ERA.id - Anak politisi Amien Rais, Hanum Rais, menyindir musisi sekaligus dokter bedah, Tompi, yang membela Wakil Presiden Gibran Rakabuming dalam kasus candaan mata mengantuk yang diutarakan komika Pandji Pragiwaksono.
Hanum menilai penyakit Ptosis yang dialamatkan ke Gibran itu salah alamat, karena dalam jurnal yang dibacanya, Ptosis itu merupakan penyakit kelopak mata terkulai yang disebabkan penggunaan zat-zat psikoaktif tertentu.
"Tuh ada lagi, kali ini diterbitkan oleh Taylor and Francis yg biasa menerbitkan artikel ilmiah /jurnal terindeks SCOPUS Q1 berjudul: PTOSIS in an IV drug User," tulis Hanum dalam akun X yang dilihat ERA, Kamis (8/1/2026).
"Saya cuma mau bilang, bahwa jaman sekarang kita harus lebih kritis, tidak ngasal percaya, sama rezim kalimat yang dikeluarkan oleh dokter. Apalagi dokter yang keluar masuk istana, bukan keluar masuk rumah sakit," bebernya.
Selain Hanum banyak juga akun yang menyoal klaim Tompi. Banyak yang mempertanyakan bagaimana mungkin Tompi langsung mengklaim bahwa mata ngantuk yang khas dari Gibran sudah pasti Ptosis. Sembari meragukan klaim itu, dibagikan pula rujukan ilmiah tentang penyakit tersebut yang berbeda dari klaim Tompi.
Sebelumnya Tompi menyayangkan kritik Pandji yang dianggap menyerang fisik Gibran. Ia menilai kritik seharusnya diutarakan pada kinerja atau kebijakan seseorang, bukan pada penampilan fisiknya.
Tompi yang berprofesi sebagai dokter bedah plastik itu menjelaskan bahwa penampilan mata mengantuk yang dimiliki Gibran merupakan kondisi anatomis yang bersifat bawaan sejak lahir dan memiliki istilah medis disebut ptosis.
Orang dengan kondisi mata ptosis, kata Tompi, memiliki kelopak mata yang turun ke bawah, sehingga menyebabkan penglihatan orang tersebut tidak maksimal.
"Ptosis itu otot levator (kelopak mata) kepanjangan turun ke bawah, jadi mata dia tertutup, bukaan matanya tidak maksimal. Pada orang dewasa yang kasus seperti Pak Gibran, Pak Wapres, itu kondisi ptosisnya tidak terlalu berat," kata Tompi.