Menyelami Dunia Pastry lewat 'Tarian' Tangan Chef Erica Mulyono

Tim Editor

Erica Mulyono (Istimewa)

Jakarta, era.id - Erica Mulyono atau yang akrab disapa Erica adalah seorang chef pastry di Keraton at The Plaza Hotel, Jakarta. Erica bilang, chef pastry adalah passionnya meski dia bercerita pernah ingin menjadi balerina saat kecil.

Erica yang juga hobi menari ini bilang, ketika lulus SMA dirinya sempat masuk ke sekolah teater. Hanya saja, seiring berjalannya waktu dia merasa yakin jika dia lebih tertarik menjadi seorah juru masak terutama memasak berbagai kue.

"Justru dari umur 5 tahun itu aku sudah les balet, but in the middle way aku find out, i like doing pastry thing," kata Erica saat dihubungi beberapa waktu lalu oleh era.id, Senin (21/10/2019).

Apalagi, dara berusia 24 tahun ini bilang, dia terinspirasi untuk mulai gemar memasak semenjak sering melakukannya bersama sang ibunda. Hanya saja, Erica mengaku ibunya tak ahli dalam memasak kue. "Orang tuaku suka masak. Tapi mamiku malah enggak bisa bikin kue, jadi aku saja yang bikin kue," ujar dia.

Selain karena gemar memasak dengan sang ibunda, ketika sekolah menengah, dia memilih menempuh pendidikan SMK dengan jurusan Tata Boga. Kemudian, setelah lulus dia juga mengambil kursus di Indonesia Pattiserie School. Menurut dia, belajar dengan sistem praktik seperti yang ia lakukan dulu lebih cepat diterima.

"Jadi dari dulu aku tuh, kayak pelajaran yang teori gitu enggak suka. Sukanya yang praktik. Jadi lebih milih ambil kursus dan aku fokusin khusus pastry," ungkapnya.

Tak hanya kursus, dia Erica juga kerap melakukan internship atau magang diberbagai tempat. Dia juga telah mengenyam pengalaman bekerja di salah satu hotel di luar negeri, tepatnya di Dubai.

Bahkan, untuk menambah kemampuannya, wanita yang juga penikmat seni ini juga pernah belajar langsung dari salah seorang Chef Pastry terkenal Nina Tarasova.

"Satu dari chef pastry-ku, Nina Tarasova itu buka kursus. Jadi aku lebih suka ke kursus daripada kuliah. Karena praktek, tuh, lebih cepat nangkapnya daripada kita baca dan jadinya kita ikut kursus barengan pastry chef lain," jelasnya.

Sebagai wanita, Erica tak merasa minder dengan banyaknya laki-laki yang bekerja sebagai chef di hotel. Bahkan, sebagai wanita dia mengaku punya keuntungan lebih saat menjalankan hobi sekaligus pekerjaannya sebagai chef pastry.

"Kalau pastry perempuan kan bikinnya lebih pakai hati. Kalau cowok kan, ya, lebih pakai otak padahal pastry kan perlu pake hati. Sentuhan perasaan," katanya sambil tertawa.

Selain menjadi chef, kini dia sangat ingin membuat konten masak di YouTube seperti beberapa seleb-chef yang sudah lebih dulu membuat konten semacam itu hanya saja dia masih belum punya waktu untuk melakukan itu. Apalagi, saat ini pekerjaannya sudah sangat padat.

"To be honest aku pengin banget bikin (konten masak di YouTube) tapi aku kan sudah back to kitchen lagi, cooking. Jadi waktunya kayak sempit banget," ujar dia.

"Jadi buat konten tuh masih dipikirin lagi. Cuma, I like to share what I have," imbuhnya.


Erica Mulyono (Istimewa)


Melakukan kreativitas mengelola makanan berlebih

Erica mengaku selama menjadi chef pastry dirinya selalu melakukan kreativitas agar tak ada bahan makanan yang terbuang.

Sebab, setiap ada makanan yang terbuang maka akan menimbulkan kerugian. Adapun bahan makanan yang kata dia, seringkali terbuang jika tak pandai memanfaatkannya adalah buah-buahan.

"Semisalnya nih, strawberry. Kan aku di bagian pastry nih, terus misalnya ada strawberry yang kurang bagus, enggak boleh kita buang tapi kita blender, bikin puree, dan kita kasih sugar jadi dia lebih awet," ungkap dia.

Selain puree buah, kata dia, whipped cream yang biasanya hanya punya satu rasa bisa dicampur dengan buah-buahan sehingga ada beragam rasa.

"Misalnya ada leftover whipped cream ... Nah, kita bisa kreatif membuat agar rasanya jadi banyak, lima rasa," kata Erica.

Selain itu, sebagai chef pastry dia juga harus teliti menghitung jumlah okupansi yang ada di hotel tempatnya bekerja. Tujuannya, agar mengurangi makanan yang tidak termakan dan malah membuang-buang bahan makanan.

"Kebijakan kita itu adalah kita lihat, hotel kita tingkat occupancynya gimana? Kalau misalnya ramai, ya kita buatnya banyak. Tapi kalau kurang ramai, bikinnya lebih dikit karena foodwaste itu foodcost juga kan," tutupnya.

Tag: wawancara khusus

Bagikan:


REKOMENDASI