Semata Wayang Film Lokal di TIFF 2018

Tim Editor

Cuplikan film

Jakarta, era.id - "Ballad of Blood and Two White Buckets" berhasil menembus Toronto International Film Festival (TIFF) 2018. Istimewa banget nih, friends. Selain memang festivalnya yang bergengsi banget, film pendek berdurasi 15 menit karya sutradara muda, Yosep Anggi Noen ini jadi satu-satunya film lokal yang diputar di TIFF tahun ini.

Ballad of Blood and Two White Buckets berhasil lolos seleksi TIFF dan siap berkompetisi dengan 35 film pendek lain dari berbagai belahan dunia. Ballad of Blood and Two White Buckets bercerita tentang kisah Ning (Ruth Martini) dan Mur (Muhammad Abe), suami-istri yang bertahan hidup dengan berjualan saren.

Saren atau yang biasa dikenal dengan marus adalah makanan yang berasal dari darah binatang yang disembelih, yang kemudian dibekukan dengan cara dikukus. Nah, di situ lah letak konflik dari film ini.

Di satu sisi, banyak orang yang menganggap saren sebagai makanan haram. Namun, di sisi lain, saren diketahui mengandung kadar protein yang tinggi. Selain perdebatan ilmiah, tentu saja Anggi Noen mengangkat konflik sudut pandang antara 'haramnya' saren --secara religius-- dengan naluri bertahan hidup Ning dan Mur.

Film ini nampak sangat menjanjikan. Dalam karyanya kali ini, Anggi Noen kembali bekerja sama dengan Yulia Evina Bhara yang berperan sebagai produser. Kalau kamu belum tahu, sinergi dua orang ini lah yang melahirkan Istirahatlah Kata-kata yang langsung memenangi Golden Hanoman Award dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festifal (JAFF) 2016 dan menjadi objek penelitian dalam skripsi saya (he he).

Ballad of blood and two white buckets


Selain Yulia, Amerta Kusuma, produser film On The Origin of Fear juga terlibat dalam produksi Ballad of Blood and Two White Buckets. Lewat On The Origin of Fear, Amerta sudah lebih dulu menyentuh panggung TIFF pada tahun 2016.

Untuk dapur masaknya, Ballad of Blood and Two White Buckets menggunakan jasa tenaga-tenaga kreatif dari rumah produksi KawanKawan Media, yang berkolaborasi LimaEnam Films dan AfterTake Post Production.

Penasaran? Sama! Coba, kita lihat trailernya dulu di bawah:
 


Tentang TIFF

TIFF adalah salah satu festival film tertua di dunia. Perhelatan TIFF tahun ini jadi seri yang ke-43, setelah pertama kali dihelat pada 1976. Diselenggarakan di Toronto, Ontario, Kanada, TIFF 2018 pasang layar selama sepuluh hari, mulai 6 hingga 16 September. 

Penyelenggaraan TIFF merupakan sebuah dedikasi yang dipersembahkan buat seluruh sineas dunia. TIFF berkomitmen untuk memicu kelahiran kreator-kreator film baru dengan alternatif kisah dan inovasi-inovasi dalam penggarapan produksi film tanpa batasan umur.


Baca Juga : Resensi Film - Buffalo Boys: Lengkap Meski Tak Sempurna


Dalam beberapa tahun belakangan, TIFF sebenarnya seperti rumah buat film-film Indonesia. Tahun 2015, ada Copy of My Mind karya Joko Anwar dan Following Diana karya Kamila Andini.

Tahun lalu, The Seen and Unseen yang lagi-lagi karya Kamila Andini mentas di sana, bersama Marlina the Murderer in Four Acts karya Mouly Surya.

Jadi, dengan sepenuh hati: MAJU TERUS FILM INDONESIA! (Penulis: Mahesa ARK/era.id)

Tag: film indonesia hari film nasional 2018 ballad of blood and two white buckets

Bagikan: