Mengetuk Pasar Lokal untuk Produk Daur Ulang Sampah Lokal

Tim Editor

Para relawan di yayasan XSProject dalam sebuah kegiatan. (Foto: XSProject/Instagram)

ERA.id - Proyek sosial XSProject selama 16 tahun telah mendaur-ulang sampah di Indonesia, yang adalah negara 'penyampah' terburuk dunia setelah China. Namun, bukannya diakui di pasar lokal, totebag dan tas laptop warna-warni dari sampah hasil pungutan di jalanan Jakarta ini malah lebih diapresiasi oleh klien internasional atau kalangan ekspatriat Ibu kota.

Dalam sebuah laporan yang dibuat Channel News Asia (27/12/2020), Retno Hapsari, general manager XSProject, mengatakan bahwa proyek sosial yang ia kelola ini merupakan bentuk pemberdayaan komunitas yang berusaha "mengurangi jumlah sampah dan membantu hidup kaum pemulung."

"Ada jenis sampah, misalnya kemasan multilayer, yang tak bisa mereka jual ke pabrik daur-ulang. Lalu, kami meminta mereka untuk membawa sampah kemasan tersebut ke kami. Kami membersihkannya dan menjadikannya suatu produk. Dari sini, kami berharap bisa mengurangi jenis sampah seperti itu dan memberi pemasukan tambahan kepada para pemulung," jelas Retno.

Produk-produk unggulan XSProject mencakup tote bag aneka warna yang dibuat dari kemasan sabun dan deterjen. Mereka juga membuat masker, tatakan gelas, celemek, keranjang, hingga dompet. Kelompok ini sanggup memproduksi 3.000 item produk setiap bulannya.

Mereka bahkan mampu melayani pembuatan kantung gitar hingga kantung stik golf sesuai pesanan.

"Kami terus mencari jenis sampah apa saja yang ada di luar sana. Kami tidak membatasi kerja kami pada satu jenis sampah tertentu," kata dia, dikutip CNA.

Tak Diperhatikan Pasar Lokal

Didirikan oleh seorang ekspatriat bernama Ann Wizer pada tahun 2004, XSProject telah berubah dari yayasan biasa menjadi memiliki sebuah lini bisnis. XSProject kini mendapat laba antara Rp495,3 juta hingga Rp990,5 juta per bulan. Keuntungan itu akan kembali ke yayasan yang kemudian menggunakannya dalam karya amal atau untuk membayar pendidikan para pemulung dan anggota keluarga mereka.

Hapsari mengakui bahwa XSProject bukanlah yang pertama mendaur-ulang sampah Ibu kota menjadi barang bernilai jual. Namun, di antara kelompok pendaur ulang itu, jarang yang memiliki rencana bisnis matang seperti XSProject. "Mereka tidak tahu cara memasarkan produk mereka," kata dia.

XSProject sukses karena bisa mengakses komunitas ekspat di Jakarta, terutama lewat kenalan sang pendiri yayasan. Bahkan, menurut Hapsari, 95 persen pembeli produk mereka adalah para ekspat, "karena mereka lebih menghargai misi kami."

Sebagai negara yang memproduksi 85.000 ton sampah tiap tahunnya, Indonesia merupakan produsen sampah terbesar di dunia setelah China, dan ini tentu saja menjadi masalah pertama-tama oleh produsen kemasan plastik tersebut. Hapsari mengatakan bahwa logo merek yang bertanggung-jawab memproduksi kemasan itu biasanya ditampilkan secara jelas di produk buatan XSProject, sebagai desakan ke perusahaan terkait agar mencari alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Namun, sejauh ini hal tersebut, menurut Hapsari, kurang menjadi perhatian pasar lokal.

Namun, ia berharap bahwa kondisi bakal berubah. Itulah kenapa XSProject saat ini bekerja sama dengan beberapa sekolah untuk mengajarkan ke para murid soal apa pentingnya mengurangi dan mendaur-ulang sampah. Murid-murid pun diajak untuk ikut menjual produk, yang keuntungannya akan didonasikan ke yayasan tersebut.

"Satu sekolah bahkan menyediakan ke para muridnya tas laptop yang mereka beli dari kami. Dengan begitu, para murid sadar bahwa kita bisa 'menghidupkan' kembali sampah yang telah kita buang dan anggap remeh," kata Hapsari.

"Saya sadar bahwa yang kami lakukan ini cuma setetes air di tengah samudera luas. Tapi, kan, kami harus melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah sampah kita. Kita harus memulai. Jika kita melakukan peran kita masing-masing, kita bisa bisa berbuat banyak hal."

Tag: sampah sampah plastik

Bagikan: