Gara-Gara Pandemi, 4 Juta Dara Terancam Pernikahan Dini

Tim Editor

Ilustrasi (Unsplash/Simon Maage)

Jakarta, era.id - Empat juta dara di dunia berisiko mengalami pernikahan dini hingga dua tahun ke depan karena pandemi COVID-19 kian merebak. Lembaga badan amal World Vision mengatakan pandemi berimbas pada ekonomi yang mengalami penurunan cukup drastis. Maka dari itu, para orangtua akan mencari solusi dengan menikahkan anak perempuan mereka untuk mengurangi beban hidup.

World Vision merilis bahwa pendalaman kemiskinan disebabkan karena hilangnya mata pencaharian yang memungkinkan akan terjadi dorongan banyak keluarga untuk menikahkan anak perempuannya lebih awal.

"Ketika kamu mengalami krisis seperti konflik, bencana atau pandemi. Tingkat pernikahan anak menjadi naik. Jika kita tidak mulai memikirkan bagaimana cara mencegahnya sekarang, maka sudah terlambat. Kita tidak bisa menunggu pandemi ini berlalu lebih dahulu," kata pakar pernikahan anak World Vision, Erica Hall yang dikutip dari Reuters, Jumat (15/5/2020).

Para aktivis mengatakan risiko pernikahan dini mengalami lonjakan dengan ditutupnya sekolah. Organisasi yang melawan pernikahan dini ini merasakan kesulitan beroperasi selama lockdown. Pandemi juga mempersulit anak perempuan untuk mengakses layanan kesehatan reproduksi yang dapat meningkatkan kehamilan para gadis karena mendapatkan tekanan untuk menikah. Secara global, sekitar 12 juta gadis menikah di bawah usia 18 tahun setiap tahun, dan hampir satu gadis dalam tiga detik.



Laporan bulan lalu memprediksi pandemi dapat menyebabkan 13 juta pernikahan dini. LSM yang melawan pernikahan dini, Girls Not Bride mengatakan para anggota sangat khawatir melihat kelajuan jumlah pernikahan anak perempuan.

"Orang-orang di lapangan mengatakan ini terlihat buruk. Kemungkinan kami akan melihat sejumlah pernikahan anak yang akan terjadi," ujar CEO Girls Not Brides, Faith Mwangi-Powell.

"Ini adalah sesuatu yang saya dengar dari India, Afrika, Amerika Latin. Beberapa mengatakan pandemi bisa menyia-nyiakan pekerjaan yang telah kami lakukan selama puluhan tahun untuk mengurangi pernikahan anak," lanjutnya.

Dia mengatakan bahwa penutupan sekolah adalah perhatian khusus.

"Sekolah melindungi anak gadis. Ketika sekolah ditutup, maka risiko pernikahan dini jadi sangat tinggi," kata Mwangi-Powell.

"Bahkan pasca COVID-19, kemungkinan banyak gadis tidak akan kembali ke sekolah. Kami perlu memastikan mereka tetap lanjut sekolah." tutupnya.

Tag: era-nya nikah milenial

Bagikan: