."

Selain kerap berjumpa dengan pemain emosian yang membawa segenap masalah hidup mereka, Rina juga sering mendapati perlakuan tidak sopan dari tamu-tamunya, mereka yang melihatnya bukan sebagai seorang caddy, tapi perempuan cantik yang bisa diajak menemani malam panjang di kamar hotel yang sepi.

"Cara nyikapinnya aku tolak dengan halus. Ada yang malu sendirinya, ada yang kayak marah-marah nggak jelas," ujar Rina. 

Di lapangan golf, ia bisa bertemu dengan siapa saja, entah itu pejabat-pejabat tinggi, pengusaha papan atas, hingga sejumlah politisi. Namun, ia selalu berharap tak pernah bertemu dengan laki-laki celaka yang tak becus bermain, dan malah sibuk menggoda caddy yang keringatnya nyaris tak pernah kering sepanjang menyusuri lapangan.

Alasan untuk tetap bertahan menjadi caddy

Rina mengakui profesinya menjanjikan kehidupan yang mapan dan karena alasan itulah ia bangun setiap pagi menuju lapangan golf. Dari kamar kosnya, ia harus berangkat sebelum pukul tujuh dan terkadang baru pulang menjelang malam. Gelap ketemu gelap.

Tak seperti rata-rata profesi lain yang digaji bulanan, sebagai caddy Rina dibayar per hari. "Rata-rata aku dapat 400 ribu," ucapnya. Di samping gaji harian, ia juga mendapat tambahan uang dari tip yang diberikan para tamu selepas bermain. "Tip juga kadang gede kadang kecil. Rejeki-rejekian ya. Aku sih paling gede pernah dapet sejuta lebih."

Setelah ia hitung-hitung, dalam sebulan ia bisa mengumpulkan uang sekitar Rp11 juta, jumlah yang cukup fantastis dan sangat berlebih bagi perempuan yang belum genap berusia 20 tahun sepertinya. Sebagian penghasilannya lalu ia tabung dan kirimkan ke orang tuanya di rumah.

Rina di kamar kosnya bersiap untuk berangkat ke lapangan golf. (ERA/Aviv)

 

Sejak Rina langsung terjun ke lapangan golf selulusnya SMA, otomatis ia merasa tak cukup punya pengalaman kerja untuk keluar dari dunia caddy. Dan sejak ia mendapatkan penghasilan sebesar itu dari pekerjaan pertamanya, sulit rasanya Rina untuk mencari pekerjaan lain dengan gaji sepadan.

Meski mengaku menikmati pekerjaannya sekarang dan berkawan baik dengan teman-teman caddy seperjuangannya, Rina terkadang ingin mencoba profesi lain di luar sana, profesi yang tak perlu ia tutup-tutupi dan bisa ia banggakan setiap kumpul keluarga besar. Saat ini, ia hanya terus berdoa agar orang-orang lebih memahami profesi caddy lebih dekat dan dalam, bahwa sama seperti pekerja lainnya, ia bekerja secara profesional. 

Ketika ditanya adakah pesan yang ingin ia sampaikan sebelum kami pamit, Rina menatap lurus ke kamera tanpa ragu. "Buat kalian yang masih nyinyir profesi aku, aku jadi caddy nggak semudah yang kalian omong, dan aku juga ngelaluin masa-masa sulit." Saat kami pulang, Rina masih bertahan di lapangan, melanjutkan kerja profesionalnya menuntun para pemain golf untuk memasukkan bola ke hole dengan presisi.

Rekomendasi