Menyusuri Jejak Pembantaian VOC di 'Jacatra Weg'

Tim Editor

Jalan Pangeran Jayakarta (Merry Handayani (era.id)

Jakarta, era.id - Bila melintasi Jalan Pangeran Jayakarta, serasa menapak tilas sejarah Jakarta. Beberapa bangunan peninggalan Belanda seperti Gereja Portugis atau Gereja Sion yang berdiri sejak tahun 1695, Stasiun Jakarta Kota yang mulai beroprasi tahun 1887, dan Masjid Jayakarta yang dibangun tahun 1620.

Namun siapa sangka jika jalan yang dulunya bernama Jacatra Weg atau Weg van Jacatra menjadi saksi bisu kekejaman pemerintah kolonial Belanda. alkisah, seorang Tuan Tanah bernama Pieter Erberveld dituduh melakukan pemberontakan dan ingin menguasai Batavia. Pada tahun 1721, VOC menangkap Pieter Erberveld dan seorang pribumi bernama Raden Ateng Kertadrya beserta gerombolannya atas tuduhan hendak membunuh orang-orang kulit putih dan rencana makar. Kemudian Pieter Erbelveld dieksekusi dengan sangat kejam, tubuhnya ditarik dengan arah berlawanan oleh 4 ekor kuda sehingga tercerai berai. Kepala Pieter kemudian dipenggal dan ditancapkan tombak.

Sebuah monumen tengkorak tertancap tombak didirikan diatas makam Pieter Erbelveld oleh VOC lengkap dengan prasasti ancaman bagi pemberontak. Salah seorang petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCP) Banten, Tasum mengungkapkan ia pernah melihat langsung monumen itu. 


Makam Pieter Erbelveld (Dok. Tropenmuseum)


"Dulu saya belum tahu apa-apa. Cuma saya lihat sendiri pasung kepala orang. Saya pikir awalnya semen, tapi ketika didekati saya melihat ini kepala orang asli," jelasnya kepada era.id, di Jakarta, Sabtu (5/10/2019).

Tempat pembantaian itu, kini sudah menjadi dealer mobil di Jalan Pangeran Jayakarta. Tepat dibawah gedung itu, tersimpan cerita mengerikan tersebut. Kini prasasti yang berupa replika kepala tengkorak manusia bisa dilihat di Museum Prasasti di Tanah Abang. "Tapi sekarang sudah enggak ada. Sudah dipindah ke Taman Makam Prasasati Tanah Abang,” sambungnya.


Peta Jacatra Weg (Dok. Tropenmuseum)

Selain eksekusi mati Pieter Erberveld dan kawan-kawannya, terjadi pula pembantaian etnis Tionghoa oleh VOC sekitar tahun 1740. VOC membantai lebih dari 10.000 warga Tionghoa karena populasi mereka sudah begit besar. Sekarang Jacatra Weg sudah bergani nama menjadi Pangeran Jayakarta yang diambil dari nama penguasa kota pelabuhan Jayakarta tahun 1600-an dari Kesultanan Banten.
 

Tag: wisata sejarah

Bagikan: